Menarik bahwa dalam rangkaian pameran Art Jog 2018 seni drawing ikut dihelat. Dikatakan menarik karena drawing tergolong karya seni rupa yang jarang dipamerkan. Kali ini drawing dipamerkan di Kersan Art Studio dengan tajuk ‘Keydraw Keyword’.

Peserta pameran ini tergabung dalam Forum Drawing Indonesia (FDI). Anggotanya tersebar di sejumlah kota, yakni Abdullah Ibnu Thalhah (Semarang), Anis Kurniasih (Solo), Eduard ‘Edo Pop’, Hayatuddin, Joko ‘Gundul’ Sulistiyono, Riki Antoni (Yogyakarta), Dhanoe Jopram, Mufi Mubaroch (Surabaya), Kris Dologh (Lamongan), Wahyu Nugroho, Garis Edelweiss (Pasuruan), Desy Gitary, Lenny Ratnasari, Mellisa Jayatri (Jakarta), Nandanggawe, Iwan Ismail (Bandung), serta kurator Jajang R Kawentar (Tasikmalaya).

Menurut koordinator pameran, Edo Pop, ada berbagai paham drawing yang mewarnai keberagaman drawing sebagai kekayaan Indonesia. Oleh karenanya tercetus rancangan membuat FDI, dan sebagai momentumnya adalah pameran drawing pada 2 Mei 2018 di Kersan, Yogyakarta. Lewat pameran ini, FDI juga ingin mencanangkan tanggal 2 Mei sebagai hari seni menggambar bagi semua.

Jopram, 'Imaji Purba', balpoin, akrilik, cat semprot di atas kanvas. Foto Barata
Jopram, ‘Imaji Purba’, balpoin, akrilik, cat semprot di atas kanvas. Foto Barata

Pameran yang berakhir pada minggu awal Juni ini sungguh menawan, bukan saja karena kualitas karya-karyanya tetapi juga keberagamannya. Media yang dipakai juga bermacam-macam, mulai dari pensil, bolpoin, marker, carcoal sampai akrilik. Masing-masing perupa juga menyertakan pendapatnya tentang drawing.

Anis Kurniasih, misalnya, beranggapan hal yang menarik dari drawing adalah hadirnya garis sebagai unsur dan ciri utama. Namun garis bukanlah sekadar pembentuk sebuah bidang atau arsiran belaka. Anis menganalogikan, medium gambar serupa dengan realita yang besar dan luas, sementara manusia adalah tinta dalam tubuh kecil bolpoin. Drawing Anis yang imajinatif dan indah berupa ular dengan kupu-kupu yang mencuat dari tubuhnya. Karya ini menunjukkan peran garis yang menonjol, yang dibuat dengan marker, akrilik dan cat semprot di atas kayu.

Begitu pula dua drawing Edo Pop dengan media akrilik di atas kanvas, seperti biasanya menampakkan goresan garis yang dominan. Figur-figur imajinatif dan latarnya dalam gaya khas Edo menonjolkan garis dan tekstur beserta warna-warna yang memikat, yang juga menyiratkan ketekunan ekstra. Menarik pula karena karya-karyanya yang selama ini kerap disebut sebagai lukisan, dalam pameran ini ditegaskan sebagai drawing.

Nandanggawe, 'Ndankenstein series', tinta, kolase kertas dan media campuran. Foto Barata
Nandanggawe, ‘Ndankenstein series’, tinta, kolase kertas dan media campuran. Foto Barata

Drawing di atas kanvas yang berwarna-warni juga ditunjukkan oleh Wahyu Nugroho yang juga memakai akrilik. Wahyu menyebut karyanya sebagai drawing karena menggunakan elemen utama garis, dalam bentuk garis outline dan arsir. Begitu pula karya Jopram yang memakai bolpoin, akrilik dan cat semprot. Secara teknis, katanya, dalam berkarya dengan media pulpen, ia bisa menggerakkan imaji secara liar dengan beragam teknik dan gaya tanpa beban. Menurutnya, drawing tidak sebatas menggambar, melainkan upaya menciptakan art idealism secara personal.

Lenny Ratnasari Weichert, yang biasanya menggarap patung, kali ini menampilkan sosok-sosok manusia yang terbuat dari silikon, yang masing-masing digantung secara horisontal dengan benang yang berjajar. Di belakangnya sebuah layar putih bertuliskan Let It Be. Menurut Lenny, ia menggambar tentang hal-hal melampaui apa yang terlihat pada umumnya, kombinasi patung dengan efek permukaan polos dengan bayangan. Sketsa yang semula ia buat pada akhirnya terungkap dalam garis drawing. Bentuk tiga dimensi dan garis drawing bayangan dua dimensi.

Edo Pop, ;#1' & '#2', akrilik pada kanvas. Foto Barata.
Edo Pop, ;#1′ & ‘#2’, akrilik pada kanvas. Foto Barata.

Di tengah keberagaman ini, tetap ada drawing “konvensional”, seperti karya Garis Edelweis yang memakai pensil di atas kayu pinus dan Kris Dollogh yang menggunakan pensil di atas kayu. Kris biasa memakai pensil dalam berkarya. Secara teknis, menurutnya, ujung pensil mekanik (0,5) untuk membuat arsiran atau guratan berulang kali (sesuai kebutuhan gelap terangnya) sangat mewakili rasa. “Kedekatan antara pensil dan kanvas serta intensitas waktu yang relatif lebih lama lebih terasa dan terasah,” katanya.

Kurator Jajang Kawentar menjelaskan bahwa ketujuh belas perupa drawing yang terlibat ini cukup berdedikasi tinggi. Hasrat menggambar mereka atau menggambar hasratnya saling berpaut. Menurut Jajang, apa pun yang terjadi pada karyanya itulah kenyataan terkini seni drawing. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here