Ketika para perupa saling berkawan kental jadilah pameran bersama. Kebersamaan dalam bersekolah, berkarya, maupun kegiatan-kegiatan lain yang asyik, menjadi ikatan emosi yang terus berlanjut. Begitu pula saat belasan perupa yang hingga sekarang masih berkawan kental membuat pameran bersama ‘Konco Kenthel’ di Galeri SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) Yogyakarta.

Perupa Joko Sulistiono dalam pengantar pameran menjelaskan, dalam istilah Jawa ‘Konco Kenthel’ (teman karib) merupakan sebuah kata selamatan bagi sebuah pertemanan yang di dalamnya telah terbangun “keterbukaan” di antara pelakunya. Mereka, menurut Joko, telah melewati suka-duka membangun “hati” bersama-sama. Para perupa yang menjalin konco kenthel ini rmengungkapkan persahabatannya lewat pameran ini.

Para kawan kental yang ikut berpameran adalah Agus Sahri, Budi D “Penceng”, Deden FG, Evri Irmasari, Heri Purwanto, Heri Sulaksono, Heru Londo, Imam S, Iskandar, Judi “Bagong” Riswanto, Roadyn Choerudin, S. Priadi, Setia Utami, Sri Lestari Pujihastuti, Wage ES, Watie Respati, Wiwid Wiji SB, Zuliyanto.

Pameran ini menyajikan berbagai karya dua dimensi, sedikit drawing dan banyak lukisan. Mulai dari naturalisme, realisme sampai surealisme dan abstrak. Ada yang konvensional, tetap dengan penggarapan yang bagus. Ada yang ekspresif dengan greget yang terasa. Dengan gayanya masing-masing, semuanya menarik.

C Roadyn Choerodin, 'Memory of Diversity'. Foto Barata
C Roadyn Choerodin, ‘Memory of Diversity’. Foto Barata

Kepala Sekolah SMSR Rahmat Supriyono ikut berpameran dengan karyanya yang cantik simetris, masjid banyak pintu yang menjulang megah dan jemaah berkonstum aneka warna, gambaran keberagaman. Kecantikan lainnya antara lain muncul dalam lukisan realis Imam Supriantono yang menggambarkan upacara tradisi di Bali, lukisan Evri Irmasari tentang perahu-perahu yang merapat di kampung nelayan, serta lukisan Nunung Rianto berupa karangan bunga berbentuk hati di atas padang rumput hijau dan berlatar langit biru dan awan putih.

Konten Terkait:  Retrospektif Dekoratif Abstrak Supantono
Rismanto, 'Untitle'. Foto Barata
Rismanto, ‘Untitle’. Foto Barata

Para perupa tampil dengan gaya lazimnya. Watie Respati dan Judi Riswanto tampil dengan ekspresif. Wage dengan lukisan abstraknya yang soft. Iskandar masih bersurealis figur khasnya yang lembut, perempuan dengan kepala besar seperti balon dalam lingkungan yang kontras. Deden FG berbicara persoalan sosial dengan sentuhan grafisnya. Roadyn Choerudin masih dengan pengembangan gaya pointilisnya. Karte Wardaya dengan figur anjing dalmatian yang terus digarap secara variatif.

Watie Respati, 'Rythm of Life'. Foto Barata
Watie Respati, ‘Rythm of Life’. Foto Barata

Pameran yang berakhir awal Juni ini berbeda dengan lazimnya pameran kelompok yang diikat dengan tema. Pameran ini hanya diikat dengan persahabatan para perupanya. Sebuah perayaan yang produktif dan bermanfaat bagi mereka dan publik. Sebuah penghargaan terhadap pentingnya nilai persahabatan. Tanpa perlu spesial membuat karya bertema persahabatan, tetap dengan otonomi masing-masing perupa atas permasalahan yang disoroti dan digelutinya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here