Sejak lima tahun lalu, Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM), yang berpusat di dalem Pujokusuman, Jalan Brigjen Katamso Jogjakarta, setiap selapan (35 hari) sekali, yang jatuh pada hari Selasa Legi mengadakan gelar tari yang disebut dengan jogedan Selasa Legen. Acara ini diperuntukkan bagi semua guru dan siswa YPBSM, baik yang maih aktif maupun yang sudah tidak aktif.

Mereka yang berminat untuk njoged atau menari cukup datang dengan mengenakan kaos dan jarit, khusus untuk penari pria ditambah dengan memakai blangkon. Selain para penari, jogedan yang dimulai pada pukul 20.00 ini juga melibatkan kehadiran para pengrawit, untuk mengiringi tarian yang di bawakan secara live.

Pada Selasa Legi jang jatuh pada 5 Juni 2018, acara jogedan diikuti oleh 38 penari putri dan 8 penari putra. Keempat puluh enam penari yang sebagian besar adalah anak-anak muda tersebut mengawali gelar tari dengan joged Renggamataya, yang diciptakan oleh KRT Sasmintadipura sebagai pendiri dan pemilik sanggar.

Joged Renggamataya ditarikan secara bersama-sama. Foto: Effy
Joged Renggamataya ditarikan secara bersama-sama. Foto: Effy

Renggamataya dari kata rengga yang berarti, rerenggan, hiasan, bagian-bagian atau unsur-unsur gerakan tari klasik Yogyakarta di antaranya adalah: sembahan, panggel regem, jimpit sampur, encot, seblak, gedruk, lampah sekar hingga sampai tarian perang, dan mataya yang berarti joged atau tari.

Para penari putra membawakan tari Klana Alus Cangklek foto Effy
Para penari putra membawakan tari Klana Alus Cangklek foto Effy

Menurut Retno Nooryastuti penari senior di YPBSM, bahwa sesungguhnya Renggamataya merupakan komposisi atau rangkaian dari unsur-unsur gerak tari klasik gaya Yogyakarta di tingkat dasar yang diciptakan khusus untuk siswa-siswi pamulangan Beksa Sasminta Mardawa. Berdasarkan konsep penciptaan itulah, Renggamataya dapat diibaratkan sebagai fondasi, tempat bertumpunya tatanan dan tuntunan gerakan-gerakan tari klasik gaya Yogyakarta yang wajib dipelajari oleh siswa siswi pemula dari sanggar tari Pujokusuman.

Harapannya, seperti yang diteladankan oleh Romo Sas, dan juga para penari-penari senior, bahwa dengan meletakan fondasi yang kokoh dan kuat, pada gerak tari klasik gaya Jogjakarta, niscaya dapat dipakai sebagai ‘induk’ untuk menelorkan karya karya tari baru yang relevan dengan zamannya.

Konten Terkait:  Pekan Ini Ada 4 Hari Tidak Baik untuk Pergi Jauh

Seusai semua penari yang hadir secara serentak membawakan Renggamataya, tarian demi tarian pun ditampilkan, yaitu tari Pudyastuti dan tari Golek Ayun-ayun untuk para penari putri dan Tari Klana Alus Cangklek dan Klana Raja untuk para penari putra.

Beberapa penonton yang hadir merasakan bahwa jogedan selapan hari sekali ini dikemas dengan sangat cair, mengalir begitu saja. Baik tarian yang akan ditampilkan, maupun siapa saja yang akan menari, ditentukan dengan spontan penuh dengan rasa kekeluargaan.

Para penari putri membawakan tari Golek Ayun-ayun foto Effy
Para penari putri membawakan tari Golek Ayun-ayun foto Effy

Namun walaupun acara dikemas secara sederhana dan apa adanya, sejatinya, jogedan Selasa Legen ini mempunyai tujuan mulia, karena selain untuk ‘memule, Rama Sas, sang empu tari, juga menjadi ajang penampilan, serta perjumpaan antara penari senior, penari yunior dan juga penari pemula. Mereka dapat saling berinteraksi tanpa sekat ke dalam proses belajar mengajar, saling ‘asah-asih-asuh’ untuk menghidupi seni tari klasik gaya Yogyakarta dengan mengusung konsep wiraga, wirama dan wirasa.

Pada akhir jogedan, mbak Estu sebagai pemandu acara mengumunkan bahwa jogedan Selasa Legen pada bulan depan jatuh pada 10 Juli 2018 pukul 20.00 WIB, dengan penampilan spesial yaitu tari Panembahan Senopati – Retnodumilah karya Rama Sas, yang terinspirasi oleh penaklukan Mataram atas Madiun. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here