Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Basukarna yang telah diangkat menjadi adipati di negara Awangga oleh Duryudana adalah anak temon. Bukan anak Adirata dan Nyai Rada. Lalu anak siapakan pemuda tampan yang senang memandang matahari di siang yang terik itu?

Ia ditemukan di sungai Gangga oleh Adirata, 20 tahun lalu. Waktu itu, ketika Adirata sedang membasuh badannya di Sungai Gangga, ia terkejut melihat dari kejauhan sebuah benda yang berkilau-kilau. Tanpa pikir panjang Adirata berenang menyongsong benda tersebut. Lebih terkejut lagi setelah diketahui bahwa benda berujud peti kecil terbuka yang dinamakan gendaga tersebut berisi bayi mungil yang memakai pakaian perang yaitu Kotang Kerei Kaswargan, semacam baju zirah dan anting mustika.

“Bayi siapakah ini?” Dengan raut muka berbinar-binar, Adirata mengambil gendaga dan bergegas membawanya pulang. Orang separuh baya itu menjadi tidak sabar untuk segera memberitahukan kabar sukacita ini kepada Rada isterinya.

Istrinya pun tidak kalah sukacita dengan penemu langsung bayi itu. Bagaikan kejatuhan rembulan pasangan suami isteri yang lebih dari dua dasa warsa berumah tangga belum dikaruniai anak, tiba-tiba menemukan bayi di sungai. Apalagi bayi tersebut bukanlah bayi sembarangan, jika dilihat dari kedua benda yang melekat di tubuhnya dan perlengkapan yang disertakan.

Bayi ajaib, demikian orang menyebutnya. Bayi yang kulitnya bercahaya tersebut dikukup dengan penuh syukur sebagai anak untuk diasuh dan digulawentah dengan ketulusan, dan penuh sukacita. Ia diberi nama Basukarna atau Karna, sesuai dengan tulisan yang disertakan. Juga disebut Wasusena karena waktu diketemukan memakai pakaian perang. Sedangkan orang-orang di sekitarnya menyebut Karna dengan nama panggilan Radeya yang artinya anak dari Nyai Rada.

Hingga saat ini, belum diketahui anak siapakah Karna itu? Pasangan sais kereta itu pun rupanya tidak berniat untuk mengetahuinya. Atau kemungkinan sudah tahu tetapi tidak memberi tahu kepada Karna. Ada rasa khawatir mungkin, jika kemudian diketahui orang tuanya, Karna akan meninggalkan dirinya.

Karna sendiri pada mulanya menggugat. Mengapa dirinya direndahkan, hanya karena anak seorang sais kereta. Apakah semua anak seorang sais direndahkan seperti dirinya? tidak mendapatkan kesempatan yang sama dalam hal belajar, dibandingkan dengan anak seorang ksatria? Bahkan ketika anak seorang sais menunjukkan kemampuannya dan dapat mengimbang anak seorang ksatria tetap saja tidak diakui. Ini tidak adil.
Tetapi apakah semua ksatria dan brahmana merendahkan anak sorang sais yang sudra ini? jangan-jangan yang merendahkan anak seorang sais hanya Arjuna dan tidak yang lain.

Pengalaman yang menyakitkan adalah ketika ia ditolak Dewi Drupadi di muka umum, bukan lantaran gagal menarik busur pusaka yang disayembarakan, melainkan karena dirinya adalah seorang sudra, anak seorang kusir kereta. Juga ketika ia mampu mengimbangi seorang brahmana muda dalam berolah senjata panah, tidak ada orang yang memujinya, bahkan mencibir dirinya, yang dianggap nyangklak. Tidak sopan, berani-beraninya seorang sudra menandingi seorang brahmana.

Oleh karena pengalaman yang menyakitkan itulah, nama Drupadi dan Brahmana muda yang kemudian diketahui bernama Arjuna tersimpan di hatinya, untuk dijadikan biang keladi bermuaranya hinaan-hinaan bagi dirinya, yang dianggap berkelas rendah.

Selagi dalam keterpurukan dan merasakan betapa pahitnya hidup ini, Duryudana hadir dengan mengangkat Karna menjadi adipati agar merasakan betapa manisnya hidup ini. Dengan demikian ada tiga nama yang ditulis tebal dalam kehidupan Karna, yaitu Drupadi, Arjuna dan Duryudana. Nama yang terakhir disebut adalah nama yang menjadi titik balik hidupnya dari kehinaan menjadi kemuliaan.

Pengangkatan menjadi adipati, menjadikan Karna dapat memandang cakrawala hidup yang lebih jauh dan luas. Dengan demikian ia dapat berbuat lebih banyak bagi hidup dan kehidupan. Maka tidaklah heran jika kemudian nama Duryudana telah menyita sebagian besar dari hidup yang didarmakan.

Dalam waktu dekat Karna ingin menunjukan kepada Drupadi dan Arjuna, bahwa dirinya telah berubah. Tidak lagi sebagai orang pepriman yang dapat seenaknya dihina dan direndahkan. Tetapi sudah menjadi orang yang dimuliakan. Seorang adipati yang disembah orang di seluruh Negeri Awangga.

Namun ternyata tidak semua orang berada di bawah kuasanya. Buktinya, orang tuanya sendiri menolak dengan tegas untuk diboyong di kadipaten. Mereka lebih memilih tinggal di kampung halamannya yang tenang dan damai. Jika Karna rindu kepada orangtuanya, ia menanggalkan mahkotanya untuk pulang dan kembali menjadi anak seorang sais kereta yang berbakti.

Pada awalnya Karna bisa membagi waktu untuk berbakti kepada negara dan berbakti kepada orangtua. Namun lambat-laun, ia merasa kesulitan untuk menyisihkan waktunya untuk orangtua. Karena tidak mempunyai kuasa untuk menolak, hari-harinya tersandera untuk meladeni keingingan Duryudana. Memang itulah yang dikehendaki. Kedudukan adipati yang diberikan Duryudana bukannya tanpa alasan. Jabatan itu bagaikan tali yang telah menelikung dirinya. Apa yang ia lakukan dan apa yang ia kerjakan tidak untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kedudukannya dan demi jabatannya.

Jiwa ksatria seorang Karna pantang mengingkari sumpahnya sebagai pemangku jabatan yang dianugerahkan. Oleh karenanya, ia merasa berutang budi tak terhingga besarnya kepada orang yang menjadi lantaran datangnya sebuah anugerah. Yaitu Duryudana. Kepada dialah bakti ini akan ia darmakan sampai mati.

Di sore hari yang redup, Karna menerima selembar daluwang (kertas) dari gandhek sakembaran, yang bertuliskan agar saat ini juga Karna datang ke balai agung Hastina untuk bersama-sama Duryudana dan Sengkuni menghadap Prabu Destrarastra.

Karna tersenyum, hatinya membuncah bahagia. Sekarang aku tidak lagi sebagai orang sudra, melainkan sebagai yang mulia yang diundang untuk datang dan duduk bersama seorang pangeran, seorang patih dan juga seorang raja.

Sepeninggal kedua gandhek penghantar surat, Karna bersiap-siap. Orang yang bakal mengiring perjalanan Karna mulai menyalakan lampu obor, demikian juga dengan lampu minyak di kanan kiri kereta, untuk menerangi jalan yang bakal dilalui dari Wangga ke Hastinapura.

Ketika persiapan sudah selesai, kereta pun mulai bergerak meninggalkan tempatnya. Suara roda kereta, tepak kaki dan ringkikan kuda, ditambah dengan bunyi bel, cambuk dan aba-aba si sais kereta, bagaikan suara tembang yang riuh di penghujung sore. Seriuh hidup Karna yang sudah berstatus yang mulia. (bersambung)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here