Amin Taasha adalah salah satu mahasiswa dari Afghanistan yang mendapat tugas belajar di Jurusan Seni Murni, Prodi Seni Lukis, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pilihan untuk belajar ke Indonesia (ISI Yogyakarta) waktu itu bisa dikatakan muncul spontan begitu saja. Tidak pernah ada rencana atau bayangan untuk ke Indonesia. Referensi tentang Indonesia di Afghanistan menurut Amin juga tidak terlalu kencang. Bisa dikatakan minim juga. Tapi itulah, Amin memilih Indonesia.

Kehidupan di Afghanistan yang penuh ketegangan, pengalamannya karena pernah dipenjara oleh karena karyanya dituduh menista, dan sekian pengalaman tidak menyenangkan lainnya membuat Amin bertumbuh seperti kepompong. Suatu keadaan asketik. Laku penuh tempaan pertapaan batin (mental dan jiwa), yang membuatnya memiliki daya tahan, sekaligus daya gempur untuk meraih suatu pencapaian. Demikian nukilan pengantar pameran oleh seorang kurator kawakan sekaligus dosen pengajar di ISI Yogyakarya, Dr Suwarno Wisetrotomo, M Hum. Amin melakukan pameran di Galeri Fadjar Sidik, ISI Yogyakarta mulai 29 Mei -7 Juni 2018. Ada pun tema yang diangkat Amin adalah Iron Cocoon.

When The Sun Goes Down, watercolor, acrylic, ink, ink, silver and gold on paper, 120 x 45 cm, 2018, karya Amin Taasha-Foto-A.Sartono
When The Sun Goes Down, watercolor, acrylic, ink, ink, silver and gold on paper, 120 x 45 cm, 2018, karya Amin Taasha-Foto-A.Sartono

Amin memiliki kesukaan dan kemampuan membaca puisi-puisi klasik Afghanistan yang penuh aphorisma, nilai-nilai kehidupan dengan bahasa puitik-simbolik. Hal ini menjadi salah satu modal penting sehingga sensivitasnya terasah. Di samping itu, Amin juga mempertanyakan atau mempersoalkan perkara kebebasan, keterbatasan, dan seperti atau bagaimana pula kaitannya dengan takdirnya.

Untitled 6, mix media, silver and gold on book paper, 13 x 19 cm, 2018, karya Amin Taasha-Foto-A.Sartono
Untitled 6, mix media, silver and gold on book paper, 13 x 19 cm, 2018, karya Amin Taasha-Foto-A.Sartono

Setumpuk lapis-lapis pengalaman itu tidak membuat Amin menjadi pemberang, tidak menjadikan karya-karyanya sebagai ekspresi kemarahan atau kekecewaan. Namun sebaliknya, karya-karya menyodorkan kelembutan jiwa melalui garis-garis, sapuan, dan pilihan warnanya. Sapuan warna kehitaman mencitrakan panorama, sedangkan warna keemasan dihasratkan Amin sebagai narasi terkait penghayatan terhadap hidup dan kehidupannya yang bertolak dari pengalaman.

The Act of Wisdom, watercolor, acrylic, silver and gold on paper, 120 x 45 cm, 2018, karya Amin Taasha-Foto-A.Sartono
The Act of Wisdom, watercolor, acrylic, silver and gold on paper, 120 x 45 cm, 2018, karya Amin Taasha-Foto-A.Sartono

Sebagian besar karya Amin seperti menatap panorama penuh misteri yang menarasikan perkara perjuangan, hambatan, kebersamaan, toleransi, dan kematangan mental-spiritual. Karya Amin juga menampilkan sosok-sosok dalam ukuran kecil, seperti Budha, kuda, burung, lotus, atau candi di tengah hamparan semesta. Setiap karya juga dilengkapi headset untuk mendengarkan musik yang melatarbelakangi tampilan karya. Sengaja hal itu dilakukan Amin agar apresian dapat menikmati, mengalami, masuk, merasuk, dan berkontemplasi atas pesan dan makna yang disodorkan oleh karya itu.

Salah satu karya instalasi Amin Taasha-Foto-A.Sartono
Salah satu karya instalasi Amin Taasha-Foto-A.Sartono

Pengalaman-pengalaman hidup yang dialami Amin menjadi bekal untuk menjadi “kepompong besi” yang pada gilirannya akan melahirkan kupu-kupu (kebebasan) yang tangguh. Ketangguhan Amin Taasha mewujud dalam kelembutan yang menyentuh jantung kesadaran kia sebagai manusia. Suatu kesadaran spiritualitas yang menggugah siapa pun. Kesadaran bahwa sesungguhnya hidup dan kehidupan itu adalah dalam rangka dan dalam kerangka menorehkan sejarah peradaban yang memberikan pencerahan bagi orang lain. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here