Sentot T Raharjo, Bercanda. Foto Barata
Sentot T Raharjo, Bercanda. Foto Barata

Sembilan perupa dari berbagai kota memajang karyanya dengan kekhasan masing-masing Raintree Boutique Villa & Gallery, Baciro, Yogyakarta. Mereka adalah Agus Nuryanto, Tini Jameen (Yogyakarta), Farid Sycumbang (Jakarta), Ketut Adi Candra (Gianyar), Otok Shendra Masruri, Ratih Alsaira (Salatiga), serta Harbani Setyawati, Sentot T Raharjo, Sumiyati Herman (Solo).

Agus Nuryanto tampil dengan ‘wayang jewer’nya, yang mengingatkan pada figur wayang beber. Sentot Rahajo dengan sapuan brushstroke dan warna-warna ‘candy’, Ketut Adi Candra dengan gaya abstraknya yang kontemplatif, Tini Jameen dengan kekayaan warna yang menawan, dan sebagainya.

Dalam pengantar pameran, Joseph Wiyono mengatakan bahwa representasi lukisan sembilan perupa ini variatif sebagaimana muasal masing-masing dalam kelindan proses kreatif dan pemaknaan pengalaman batinnya.

Joseph melihat karya Sentot masih menghadirkan berbagai figur sebagai subjek yang dihadirkan dengan teknik brushstroke yang spontan, lugas, dan tetap terkontrol. Elemen-elemen artistik yang berupa warna, garis, tekstur nyata, dan kematangan pengaturan komposisinya menjadikan karyanya murni non-presentasional atau abstrak.

Ketut Adi Candra, Balinese Cultural Memories. Foto Barata
Ketut Adi Candra, Balinese Cultural Memories. Foto Barata

Sedangkan Adi Candra, menurut Joseph, merupakan manifestasi dari kesatuan yang kental –religi, tradisi, kehidupan keseharian masyarakat— sehingga sebagai manifestasi hal-hal transendental tidak lepas dari religi dan sosio-kultural Bali.

Terhadap karya Tini, Joseph melihatnya sebagai karya figuratif atau presentasional dengan idiom berbeda. Menurutnya, kebentukannya yang unik dan khas semakin ditegaskan oleh teknik ‘plototan’ yang saling-silang dan saling tumpuk menciptakan nuansa warna yang matang. Pengomposisian warna dan elemen lain yang terjaga menjadikan lukisannya selalu enak dipandang. Tema-tema domestik keseharian yang direpresentasikan melalui figur manusia, binatang, dan tetumbuhan hadir dengan riang tanpa beban.

Ratih Alsaira, Longing is Painful Karma. Foto Barata
Ratih Alsaira, Longing is Painful Karma. Foto Barata

Karya Ratih Alsaira, menurut Joseph, merupakan representasi nuansa surealistik yang dihadirkan dengan pendekatan personal yang agak sarkastik. Menurutnya, Ratih mencoba menginterpretasi berbagai kehidupan dengan sudut pandang personalnya yang unik, menjadikan karyanya mempunyai kekuatan tertentu yang akan membuat audien merenungkannya dengan perasaan teraduk-aduk. Sarkasme yang dibalut dengan agak karikatural akan tetapi bernuansa surealistik menjadi pelengkap dalam memaknai keabsurdan hidup manusia yang layaknya panggung sandiwara.

Konten Terkait:  Representasi # 2 Pameran Realisme Jogja?
Tini Jameen, Pasar Burung. Foto Barata
Tini Jameen, Pasar Burung. Foto Barata

Di tengah kepadatan lalu lintas perupa dan jalur seni rupa di Yogyakarta, sembilan perupa ini seakan sedang membunyikan klakson yan menunjukkan keberadaan mereka. Joseph mengatakan bahwa Klaq Son sebagai tafsir kreatif dari kata klakson menegaskan bahwa kelompok ini tidak sekadar “berbunyi” akan tetapi lebih tepat dimaknai sebagai “bersuara”; menyuarakan keberadaan atau eksistensi sebuah kendaraan besar yang hendak lewat, mengambil jalan, atau memberi jalan kepada yang lain. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here