Perangko tidak semata berfungsi sebagai salah satu perangkat kirim via pos. Fungsi lainnya yang lazim dikenali adalah sebagai pengenal sejarah dan budaya suatu bangsa. Baik pahlawan, flora dan fauna khas, bangunan, dan sebagainya. Ternyata juga pengenalan seni rupa, baik karya maupun perupanya.

Begitulah dengan aneka perangko yang dipamerkan di Tirana Art House, Yogyakarta. Pengunjung bisa mengenal berbagai karya seni rupa dari berbagai negara. Foto karya seni rupa yang dijadikan objek visual prangko sebagian besar adalah lukisan. Ada pula kartun. Lainnya produk gerabah dan kriya. Selain itu, ada juga potret para perupa. Perangko yang dipajang terdiri dari ukuran perangko, sampai ukuran yang besar sehingga mudah dinikmati.

Perangko Irlandia menampilkan lukisan monumental Leonardo da Vinci, Monalisa. Foto Barata
Perangko Irlandia menampilkan lukisan monumental Leonardo da Vinci, Monalisa. Foto Barata

Menurut kurator Mikke Susanto dari Dicti Art Laboratory, yang juga pemilik perangko-perangko yang dipamerkan, lebih dari 150-an lembar perangko terkurasi disajikan dalam pameran ini. Pameran ini menyajikan materi khusus berupa perangko dengan tema seni rupa dari 31 negara, antara lain Belanda, Rwanda, Jerman, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Tiongkok, Singapura, Rumania, Yaman, Mozambique, Hungaria, sejumlah koloni Perancis, dan sebagainya.

Dalam pameran ini, kata Mikke, tersaji objek seni dengan pilihan lukisan dari kajian sejarah seni rupa modern, utamanya seni lukis modern Eropa. Sebagian lukisan yang dipakai sebagai objek perangko merupakan lukisan era Renaissance (yang berkembang pada 1300-1800 M, seperti Monalisa karya Leonardo da Vinci, atau nama besar lainnya seperti Raphael, JH Fragonard, dan Diego Velezquez). Ada pula lukisan beraliran realisme (Gustave Courbet), surealisme (Salavador Dali), kubisme (Pablo Picasso), hingga kartun Walt Disney (yang bersifat kontemporer). Selebihnya, kata Mikke, adalah seni rupa tradisi klasik, seperti dari Jepang dan Tiongkok. Sedangkan dari Indonesia, tersaji lukisan Raden Saleh, Basoeki Abdullah, Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono, dan lainnya..

Konten Terkait:  Merayakan Persahabatan Melalui Puisi
Perangko Maldives menampilkan karya maestro renaisans Michelangelo. Foto Barata
Perangko Maldives menampilkan karya maestro renaisans Michelangelo. Foto Barata

Uniknya, karya seni rupa yang dipakai sebagai perangko tidak selalu berasal dari negara bersangkutan. Padahal suatu negara tidak akan pernah kekurangan ikon-ikon sejarah dan budayanya untuk ditampilkan sebagai perangko. Artinya, ada keterbukaan dan apresiasi terhadap karya seni bangsa lain. Ada semangat sebagai satu umat manusia dalam satu bumi yang sama, jembatan melalui bahasa seni rupa maupun kebudayaan. Meski di sisi lain, persepsi yang negatif bisa saja menganggapnya sebagai inferioritas bangsa atau negara ketika menampilkan karya seni negara lain yang lebih maju.

Perangko Saint Vincent menampilkan kartun Walt Disney. Foto Barata
Perangko Saint Vincent menampilkan kartun Walt Disney. Foto Barata

Simaklah perangko Republik Burundi yang menampilkan karya pelukis Prancis JH Fragonard, Republik Sao Tome dan Principe di Afrika Tengah menampilkan karya Utagawa Kunisada (Jepang) dan Gustave Courbet (Prancis), Republik Guinea Ekuatorial menampilkan karya El Greco (Spanyol), Guinea-Bissau di Afrika Barat menampilkan karya Pablo Picasso (Spanyol) dan Alphonse Mucha (Ceko), Republik Maldives menampilkan karya maestro renaisans Michelangelo (Italia), Republik Yaman menampilkan karya Paul Gauguin (Prancis). Sedangkan Saint Vincent Karibia menampikan karya populer Mickey Mouse & Minnie Mouse ciptaan Walt Disney.

Yang juga menarik adalah banyaknya pilihan lukisan-lukisan realis yang mengekspos anatomi tubuh manusia, yang menjadi perangko negara-negara Uni Emirat Arab, Sao Tome, Guinea Ekuatorial, Maldives, Rumania, Polandia, dan Nicaragua. Terkesan ada sikap apresiasi yang terbuka terhadap keindahan karya seni. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here