Di tengah maraknya pameran lukisan, kehadiran pameran drawing yang berbobot terasa menyenangkan. Tujuh perupa dari berbagai kota menunjukkan keandalannya di
RuangDalam Art House, Yogyakarta, hingga 1 Juni dalam pameran bertajuk ‘Otak Kanan’. Mereka adalah Muhammad Yakin (Yogyakarta), Cipto Purnomo (Magelang), Desy Gitary (Jakarta), Heri “Gombloh” (Malang), Putu Wirantawan (Denpasar), serta Indra Widiyanto dan Rieswandi (Bandung).

Mengapa dipilih tajuk ‘Otak Kanan’? Sesuai dengan pembagian kerja dua sisi otak, tajuk ini –seperti dijelaskan dalam pengantar pameran—mengacu pada praktik dan ide kreatif para seniman ini yang cenderung menggunakan intuisi dan kepekaan, mengalir dan berspekulasi lebih mengikuti suasana hati. Di tangan mereka, drawing tidak lagi difungsikan sebagai sebuah kerja persiapan dari proses panjang penciptaan. Namun mereka menempatkan drawing sebagai seni yang otonom, sebuah hasil akhir sejajar dengan karya lukis, patung, dan grafis.

Indra Widiyanto, 'Down Size #1' dan 'Down Size #2' . Foto Barata
Indra Widiyanto, ‘Down Size #1’ dan ‘Down Size #2’ . Foto Barata

Pameran yang berakhir pada awal Juni ini juga dilengkapi deskripsi tentang karya-karya seniman yang dipamerkan, yang membantu pemahaman dan penikmatan pengunjung pameran. Muhammad Yakin mengetengahkan karya trilogi sebagai visualisasinya atas “misteri waktu berputar kembali”. Karyanya menampilkan kolase dengan teknik arsir yang sangat intens, menggambarkan potongan-potongan momen perputaran waktu. Yakin terinspirasi teori Albert Einstein bahwa perubahan dalam kecepatan cahaya bisa dialami oleh waktu dan ruang. Intinya, kata Yakin, jika sebuah benda terbang dengan kecepatan 300.000 km/detik, maka waktu bakal diperlambat dan ruang menjadi pendek.

Rieswandi, 'Cillon' dan 'Structure #2'. Foto Barata
Rieswandi, ‘Cillon’ dan ‘Structure #2’. Foto Barata

Sedangkan karya Rieswandi dilandasi oleh pola keteraturan, sekaligus ketidakaturan, terkait dengan bentuk-bentuk struktur plastis dan organis. Pada prosesnya, struktur visual yang terkesan formalis itu akan berubah plastis karena mengalami perkembangan seiring berlangsungnya proses kreatif yang bertumpu pada potensi dan kemungkinan-kemungkinan.

Karya-karya Cipto Purnomo menempatkan elemen teknologi dan tradisi sebagai aspek penting visualisasinya. Unsur teknologi dapat ditilik pada bentuk-bentuk logam, kabel, sekrup, atau bahkan mesin yang menyokong konstruksi wadag figur yang ada. Mungkin kritik terhadap tata sosial yang dianggap mekanik. Sebagai elemen tradisi, ia menampilkan legenda Kinara-Kinari, makhluk khayangan penjaga pohon Kalpataru atau pohon hayat yang terdapat pada relief candi-candi era Budha dan Hindu.

Indra Wijayanto menjadikan kegelisahan personal terhadap realita yang ditemuinya sehari-hari sebagai artistic anxiety. Dari sisi konsep, karya Indra memiliki pesan serupa dengan Rieswandi. Metafor adalah elemen artistik yang penting, terutama bagi karya-karya realis. Indra menempatkan benda-benda terkait dengan alam, seperti dedaunan, pepohonan, manusia, air dan seterusnya. Isu yang diangkat keseimbangan dan pelestarian alam.

Desy Gitary mengolah tubuh sebagai subject matter, melalui garis-garis ekspresif. Baginya, tubuh adalah teks yang tidak akan pernah habis dinarasikan. Sebab tubuh mengandung makna sakral yakni sebagai cahaya dari pancaran ruh. Desy cenderung peka menangkap momen-momen khusus di luar dirinya. Ia kerap menghubungkan momen tersebut dengan emosi personalnya yang sering bertolak belakang. Di satu sisi ia sangat gamblang menguraikan secara verbal hasrat terdalam yang dirasakannya, tapi pada saat bersamaan merasa ragu menggapainya.

Putu Wirantawan, 'Gugusan Energi Alam Batin 2-7-4-018'. Foto Barata
Putu Wirantawan, ‘Gugusan Energi Alam Batin 2-7-4-018’. Foto Barata

Heri ‘Gombloh’ Catur Prasetya memulai proses kreatifnya dengan membuat kurva-kurva tertutup berupa bulatan atau bentuk-bentuk tertentu, yang hampir selalu mengalir dari bagian kiri-atas bidang kanvas, lalu menyebar ke kanan-bawah, Ia mencipta figur-figur atau bentuk-bentuk yang menggambarkan ‘panorama dunia lain’ sebagai abstraksi alam bawah sadarnya, ia merasa lebih nyaman berspekulasi langsung di atas bidang kertas atau kanvas, tanpa sedikit pun dapat menduga hasil akhir karyanya.

Kurva-kurva tertutup gubahan Putu Wirantawan serupa binatang renik atau organisma antah-berantah, muncul secara intens hingga membentuk lanskap unik. Ornamen-ornamen tersebut diolah sedemikian rupa untuk mengisi struktur gambar hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari kontur gelap-terang yang tercipta dari tekanan pensil, atau bahkan tumpukan layer. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here