Perupa Harlen Kurniawan memajang 16 lukisannya di Langgeng Art Foundation (LAF), Yogyakarta. Lukisan yang dipamerkan karya tahun 2012 hingga 2018. Sebagian besar dibuat pada tahun 2018. Bertajuk ‘Enigma dan Realitas’ lukisan-lukisannya memang mengundang banyak tafsir, setidaknya karena gaya abstraknya.

Perupa Heri Kris yang menulis pengantar pameran mengatakan, abstraksi adalah gaya bahasa rupa yang diusung Harlen di dalam mengekspresikan emosi jiwa dan pikirannya, di mana figur maupun benda tak tergarap utuh secara nyata, hanya impresi samar saja. Gaya lukisan Harlen terkadang ada nuansa childish ketika dia menggarap objek bentuk dan tulisan yang tertuang dalam lukisan.

Heri melihat karya Harlen cenderung improvisatif, intuitif, enigmatik yang tidak mudah ditebak maknanya. Dalam hal ini menurut Heri, kita bisa merasakan unsur-unsur rupa dalam lukisannya, seperti warna, goresan, garis, image, teks, dan sebagainya. Beberapa unsur tersebut tampil tanpa banyak didahului sebuah rancangan maupun sketsa global dalam melukis, namun semua mengalir sesuai hasrat dan intuisi yang terkadang bebarengan dengan tanda dan ide yang berjalan. Lanjut Heri, wajah lukisan yang hadir pun sangat dipengaruhi oleh intensitas dan daya letup emosi, dimana brush stroke menjadi capaian dari energi dan ketegangan psikologi Harlen.

Harlen Kurniawan, 'Doa-Doa #1'. Foto Barata.
Harlen Kurniawan, ‘Doa-Doa #1’. Foto Barata.

Heri menilai ada sebuah tekanan jiwa dan emosi yang terlampiaskan dalam goresan-goresan liar dan image yang spontan. Perpindahan persoalan-persoalan realitas menjadi sebuah lukisan yang enigmatik melewati sebuah momen estetis dengan konten masing-masing karya berbeda. Menurut Heri, Harlen pernah menyebutkan bahwa karya lukisannya semacam catatan harian atas berbagai peristiwa yang pernah dia alami.

Heri menyoroti salah satu lukisan Harlen, ‘Doa-doa’. Lukisan ini, menurutnya, terasa lebih minimalis dibanding yang lain. Ada beberapa komposisi ruang yang dibiarkan kosong, dan brushstroke yang lebih lembut. Ada sebuah sublimasi dari endapan impuls yang lebih terasa teredam. Ada titik-titik besar yang repetitif mirip zikir dalam doa. Ada pembatas warna coklat dan oranye yang mirip landscape dalam sebuah fatamorgana. Hanya ada satu image yang mirip manusia diam setengah badan terletak di komposisi lukisan paling bawah. Menurut Heri, lukisan tersebut menyiratkan sebuah refleksi diri, dimana sebuah kehidupan yang dinamis, ada saat bergerak aktif ada saatnya juga terdiam ataupun tertidur dalam lelap. Biasanya di saat itulah doa-doa muncul, karena spiritualitas sering hadir dalam perenungan maupun pemikiran yang tenang.

Harlen Kurniawan, 'Menahan Rasa'. Foto Barata
Harlen Kurniawan, ‘Menahan Rasa’. Foto Barata

Kurator LAF Citra Pratiwi melihat Harlen mengungkapkan kompleksitas sebuah pemikiran sekaligus permainan kontradiksi yang menggelisahkan. Citra menilai rasa kemanusian lekat dalam diri Harlen. Sejak lama ia dikenal aktif dalam pergerakan isu politik dalam berkesenian. Kepekaan humanis Harlen menjadi energi besar dalam karya-karyanya.

Menurut Citra, pilihan abstrak pada Harlen yang ia presentasikan sekarang berbentuk ekspresi dengan penekanan pada penciptaan spontan, otomatis dan bawah sadar. Misalnya, Harlen melukiskan Jalaludin Rumi dengan warna merah, sosok sufi yang tevolusioner.

Harlen Kurniawan, 'Tangan Hijau'. Foto Barata
Harlen Kurniawan, ‘Tangan Hijau’. Foto Barata

Membaca lukisan abstrak ekspresionis Harlen, bagi Citra seperti membaca puisi. Menurutnya, Harlen secara cerdik mengolah imaji dalam bentuk , kata, warna tentang gerak-gerik, kegelisahan, dan kebebasan. Bagaimana jiwa Harlen yang meledak-ledak diungkapkan dalam wujud permainan komposisi antara yang dinamis dan sepi. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here