Rojo Koyo Rojo Pati, 100 x 125 cm, AOC, 2018, karya Suryo Wae-Foto-A.Sartono
Rojo Koyo Rojo Pati, 100 x 125 cm, AOC, 2018, karya Suryo Wae-Foto-A.Sartono

Sebanyak 15 perupa yang tergabung dalam Komunitas Seni Rupa Satu Atap menyelenggarakan pameran dengan tema “Instink” di Bentara Budaya Yogyakarta, 23-30 Juni 2018. Pameran dibuka oleh perupa kenamaan, Nasirun. Komunitas Satu Atap didirikan tahun 2011 di Cabakan, Mlati, Sleman, Yogyakarta.

Makna dari Satu Atap kurang lebih adalah maju bersama dengan dilandasi saling percaya, kekeluargaan, kekompakan lahir dan batin untuk mengedepankan kedisiplinan. Anggota komunitas ini terdiri dari berbagai disiplin, artinya tidak semua anggota berasal dari sekolah seni rupa, namun semuanya dapat bersinergi secara dinamis. Semangat marginal yang berada di luar akademisi melahirkan karya apa adanya.

Berburu Rumput, 100 x 150 cm, AOC, 2018, karya Reza D Pahlevi-Foto-A.Sartono
Berburu Rumput, 100 x 150 cm, AOC, 2018, karya Reza D Pahlevi-Foto-A.Sartono

Instink yang diusung Komunitas Seni Rupa Satu Atap pada pameran ini berpijak pada gagasan menyandingkan pemahaman tentang manusia dan binatang, mengerucut pada sifat yang menyerupai dan sekaligus membedakannya. Jika tempat binatang di masyarakat kita bertumpu pada fondasi budaya leluhur tentang ketidaksetaraan dan dominasi manusia, pada realitasnya seringkali juga menunjukkan bagaimana manusia sendiri berperilaku layaknya binatang itu sendiri.

Pameran ini menampilkan potret tingkah polah manusia dalam upaya menyusun kuasa di mana korbannya adalah sesama manusia. Kritik satire dimunculkan dalam serangkaian simbolisasi manusia, binatang, ekspresi-ekspresi personal sebagai ungkapan pembacaan akan fenomena. Praktik abstraksi digunakan sebagai mode penciptaan artistik oleh para seniman. Abstraksi dalam ranah menyusun gagasan, bukan semata-mata dalam wujud kekaryaan.

Bercanda, 90 x 120 cm, AOC, 2017, karya Godek Mintorogo-Foto-A.Sartono
Bercanda, 90 x 120 cm, AOC, 2017, karya Godek Mintorogo-Foto-A.Sartono

Hal ini terkait gagasan “Instink” menyoal pada kesadaran dan ketidaksadaran yang mesti disisir dalam kepekaan-kepekaan melihat realitas, intuisi dalam membentuk ketepatan pembacaan, dan sensibilitas yang menyeimbangkan sensasi-sensasi yang hadir bertubi dalam keseharian saat ini.

Tidak selalu mudah menjadi manusia. Jika condong ke kiri dianggap komunis. Condong ke kanan dianggap kapitalis. Di tengah-tengah dianggap liberalis. Jadi orang kaya diiri, jadi orang miskin diejeki. Terlalu kritis dianggap vokal. Jika diam dianggap apatis. Menjadi manusia itu susah. Demikian Hendra Himawan selaku kurator dalam pameran ini menyampaikan sambutannya.

Kamuflase, 140 x 120 cm, AOC, 2018, karya Putut Puspito Edi-Foto-A.Sartono
Kamuflase, 140 x 120 cm, AOC, 2018, karya Putut Puspito Edi-Foto-A.Sartono

Sekalipun demikian, pameran ini hendak berbicara tentang manusia tanpa membabi buta. Berjalan pada ikhtiar bahwa kita harus bebas dari segala kekhawatiran dan rasa berdosa serta senantiasa mencintai kehidupan. Dengan mencintai berarti kita berani menanggung kenyataan bahwa definisi tentang manusia tak pernah tuntas, bukanlah sesuatu yang sudah selesai.

Instink menyisipkan pesan bahwa manusia hanyalah jembatan belaka antara binatang dan manusia yang sesungguhnya (manusia unggul). Kita akan senantiasa menghadapai segala bentuk ancaman dan bahaya yang datang tak menentu, tak pasti, terus-menerus. Maka manusia dapat memilih antara menjadi manusia unggul yang berani atau sebaliknya.

Kompetisi, 150 x 150 cm, AOC, 2017, karya Suryo Wae-Foto-A.Sartono
Kompetisi, 150 x 150 cm, AOC, 2017, karya Suryo Wae-Foto-A.Sartono

Seperti binatang, manusia dikaruniai naluri lahiriah yang bertumpu pada nafsu. Ini yang seringkali disebut sebagai sifat kebinatangan manusia. Hanya pada rasio dan akal budi, manusia mampu membawa dan melampaui keterbatasan dirinya, melampaui sifat kebinatangannya. Jika apa yang banyak digambarkan para seniman ini tentang tingkah kebinatangan manusia, arogansi dan sikap-sikap memakan sesamanya atas nama apa pun demi kepentingan apa pun, maka frasa yang tepat untuk membingkai serangkaian wacana artistik “Instink” ini adalah”: Tuhan telah Mati dan Kita Semua yang telah Membunuhnya. Demikian nukilan kurasi yang disampaikan Hendra Himawan atas pameran ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here