Nampan dan Stiker di Antara Karya Kontemporer

0
74
Citra Sasmita, 'Genealogy of Silence'. Foto Barata
Citra Sasmita, 'Genealogy of Silence'. Foto Barata

Keberagaman karya seni rupa kontemporer bisa dinikmati di Galeri Red Base, Yogyakarta, sampai 22 Juli 2018. Mulai dari lukisan, foto, patung, instalasi hingga karya yang memakai bahan “remeh-temeh”. Dengan tajuk ‘Forms of Diversity’, menurut pihak galeri, pameran ini ditujukan untuk memberi gambaran tentang keanekaragaman praktik seni kontemporer.

Hendra Priyadhani, 'War is Over...Here!' (series). Foto Barata
Hendra Priyadhani, ‘War is Over…Here!’ (series). Foto Barata

Keanekaragaman itu, seperti dijelaskan dalam tulisan pengantar, tidak hanya berkutat pada eksplorasi ide konseptual di mana masing-masing seniman cenderung menunjukkan sisi subjektivitasnya dengan sangat kuat, namun juga pada praktik pemilihan medium, teknik, hingga penyajian hasil akhir dari pengolahan ide-ide tersebut secara visual. Dari konsep yang sangat sederhana tentang masa kecil dan memori tentangnya, hingga konsep yang membicarakan tentang isu-isu perempuan dan isu-isu yang memiliki muatan filosofis, dari medium konvensional kanvas hingga medium baru seperti resin dan fotografi, dari visualisasi abstrak hingga visualisasi yang bersifat simbolik.

Pameran ini melibatkan cukup banyak perupa, yakni Ayu Arista Murti, Citra Sasmita, Dedy Sufriadi, Hendra ‘Blankon’ Priyadhani, I Dewa Ngakan Made Ardana, I Made Widya Diputra, Iqi Qoror, I Putu Adi Suanjaya, Meliantha Muliawan, Oky Antonius, Oky Rey Montha, Ronald Effendi, Shafiq Nordin, Uswarman, Vanessa van Houten, dan Zulkarnaini.

Meliantha Muliawan dan Hendra ‘Blankon’ Priyadhani mengambil barang sehari-hari atau populer untuk dibuat sebagai karya seni rupa. Mengingatkan pada batasan longgar seni rupa yang pernah diusung Gerakan Seni Rupa Baru, yang antara lain mensahkan pemakaian barang sehari-hari sebagai karya seni rupa.

Karya Meliantha, ‘Collect As Many Art As Possible #1-#9’, menampilkan deretan stiker pop Sailor Moon, Bart Simpson, Pokemon, Dragon Ball, hingga fashion yang bisa dipakai lepas dan ragam mobil balap. Mainan ini sebagian dicorat-coret warna-warni yang memikat. Hasilnya, deretan stiker warna-warni beragam figur yang disusun dengan rapi. Karya ini tidak lagi semata mainan “remeh-temeh” yang dipajang di toko.

Karya Hendra Priyadhani merupakan delapan karya kolase yang diambil dari elemen-elemen barang bekas, mulai dari boneka, mainan sampai nampan dan tutup kaleng. Dengan tema keseluruhan ‘War is Over…Here (series)’, nampan seng bergambar wajah perempuan cantik yang semula berkesan lembut berubah menjadi lebih “keras”.

I Made Widya Diputra, 'No One Escape the Death I Ride'. Foto Barata
I Made Widya Diputra, ‘No One Escape the Death I Ride’. Foto Barata

Salah satu nampan bergambar seorang artis cantik yang bergaya seksi. Dua kapak besi bertangkai tengkorak dipasang menyilang menutupi matanya. Wajah yang menyisakan senyum ini menjadi menonjol karena dipigura ukiran oval. Di bagian bawah dipasang mesin jam digital seakan menandakan sejarah terus bergerak. Dilengkapi sebuah bel alarm dengan kawat pemukul dan kawat berpisau. Seekor rusa bertanduk lebar dengan gigi mesin di badannya seakan siap bertarung dengan seekor naga terbang yang berbungkus guci. Donald Duck mengusung guci ini dengan ekspresi ketakutan. Terkesan sebuah parodi yang memancing senyum.

Konten Terkait:  Squezee Land, Citra Kertas Remas dalam Karya Lukis Ipan

Begitu pula tutup kaleng sebuah minyak angin yang bergambar deretan gazebo di tepi kolam di atas gunung berlatar langit biru dan awan putih. Suasana nyaman dan asri ini dirusak oleh wajah tengkorak yang menutupi gambar asli yang pastinya wajah perempuan cantik. Gambar bahu perempuan itu diberi tambahan ujung belalai gurita yang sedang menggapai. Piring terbang alien khas game komputer terbang di atas kolam.

Kekerasan lain diekspresikan oleh I Made Widya Diputra, ‘No One Escape the Death I Ride’. Karya tiga dimensi yang terbuat dari resin, silicon, dan kulit ini menampilkan sosok yang terkulai terlentang ditopang penyangga-penyangga runcing yang menusuk tubuhnya. Kematian yang tragis mengingatkan pada gugurnya Resi Bhisma yang tubuhnya ditopang ratusan anak panah, berjarak dengan tanah, dalam Bharatayudha.

Meliantha Muliawan, 'Collect as Many Art as Possible #1-#9'. Foto Barata
Meliantha Muliawan, ‘Collect as Many Art as Possible #1-#9’. Foto Barata

Karya lain yang mencekam adalah lukisan akrilik Citra Sasmita, ‘Genealogy of Silence’. Seorang perempuan bermata putih serta rambut panjangnya yang terpaut dengan wajah-wajah perempuan lainnya yang juga bermata putih. Seperti ada rangkaian persoalan eksistensi dan martabat perempuan yang terus berkait dan berlanjut. Citra juga memajang seutas rambut panjang yang terbuat dari serat nanas, yang diberi judul ‘Fragmen Terakhir Drupadi’. Mengingatkan pada fragmen Drupadi dipermalukan Dursasana sehingga dalam perang Bharatayudha ia mewujudkan sumpahnya, keramas dengan darah Dursasana. Rambut kembali diangkat Citra sebagai idiom persoalan perempuan.

Pameran ini juga menampilkan tiga lukisan abstrak yang kuat, karya Ronald Efendi, Dedy Sufriadi, dan Uswarman. Kontras dengannya adalah lukisan garis vertikal mulus dalam gradasi warna hijau yang rapi simetris karya Zulkarnaini.

Sebagaimana tajuknya, pihak galeri menjelaskan bahwa keberagaman ini tampak saat seniman-seniman yang memilih untuk berkarya dengan medium yang sama belum tentu menggunakan teknik yang sama, dan mereka yang menggunakan medium serta teknik yang sama pun belum tentu membicarakan konsep yang sama pula. Seniman yang menggunakan medium, teknik, bahkan visualisasi berbeda kadang membicarakan konsep yang sama melalui karya mereka.

Pesan pentingnya, dari kesamaan kita belajar perbedaan, dan dari perbedaan itu kita sadar akan kekayaan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here