Arca Mbah Gajahtirta dilihat dari sisi barat-Foto-A.Sartono
Arca Mbah Gajahtirta dilihat dari sisi barat-Foto-A.Sartono

Warga Dusun Gunungan, Kelurahan Plered, Kecamatan Plered, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY memberi nama arca ini Mbah Gajahtirta. Dusun Gunungan terletak di sisi barat dari poros jalan Ngipik-Plered, kurang lebih berjarak 1 kilometer dari Pasar Plered. Arca ini terletak di sisi timur dari sebuah pos ronda warga RT 04 di dusun tersebut.

Aca Mbah Gajahtirta memiliki ukuran lebar 30 cm, tebal 33 cm, dan tinggi 60 cm. Arca terbuat dari batu andesit dan memiliki arah hadap ke selatan (menghadap jalan dusun). Terdapat sebuah lubang pada sisi tengah-depan dari araca ini. Diameter lubang 10 cm dan kedalaman lubang 57 cm. Lubang arca dari tembus ke bagian bawah-depan arca. Jika digambarkan formasi atau denah lubang tersebut berbentuk seperti huruf L atau siku-siku.

Arca Mbah Gajahtirta dilihat dari depan-Foto-A.Sartono
Arca Mbah Gajahtirta dilihat dari depan-Foto-A.Sartono

Dengan mengamati lubang dan bentuk arca, dimana lubang bagian bawah depan tepat berada di bagian mulut arca, maka dapat diduga bahwa arca ini adalah bagian dari Jaladwara (talang air) dalam sistem percandian. Sayangnya apa yang dinamakan sebagai arca Mbah Gajahtirta ini hanya tinggal bagian kepalanya saja. Sementara bagian lain yang berfungsi untuk mengalirkan air tidak ditemukan. Bagian kepala Jaladwara ini berfungsi untuk mencurahkan/menumpahkan air dari bagian dalam bangunan candi ke bagian luar kompleks bangunan (ke tanah). Sekalipun demikian, kemungkinan besar Jaladwara ini juga difungsikan sebagai Makara. Jadi, ada dua fungsi sekaligus dari arca ini, yakni sebagai Makara sekaligus Jaladwara.

Dugaan bahwa arca ini merupakan kepala Makara dapat dibuktikan dengan mencermati ornamen dari arca in. Ornamen arca menunjukkan ciri-ciri perwujudan perpaduan binatang gajah dan rusa. Gambaran ini umum didapatkan pada makara di Jawa dan Bali. Hanya saja bagian ekor dari Makara Mbah Gajahtirta ini tidak ditemukan. Bagian ekor dari Makara umumnya merupakan perwujudan dari binatang buas atau naga.

Kemungkinan besar arca ini dinamakan Mbah Gajahtirta karena bentuknya menyerupai kepala gajah. Penegasan akan bentuk gajah itu bagi warga setempat mungkin dilihat dari adanya wujud belalai pada arca tersebut. Sayangnya bagian belalai itu pada saat ini telah hilang. Menurut sumber setempat bagian belalai tersebut hilang atau patah karena pada masa lalu pernah tersenggol gerobak sapi. Istilah “tirta” juga menunjukkan pada fungsi dari arca ini yang berhubungan erat dengan air sekaligus menunjukkan unsur pembentuk binatang mitolos yang disebut Makara, yakni buaya atau semacam naga yang hidup di air.

Bagian atas dari arca Mbah Gajahtirta-Foto-A.Sartono
Bagian atas dari arca Mbah Gajahtirta-Foto-A.Sartono

Predikat “mbah” untuk penyebutan arca ini sesungguhnya juga menandakan bahwa keberadaan arca ini dihormati di wilayah tersebut. Predikat mbah atau kyai untuk penyebutan nama-nama benda dalam masyarakat Jawa menunjukkan bahwa benda tersebut dihormati, dijaga atau dikeramatkan. Benda yang mengalami seperti itu dianggap sebagai semacam “person”.

Perlu diketahui pula bahwa arca ini telah diiventarisasikan oleh BPCB DIY dengan nomor inventaris C.19. Nomor ini diterakan pada bagian belakang atas arca. Sementara pada bagian bawah arca terdapat nomor atau kode lain, yaitu GMG.1. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here