Pameran yang tergolong langka berlangsung di RuangDalam Art House, Yogyakarta, yakni pameran konservasi lukisan ‘Landscaping My Brain’ karya Entang Wiharso. Lukisan yang dibuat Entang pada tahun 2001 ini mengalami sejumlah kerusakan. Pameran ini memajang lukisan berukuran 600 cm x 97 cm tersebut, yang masih menjalani proses konservasi. Lukisan ini merupakan koleksi Melani Setiawan.

Menurut Novva Dj, staf RuangDalam, proses konservasi ini sudah berlangsung sekitar 2,5 bulan. Diperkirakan masih butuh waktu cukup panjang untuk memperbaiki semua kerusakan. Konservasi ini menunjukkan ketekunan luar biasa dan keahlian prima yang dilakukan oleh Eliza O’Donnell.

Bagian lukisan yang sudah dikonservasi, di antaranya dengan cat air. Foto Barata
Bagian lukisan yang sudah dikonservasi, di antaranya dengan cat air. Foto Barata

Konservator lukisan ini menyelesaikan jenjang S2 di bidang konservasi lukisan di Universitas Melbourne, Australia. Kini ia sedang menempuh jenjang S3 di bidang dan universitas yang sama. Disponsori Project Eleven, Yayasan Rumah Melani dan RuangDalam Art House, Eliza menjalani program residensi selama tiga bulan untuk konservasi ini.

Selain pameran, juga dilangsungkan workshop konservasi lukisan. Sebelumnya dilakukan panggilan terbuka (open call) program workshop konservasi lukisan. Dua aspek kriteria terpenting adalah dampak keberlanjutan (sustainability) dan aspek aplikatif. Terpilih 4 peserta, dari 16 aplikasi yang masuk dari Yogyakarta, Bogor, Tuban, dan Malang.

Alat konservasi berupa mikroskop digital dan UV light. Foto Barata
Alat konservasi berupa mikroskop digital dan UV light. Foto Barata

Pengantar pameran menjelaskan, konservasi ini berusaha seminimal mungkin melakukan intervensi terhadap lukisan melalui stabilitasi dan sentuhan ulang (retouching). Setidaknya pada kerusakan dangkal, dan tetap menjaga estetika otentik karya.

Untuk keperluan pendidikan dalam workshop, beberapa karya yang semestinya mendapatkan perlakukan konservasi, sengaja dibiarkan untuk menimbulkan diskusi seputar persepsi kerusakan, dan sampai pada tahap apa karya tersebut sebaiknya dikonservasi. Dalam konservasi lukisan, senantiasa dipertimbangkan pendekatan apa yang paling tepat, siapa yang harus melakukan pekerjaan, dan ilmu apa yang diterapkan.

Dalam workshop dan pameran dijelaskan beberapa tipe kerusakan, yakni kerusakan ringan, kerusakan moderat dan kerusakan signifikan, serta kerusakan akresi dan jamur. Pada kerusakan ringan, lapisan cat bagian atas yang asli telah hilang dari lukisan. Perbaikannya dengan cara mengekspos bagian dasar atau lapisan cat di bawah. Selain itu, dilakukan retouching pada kerusakan ringan dengan menggunakan cat air.

Ada pula kerusakan akresi, yakni penambahan tidak disengaja bahan asing, bukan asli. Dalam kasus lukisan Landscaping My Brain, ada kardus yang menempel di bagian lukisan. Noda lainnya adalah jamur. Lukisan di iklim tropis sangat rentan terhadap kerusakan biologis akibat pertumbuhan jamur. Pada lukisan ‘Landscaping My Brain’ ditemukan spora jamur putih yang menempel, yang kemudian berhasil dihilangkan selama proses stabilisasi.

Proses konservasi juga diawali dengan studi terhadap lukisan-lukisan Entang Wiharso, melalui foto lukisan Entang di berbagai katalog pameran maupun konsultasi dengan Entang. Lukisan Landscaping My Brain kemudian difoto, untuk kemudian pada foto tersebut diberi tanda penanganan.

Foto bagian lukisan yang ditandai jenis kerusakan dan penanganannya. Foto Barata
Foto bagian lukisan yang ditandai jenis kerusakan dan penanganannya. Foto Barata

Pada kerusakan moderat, mengacu pada kerusakan yang lebih dalam yang mengekspos lapisan dasar dan membutuhkan pengenalan bahan pengisi sebelum retouching. Area-area ini terletak di area yang menonjol dan beberapa kerusakan sedang diisi dan perbaikan selama perawatan ini menggunakan bahan-bahan kelas konservasi yang dapat dikembalikan. Prinsip reversibilitas dalam pemilihan material retouching sangat penting untuk pertimbangkan konservasi secara etis dan memungkinkan materi non-orisinal yang diperkenalkan pada lukisan tersebut untuk dihapus pada tahap selanjutnya.

Kerusakan signifikan berupa kemerosotan meluas pada lapisan cat asli melalui kehilangan/kerusakan media yang luas dan terletak di area yang menonjol dalam materi subjek (lukisan yang terkait), seperti wajah pada figur di masing-masing panel dari ketiga panel tersebut. Dalam konsultasi dengan Entang Wiharso, keputusan untuk meninggalkan bidang kerusakan signifikan yang tidak ditangani saat ini dibuat berdasarkan waktu, sumber daya tingkat konservasi, serta pertimbangan etis mengenai langkah-langkah perawatan interventif dan peran konservator.

Dipajang pula sejumlah alat konservasi yang di antaranya memungkinkan untuk melihat lapisan di bawah cat. Pameran yang berakhir pada paruh Mei ini, terlebih dengan adanya workshop konservasi lukisan, bermanfaat bagi para perupa maupun pemilik lukisan, terutama di Yogya sebagai salah satu poros seni rupa Indonesia. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here