Bagaimana perupa perempuan mengangkat persoalan domestik perempuan lewat karya seni rupa? Enam belas perempuan yang tergabung dalam kelompok “:empu” membuat karya-karya yang estetis perihal persoalan domestik mereka. Kesadaran gender dalam pameran ini tampak mencolok. Menurut pengantar pameran yang ditulis Irene Agrivina, mereka tidak berupaya mengritik atau mempertanyakan kembali peran mereka sebagai perempuan. Mereka justru lebih merayakan peran dan kekuatan tersebut dalam teritori domestik.

Estetika pada obyek-obyek seputar rumah tangga dan peran mereka di rumah dan di lingkungannya dipresentasikan pada karya-karya mereka di Institut Francais Indonesia Yogyakarta. Para perupa tersebut, menurut Irene, justru mencari dan menilik ulang kembali pencapaian dan apa yang belum tercapai bagi mereka. Beberapa karya merepresentasikan dan melihat kembali posisi dan keterlibatan mereka sebagai perempuan dan alam sekitar mereka.

Anna Nurwidayanto, 'The Sweetness of Doing Nothing'. Foto Barata
Anna Nurwidayanto, ‘The Sweetness of Doing Nothing’. Foto Barata

Jelas kenapa kelompok ini dinamakan :empu, karena kata ini merupakan bagian dari kata ‘perempuan’. Arti kata ‘empu’, kata Irene, adalah ‘tuan’ atau ‘orang yang mahir/ahli dan dihormati’. Perupa perempuan, adalah sebagai pelaku, seorang empu terhadap karya-karyanya.

Kelompok :empu terdiri dari Agni Tripratiwi, Amber Kusuma, Anik Indrayani, Anna Nurwidayanti, Caroline Rika Winata, Endang Lestari, Hety Nurani Handaruwiyah, Kana, Laila Tifah, Lashita Situmorang, Lelyana Kurniawati, LiestiYanti Purnomo, Retno Redwindsock, Tini Jameen, Utin Rini, dan Warsiyah.

Endang Lestari, 'MIOPMIC 3'. Foto Barata
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Yang tak kalah menarik, seperti disampaikan Irene, karya pameran dibagi dalam tiga kategori yang menyimbolkan ranah-ranah domestik yang selama ini menjadi keseharian para perupa ini. Karya-karya yang terdapat di ruang tamu memperlihatkan bagaimana hubungan perupa dengan lingkungan dan situasi sosial di luar ranah domestik. Kemudian karya-karya di ruang dapur dan ruang makan memperlihatkan ranah-ranah rutinitas domestik yang terjadi dalam keseharian. Karya-karya di ruang tidur menyimbolkan mimpi-mimpi yang selalu dibawa para perupa, yang mungkin terjadi maupun tidak mungkin terjadi.

Konten Terkait:  Sarimbit: Inspirasi Kemesaraan Otok dan Choen dalam Berkarya

Dalam pameran pada pertengahan Mei ini, ada karya-karya yang cukup “keras” mengekspresikan kehidupan perempuan. Misalnya, karya Endang Lestari yang melatari perempuan dengan roda-roda mesin. Karya berjudul ‘MIOPMIC #3 (Making Imaginary Objects which Placed Me to Industrial Culture)’ ini bisa dilihat sebagai rutinitas fungsional atau sebagai komponen mekanis dalam hidup keseharian. Ada pula lukisan Laila Tifah ‘Teror’ yang mencekam, balutan baju perempuan yang kosong di bagian leher dan kepala, hanya kaki yang tampak.

Tini Jameen, 'Harapan'. Foto Barata
Tini Jameen, ‘Harapan’. Foto Barata

Begitu pula karya tiga dimensi Caroline Rika Winata ‘to be #2’ dengan fashion yang menutupi wajah dan menghalangi pandangan perempuan. Gambar ‘Nesting’ karya Bonita Margaret menunjukkan kerentanan, sebuah rumah cantik yang bertumpu pada ujung ranting. Karya Amber Kusuma ‘O. Vulgaris’ memperlihatkan perempuan “multitasking” bertangan banyak yang masing-masing bekerja.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here