Puisi Marlin Dinamikanto

0
108
Marlin Dinamikanto
Marlin Dinamikanto

Biarkan Rindu

Biarkan rindu liar membelukar
Kelak kujadikan taman nasional
Memelihar agajah dan orang utan
Agar cinta berkarib kehidupan

Biarkan rindu riang berenang
Di tepian pantai yang buas
Menitip cinta pada gelombang
Agar ombak tidak mengganas

Rinduku yang terbang liar
Kelak kujadikan hutan lindung
Keragaman hayati ditangkar
Segala bunyi bersenandung

Rinduku adalah kunang-kunang
Menari tanpa benang – biarkan
Terbang mengikuti angan

RumahPalagan, 5 Mei 2018

StasiunTugu

Selagi kereta api belum terlihat menunggu
Di jalur lima stasiunTugu – tak baik membelenggu
Hasrat yang mengental seperti bubur sagu

Kata pak dokter tak boleh terjadi penyumbatan
Hasrat yang ingin mengalir – tuntaskan saja
Sebelum pukul tujuh belas empat lima

Tapi hasrat sudah pergi – tak jadi berkelana
Selain duduk menepi dan bersandar
Dinding yang menyimpan banyak cerita

Yogyakarta, 5 Mei 2018

Pak Tua itu Bercerita

Pak Tua itu bercerita tentang lukisannya
Bergambar embun yang hendak diwariskan
Kepada cucunya – tapi siapa dia lupa
Anak pun tak punya. Dia hidup sendirian
Setelah diusiristrinya yang menyesal
Menikah dengan seniman. Tanpa pensiunan
Hidup sekedar ingin menjadi perbincangan
Para kritikus di koran-koran lokal

Pak tua itu semakin sedih. Tak menemukan cucu
Pewaris lukisan embun bergura tmeratap
Seperti air mata – tapi itu lukisan embun
Bukan air mata. Dipaksa sirna oleh pagi
Setidaknya menepi seperti dirinya
Seniman tua yang diusir oleh istrinya
Tak pula dihiraukan teman-temannya

Pak tua itu terus bercerita. Sendiri saja
Kepada gelas-gelas kosong di depannya
Hingga malam mengingatkannya pulang
Pulang kemana? – setelah diusir istrinya
Dari rumah yang tak pernah dimilikinya
Setelah angsuran 20 tahun dilunasinya

Pak tua itu tumben, tak mau lagi bercerita
Saat teman-temannya berkumpul di angkringan
Rumah Budaya Tembi yang masih ramai
Ibu-ibu yang memotret anaknya berlatih tari
Seolah mereka cucunya. Tapi bukan

Pak tua itu tak lagi datang di bulan purnama
Sedih dan menghilang setelah lukisan embun
Dijual murah– merasa bersalah kepada cucu
Ahli waris yang sudah lama diatunggu

Sudah tiga purnama Pak Tua menghilang
Mencari cucunya yang tak pernah ada
Selain di angan dan pikirannya

Rumah Tembi, 4 Mei 2018

Rindu dan Hasrat

Merawat rindu lebih mudah ketimbang beternak hasrat
Sebab rindu binatang kelangenan. Sedangkan hasrat lebih mirip
Ayam hutan yang tak mau dikandangkan

Jakarta, 6 Mei 2018

Marlin Dinamikanto, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1969. Pada usia 11 tahun ketika masih SMP, ia diajak Yonas Suharyono mengikuti diskusi Persada Studi Klub (PSK) di Bintaran Kidul sekaligus belajar menulis puisi kepada Soewarno Pragolapati. Setelah kuliah sibuk di dunia gerakan – tepatnya ikut Yayasan Pijar. Di sana menjabat Pimred Kabar dari Pijar (1995-1999). Ia kembali aktif menulis puisi sejak 2011. Sedang menyiapkan Antologi Tunggal “Yang Terasing dan Mampus” setelah beberapa puisinya hadir di sejumlah antologi bersama dan dimuat di sejumlah media online.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here