Puisi Hardho Sayoko SPB

3
289

Elegi Dari Balik Kaki Langit

Senantiasa kidung dari seberang merdu mengalun terbawa kesiur angin
gemercik air di kelok sungai yang tebingnya berbaris rumpun bambu
setelah musim penghujan derasnya arus menyerta percik lumpur keruh
sepanjang tuarang beningnya air mengaliri pedataran dan celah lembah
lumbung di pemukiman tak pernah diseteru biji dan benih makanan
direntang waktu tak pernah terdengar keluh makhluk didera penderitaan
hewan peliharaan hingga senja merumputdamai di tanah gembalaan

Tersebab di sini pemiliknya tidak pernah bersyukur
atas segala mercu nikmat dari Sang Maha Pemberi
maka setiap musim berganti selalu berubah
dari kehijauan alih warna jadi merah kehitaman
likat lumpur menjadi gunduk cadas kerontang
mata air mampat padang rumput menjelma gurun

Tidak ada lagi terdengar suara ceria anak
seperti dalam lembar dongeng di tumpukan rontal
mengalunkan tembang peninggalan para leluhur
tentang ajaran menuju kebaikan pada sesama
juga indahnya negeri warisan para pahlawan
selain pekik amarah di antara bunyi genderang
menuntut anugerah matahari bergamis bintang

Kedunggalar, 2018

Stasiun Kereta Api Kedunggalar

Kutelisik sisa kenang yang telah aus direncah taring waktu
diantara serak kerikil yang tertindih bantalan rel kereta api
setiap pucuk-pucuk cemara gunung yang tak letih menari
kibaskan kerinduan yang telah bercampur dengan humus
selalu terjumput biji-biji sajak yang masih terbalut ilusi

Kendati cericit burung-burung gereja tak sehingar di masa bocah
kerisik bunyi mesin pencatat tiket di loket tak pernah lagi terdengar
tapi aku masih sebagai penjemput paling setia di ruang tunggu

Kutelisik sisa kenang yang telah pudar terkulum waktu
di antara serak kerikil yang tertindih bantalan baja bisu
setiap angin bukit menyalami deretan pepohonan yang kelu
rindu selalu terjumput bersama biji-biji sajak dari bayangmu
ketik aku sendiri merentang sepi dan terus saja menunggu

Kedunggalar, 2018

Mereka Yang Berjalan Tengadah

Telah terbagi duka dan air mata di bumi yang terbelah
lewat jemari tangan yang tak pernah henti taburkan resah
padahal sudah tak ada lagi pundak yang tersedia memikul
tetap saja mereka tindihkan beban peramu perihnya gelisah

Meski berbagai isyarat dan noktah azab sering menggamit
mereka tak juga berpaling dari kehendak yang hanya tersirat
sebelum menghentikan mimpi yang diseteru para malaikat

Telah tercurah duka dan air mata di bumi yang terbelah
lewat jemari tangan yang tak pernah henti menaburkan resah
padahal sudah tak ada lagi pundak yang tersedia mengusung
tetap saja mereka tindihkan beban peramu berlaksa gelisah

Kedunggalar, 2018

Silhuet

Di tengah hutan jati yang masih tersisa
padang-padang ilalang terbentang luas
diantara pepohonan yang melewati batas usia
angin menerbangkan daun kering kemana-mana
burung-burung sebentar lagi pulang ngembara
awan putih melayang sangsai dengan malas

Mengeja waktu demi waktu
sambil bertanya lintasan hari yang tak pernah beda
walau terucap dengan gerak bibir yang sama
seperti puisi yang selalu turun dari cakrawala
ak habis-habisnya diseru penyajak seribu benua

Di tengah hutan jati yang masih tersisa
padang-padang ilalang terbentang luas
diantara pepohonan yang melewati batas usia
angin menerbangkan daun kering kemana-mana
burung-burung sebentar lagi pulang ngembara
siapa itu yang mengusik lelawa dari tidurnya?

Konten Terkait:  Puisi Sumanang Tirtasujana

Kedunggalar, 2018

Penyair Taberilipani Sang Kembara Langit

Ngembara di hutan sajak dalam rentang hitungan musim
tanpa sayap menelisik rindu dan menyulam indahnya harap
jemari tangan menadah saat derasnya biji ilham selalu luruh
sebelum melangkah seraya mengeja isyarat dari arasy
di gerbang waktu berjabat seorang pejalan tangguh

Di gugus pantai anak-anak puisi menyatu dengan buih
tak henti berbagi gemuruh disela pekik burung camar
duh indahnya mengenang perjumpaan sesama pengeja
bersama-sama ketika mabuk bersilancar di busur langit

Ketika putaran jarum jam yang berdetak berkhabar
anak langitku yang perkasa tergasi di hutan ilusi
namun tak pernah menghentikan ayun langkahnya
apalagi hanya mandah dengan permainan jentera nasib
semoga Sang Maha Penyembuh membangkitkannya

Kedunggalar, 1 April 2016

HARDHO SAYOKO SPB, nama panjangnya ialah Hardho Sayoko Sarban Panganggit Baidillah. Lahir16 Juli 1955 di Kedunggalar, sebuah kota kecil di salah satu kecamatan yang masuk wilayah Kabupaten Ngawi di Provinsi JawaTimur.

Geguritan (puisi Jawa) dan karya puisinya tersebar di berbagai surat kabar, majalah bahasa Indonesia, majalah mingguan bahasa Jawa, dan majalah bahasa Melayu, yang terbit di negerinya sendir imaupun negeri tetangga. Beberapa karya puisinya sebagian diikutkan antologi bersama dalam buku Redi Lawu (2009), Malsasa 2009 (dibacakan di Taman Budaya Surabaya), Danau Angsa (dibacakan bersama komunitas pecinta haiku di Japan Foundation Jakarta), Pedas Lada Pasir Kuarsa, Pasewakan (bahasa Jawa), Requiem bagi Rocker (dibacakan di TBS Surakarta bersama 128 penyair seluruh Indonesia).Memandang Indonesia dari Sragen (dibacakan bersama para penyair Indonesia di Rumah Dinas Bupati Sragen), Indonesia di titik 13 (dibacakan di BalaikotaPekalonganbersamapenyair Indonesia), NegeriAbal-Abal (dibacakan bersama 99 penyair Indonesia di Balaikota Tegal), Negeri Langit (kumpulan puisi bersama 153 penyair Indonesia), buku puisi Penyair Menolak Korupsi, buku puisi Memo Untuk Presiden, Sang Peneroka dan beberapa buku antologi puisi yang masih dalam proses penerbitan.

Hardho yang mengaku penyair jalanan ini, tahun 2011 melalui penerbit Teras Budaya Jakarta telah mempublikasikan buku kumpulan puisinya berjudul Penyair Negeri Rembulan. Buku antologi puisi pertama berisi 115 judul puisi ini, launching tanggal 17 Desember 2011 di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin TIM Jakarta, dengan pembicara Adek Alwi dan moderator Remmy Novaris DM.

Sewaktu bermukim di Jakarta, diundang untuk ikut Forum Penyair Muda Jakarta bersama para penyair muda Jakarta di TIM tahun 1979 dan 1980, juga ikut membaca puisi dalam acara Festival Penyair Muda Jakarta di acara yang sama. Sempat bergabung di Bengkel Sastra Ibukota dan membantu mengelola buletin Kakilangit.

Setelah berhenti sebagai aktivis NGO selaku pengajar merangkap konsultan penyakit HIV/AIDS khusus anak jalanan di Jakarta. Berlanjut sebagai mitra keluarga petani miskin di Pacitan, selain sebagai jurnalis tabloid merangkap kontributor berbagai media cetak, saat ini menetap di Kedunggalar tanpa memiliki pekerjaan tetap. Dalam kesehariannya selain menulis sajak, yang kadang diunggah di Facebook atau dipublikasikan di media cetak, sesekali Hardho menghadiri undangan temu sastra di Indonesia maupun negeri jiran. (*)

3 KOMENTAR

  1. Terima kasih untuk apresiasi dan tiupan semangatnya, dhimas Kun Cahyo. Salam puisi nan hangat tak pernah jeda.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here