Pameran berdua umumnya sebatas memajang karya masing-masing. Berbeda dengan pameran ‘In Motion’ di Museum Tanah Dan Liat, Yogyakarta, yang merupakan proyek bersama Ronald Efendi dan Santi Ardi, ada proses bersama yang lebih intensif antara Ronald dan Santi, terlebih keduanya hidup bersama dalam keseharian.

Opee Wardany dari Gerimis Ungu Production, yang mengorganisasi pameran ini, melihat dalam pengerjaan karyanya, mereka berdua sudah melalui serangkaian dialog dengan berbagai tesis, antititesis, hingga menghasilkan suatu sintesis tanpa menghilangkan otoritas pribadi masing-masing. Ronald, kata Oppee, menghasilkan karya melalui akrilik yang ia tuangkan di atas kanvas setelah melalui perenungan panjang hingga menghasilkan sebuah lukisan abstrak. Sedangkan karya-karya Santi sebagian besar berupa kolase; memotong-motong dan menempelkan karyanya pada bidang kertas.

Ronald Efendi, 'Looking for Nothting'. Foto Barata
Ronald Efendi, ‘Looking for Nothting’. Foto Barata

Opee melihat adanya perbedaan metode kerja, penggunaan teknik, wujud karya, dan pencarian identitas masing-masing dari kedua perupa tersebut yang meski begitu masih disatukan dalam sebuah visi yang sama. Ronald mengolah gagasan hingga imajinasi visualnya terlebih dahulu, baru melukiskannya pada kanvas. Sedangkan Santi melukis kapan saja di kala kondisinya memungkinkan, lalu meletakkannya beberapa waktu dan kemudian meresponnya. Sering pula kertas-kertas yang telah digoresnya diremas dan dibuang ke suatu tempat, kemudian selang beberapa waktu ia ambil dan respon lagi dengan menambah goresan atau memotong-motong dan menempelkannya pada bidang kertas lain.

Ronald Efendi, 'Wanderlust'. Foto Barata
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Karya-karya Ronald, menurut Opee, memberikan kesan liar, menggelegak, dan berani. Hal ini tampak dari penggunaan warna-warna yang dominan pekat (hitam, biru gelap, merah tua, hijau tua), goresan-goresan yang menempati bidang gambar dalam volume besar, kasar, dan menabrak ruang-ruang yang dibentuk oleh warna-warna dalam bidang gambar dan komposisi maupun ukuran ruang-ruang warna yang tak rapi. Satu hal yang khas pada Ronald, kata Opee, lukisannya tentang tema persetubuhan tak pernah dapat ia gambarkan dengan abstrak murni. Selalu saja, ada wujud visual nyata yang dapat dideteksi dengan segera dalam lukisannya bertema ini.

Konten Terkait:  Menjadi Dewasa Membosankan dalam Pandangan Enam Perupa

Sedangkan karya-karya Santi, menurut Opee, memberikan kesan transparan, lembut, dan halus, dengan penggunaan warna-warna dominan terang pada bidang gambarnya: putih, coklat muda, biru muda, abu-abu. Goresan maupun potongan kertas di atas bidang gambar pun, meski mengesankan asal-asalan, tetaplah ditempatkan dengan rapi dan teratur.

Santi Ardi, 'Skin in the Game' dan 'Slowly Stripped'. Foto Barata
Santi Ardi, ‘Skin in the Game’ dan ‘Slowly Stripped’. Foto Barata

Pelukis abstrak Sulebar M Soekarman menilai karya seni abstrak Ronald dan Santi disajikan istimewa: menu intelektual – modern, rasa bebas – terukur. Karya seni abstrak mereka telah mampu membuka tabir, dan memamerkan sebuah realitas yang ter-baru-kan, memperkaya pengertian abstrak, yang secara umum diartikan secara visual, menggambarkan hal-hal yang tidak berbentuk ataupun non-objektif dan non-figuratif saja.

Sebagian besar karya mereka, kata Sulebar, mempunyai bentuk-bentuk artistik yang sederhana. Kesederhaan mereka adalah kesederhanaan yang penuh (post-conscious simplicity) sebagai hasil dan upaya keras secara artistik untuk menguasai kompleksitas fenomena kehidupan itu, dan di dalam usaha pemenuhannya kita masih bisa merasakan getaran dari pengalaman tersebut serta konsistensi daya juang kerjanya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here