erpameran menjadi keharusan bagi para perupa untuk menunjukkan karyanya ke publik, setidaknya pameran bersama. Banyak perupa yang sudah mulai berpameran bersama saat mereka masih kuliah. Begitu pula dengan sejumlah mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yang tanpa membentuk kelompok, mengadakan pameran bersama di Indies Heritage Hotel.

Pameran ini bertajuk ‘To Be Known’ yang menandakan bahwa melalui pameran ini mereka ingin dikenal publik lewat karya-karyanya. Meski pameran dilakukan secara bersama tetap saja butuh keberanian setiap perupanya karena karyanya akan dinilai publik. Di sisi lain, mereka ingin mengomunikasikan gagasan dan perasaannya lewat karya, karena memang hakikat manusia adalah interaksi dan komunikasi. Toh karya-karya yang dipamerkan memang terasa layak. Bahkan sebagiannya sudah terasa kekuatannya, semacam prediksi menjanjikan atas keberadaan mereka di masa mendatang, tidak semata dikenal tetapi diakui dan diperhatikan.

Ruthy Lilipaly. 'Brutals Dancers of the South'. Foto Barata
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Pameran ini melibatkan 20 mahasiswa ISI Yogyakarta, yakni Anaya Anjar, Anggi Wismandaru, Dewa Gede Suyudana Sudewa, Diana Puspita Putri, Don Bosco Laskar, Eugenius Krisna Ajisaputra, Florentina Pramasti Cahyaningrum, I Kadek Didin Junaedi, I Made Dabi Arnasa, I Made Surya Subratha, I Putu Yudhi Aditya, I Wayan Dwyma Adhinata, I Wayan Piki Suyersa, Ida Bagus Kusuma, Mutiara Riswari, Rangga Anugrah Putra, Rika Ayu, Ruthy Lilipaly, Sandat Wangi, Triana Nurmaria. Mereka berasal dari berbagai jurusan, seperti lukis, kriya, disain, dan lainnya.

Anaya Anjar berkisah tentang relasinya dengan tempat tinggal, baik rumahnya maupun rumah perantauannya. Menggunakan tinta dan akrilik di atas kanvas, ia membuat drawing yang sederhana tetapi menarik, membuat orang ingin menikmati narasi teks dan gambarnya.

Suyudana Sudewa, 'Bukan Dia'. Foto Barata
Suyudana Sudewa, ‘Bukan Dia’. Foto Barata

Dewa Gede Suyudana seperti lazimnya masih mengekspos wajah manusia dengan guratan garis dan warna yang ekspresif. ‘Bukan Dia’ menampilkan wajah pria dengan mata yang hidup dimana satu matanya agak digelapkan sehingga lebih dinamis.

Ruthy Lilipaly membuat cetal digital pada stiker transparan menggambarkan dahsyatnya laut selatan. Karya berjudul ‘Brutals Dancers of the South’ ini diawali dengan keterpesonaan Ruthy saat berkunjung ke Parangtritis atas gejolak ombak yang dilihatnya mirip tarian.

I Kadek Didin Junaedi menampilkan lukisan abstrak warna-warni yang menarik. Mahasiswa jurusan kriya ini mengaku bahwa ini lukisan pertamanya. Lukisan abstrak juga dibuat oleh Triana Nurmaria yang bernuansa sendu dan syahdu, hampir senada dengan lukisan abstrak Rika Ayu. Kontras dengan itu adalah lukisan abstrak Rangga Anugerah Putra yang ramai dan bersemangat, dan I Wayan Piki Suyersa yang menonjolkan simpang siur garis dalam warna-warna keras. Beserta beberapa lukisan abstrak lainnya, pameran yang berlangsung hingga akhir Mei ini terasa ekspresif.

Triana Nurmaria, 'In Blue #2'. Foto Barata
Triana Nurmaria, ‘In Blue #2’. Foto Barata

I Made Dabi Arnasa tampil dengan lukisan realisnya, keranjang sampah terguling, termasuk kertas putih dengan kerutannya akibat diremas. Sebagian lagi karya-karya yang rapi dan dekoratif. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here