Bukan kenyataan yang membuatmu ragu … tapi hatimu…. Tentang cinta, tentang berkat, tentang pengharapan. Itulah inti dari lakon “Secangkir Teh” yang dituliskan oleh Romualdo Situmorang dan dipentaskan di Gedung Societet Militaire Taman Budaya Yogyakarta, Selasa malam, 5 Juni 2018. Pementasan yang disutradarai oleh Byta Indrawati ini sekaligus sebagai bentuk Tugas Akhir Penyutradaraan dalam belajar di Jurusan Seni Teater Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Pementasan melibatkan setidaknya 11 orang pemain, seorang sutradara, pimpinan produksi, penata musik, penata make up, penata kostum, stage manager, penata gerak, penata setting, lighting, 9 orang pemusik, dan 11 orang tim kreatif. Selain itu, bertindak sebagai supervisor adalah Prof Hj Yudhayanti MA dan Silvia A Purbo MSn.

Cinderella dan Putri merasa sama-sama sebagai Cinderella yang sesungguhnya-Foto-A.Sartono
Cinderella dan Putri merasa sama-sama sebagai Cinderella yang sesungguhnya-Foto-A.Sartono

Lakon ini berangkat dari kisah seorang gadis bernama Putri yang bermimpi menjadi seorang Cinderella. Di dunia mimpi itu Putri bertemu dengan para peri yang terus mencari Cinderella karena Cinderella melarikan diri. Pencarian para peri berjalan lama sekali namun para peri tetap teguh bertahan untuk terus mencari Cinderella. Putri heran mengapa mereka kuat bertahan. Jawab para peri itu ialah, karena mereka punya harapan.

Dalam mimpi itu pula Putri bertemu dengan Ratu Mimpi yang menyatakan bahwa Putri tidak akan mungkin menjadi Cinderella. Salah satu alasannya adalah karena Ratu Mimpi itulah Cinderella yang sesungguhnya. Hal ini menyebabkan Putri bingung, tidak mengerti, sekaligus tidak percaya. Ratu Mimpi menyatakan bahwa menjadi Cinderella itu menyakitkan. Harus menunggu pangeran, bukan dijemput. Harus tampil cantik selalu. Harus begini, harus begitu. Itu adalah siksaan.

Byta Indrawati menyerahkan kenang-kenangan kepada Romualdo Situmorang-Foto-A.Sartono
Byta Indrawati menyerahkan kenang-kenangan kepada Romualdo Situmorang-Foto-A.Sartono

Ratu Peri menghibur Putri dan siap mengantar pulang. Putri berpesan kepada Ratu Peri agar mengatakan pada pangeran bahwa dirinya adalah Cinderella. Ia mohon agar pangeran mempercayainya. Para Peri yang lain juga menanyakan mengapa Putri tidak mengenakan sepatu kaca. Putri menyatakan bahwa perihal sepatu kaca adalah hal yang harus dirahasiakan. Semua itu atas usulan pangeran. Para peri menjawab pula bahwa perihal pangeran mau datang ke istana atau tidak itu juga rahasia. Kehendak Putri untuk menuju istana pun menjadi batal karena muncul keragu-raguan. Putri takut pada kenyataan. Hal yang membuat ragu mungkin bukan kenyataan itu sendiri tetapi lebih kepada hatinya sendiri.

Hari itu juga Putri berulang tahun, namun tidak ada ucapan atau kado dari pangeran. Padahal dalam ingatannya, ulang tahun tersebut selalu mereka rayakan dengan minum secangkir teh. Di tengah situasi semacam itu tiba-tiba datang pangeran dan para peri merayakan ulang tahun Putri yang merasa diri sungguh menjadi Cinderella. Namun sebelum pesta usai, Putri kembali ke alam nyata, bangun dari tidurnya.

Kemesraan Putri sebagai Cinderella dengan Pangeran dalam dunia mimpi Putri-A.Sartono
Kemesraan Putri sebagai Cinderella dengan Pangeran dalam dunia mimpi Putri-A.Sartono

Ketika tidur dan kembali ke alam mimpi Putri bertemu Ratu Bahagia yang mengajak ke Istana Bahagia untuk bertemu pangeran. Namun di Istana Bahagia Putri yang merasa diri sebagai Cinderella justru dinyatakan bahwa apa yang ada pada dirinya adalah palsu. Ia bukan Cinderella Putri kemudian membenci diri sendiri, membenci mimpi, ia tidak mau lagi dicintai pangeran karena malam telah lewat. Di tempat itu pula ada banyak tokoh yang mengaku diri sebagai Cinderalla. Ia ditinggalkan seorang diri dan dikatakan bahwa pangeran akan datang terlambat.

Di tengah situasi semacam itu Putri justru bertemu dengan Cinderella yang sesungguhnya yang bisa menunjukkan bahwa ia mengenakan sepatu kaca. Cinderella asli mengatakan bahwa apa yang dirasakan Putri sama dengan yang dirasakannya. Putri tersadar dari mimpinya, namun Cinderella menyatakan bahwa Putri adalah Cinderella, sama dengan Cinderella yang sesungguhnya. Cinderella asli saat itu sedang dicari para peri untuk diajak ke Istana Bahagia untuk bertemu Pangeran. Namun Cinderella mengatakan bahwa pangeran lah yang harus mencari dan menjemputnya. Hal itu juga disetujui oleh Putri. Akhir cerita, Putri sungguh merasa menjadi Cinderella. Cinderella dan Putri bersama-sama menjadi Cinderella yang sebenar-benarnya.

Jika ada sedikit kelemahan dari pementasan ini mungkin hanya terletak pada sisi teknis yang sering tidak bisa diprediksi. Pertama adalah sound system yang tiba-tiba bermasalah di awal pertunjukan dan molornya pelaksanaan pertunjukan, di undangan dituliskan pukul 20.00 WIB namun kenyataan dilaksanakan pukul 22.40 WIB. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here