Lebih dari sepuluh tahun desainer Oscar Lawalata berkarier di industri fashion tanah air. Kecintaannya pada wastra Nusantara yang diwujudkan dalam karya semakin berkembang dari tahun ke tahun. Tak hanya itu, perancang busana kelahiran 1 September 1977 ini kerap membawa wastra Nusantara keliling dunia.

Belakangan penulis buku I Am Indonesian yang berisi tentang bagaimana Oscar mengeksplorasi kekayaan wastra Indonesia ini sedang disibukkan dengan kegiatannya bersama Bina Mandiri, membantu UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang bergerak di bidang pengrajin batik. Bersama Bina Mandiri, Oscar ingin mengembangkan batik Jawa Timur, antara lain Kediri, Sidoarjo, Madura, Trenggalek, Ponorogo dan Tuban.

Pemilik nama lengkap Oscar Septianus Lawalata ini memilih Jawa Timur, karena batik lain khususnya Jawa Tengah sudah lebih populer dibandingkan dengan daerah lain. “Di Jawa Timur banyak sekali pengrajin batik dan bagus-bagus sekali, terutama batik dengan pewarnaan alamnya. Kita kemudian research dan memetakan daerah mana saja yang bisa dikembangkan batiknya, terpilihlah lima daerah tersebut,” ungkap Oscar saat ditemui Tembi di Kawasan Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

Oecar Lawalata Ingin Batik Jadi Barang Ekslusif
Oecar Lawalata Ingin Batik Jadi Barang Ekslusif

Menurut Oscar, motif batik di daerah Jawa Timur memiliki keunikan tersendiri, belum lagi tiap pengrajin batik pun memiliki goresan tersendiri. “Saya tidak membantu mereka membatik, karena saya sendiri nggak bisa membatik, saya hanya membantu mengembangkan apa yang mereka punya misalnya, teknik pewarnaan, kombinasi motif atau mengatur gradasi warna,” ungkapnya.

Oscar juga sedih, karena semakin hari semakin sedikit pengrajin batik, hanya mereka yang berusia tua yang masih mau membatik, sementara yang berusia muda lebih memilih bekerja di pabrik atau menjual pulsa karena menganggap membatik tidak keren atau ketinggalan zaman. “Saya sering bilang ke mereka, khususnya yang muda-muda, pembatik itu profesi loh, bayangkan saya aja gak bisa membatik, bahkan presiden aja nggak bisa membatik, harus bangga jadi pembatik,” paparn saudara kandung Mario Lawalata ini.

Konten Terkait:  Hardi: Sang Presiden di Antara Para Presiden

Tugas Oscar adalah mengembangkan batik tersebut, bagaimana saat ia membuat dress atau pakaian dari batik yang dilihat justru keindahan motif batiknya, bukan bajunya. “Itu Challenge-nya, bagaimana kita para desainer jangan sampai merusak batiknya, yang ditampilkan kainnya bukan bajunya, siasat saya memberikan potongan-potongan sederhana demi menonjolkan kain Nusantara itu,” ujanya.

Oscar Lawalata Bersama Desainer dan Pendukung Pameran Batik di UNESCO
Oscar Lawalata Bersama Desainer dan Pendukung Pameran Batik di UNESCO

Bukan kali pertama Oscar membawa wastra Nusantara keliling dunia. Kali ini ia akan membawanya ke UNESCO, Paris dimana semua karya yang tampil di sana betul-betul dikurasi dan semua negara antri untuk tampilkan karya disana. Kali ini Oscar bersama desainer lain didukung oleh Djarum Bakti Budaya dan Bank Mandiri membawa 100 wastra Indonesia dari berbagai daerah di Indonesia, sekaligus memboyong 30 pengrajin batik untuk membatik di sana.

“Dunia harus melihat proses pembuatan batik, jadi mereka bisa menghargai batik atau kain Nusantara kita, bukan tak mungkin apa yang kita miliki bisa dihargai seperti barang-barang di luar sana, pengrajin levelnya naik, proses dihargai, budaya juga dihargai, value batik semakin meningkat, semoga bisa tercapai apa yang kita inginkan,” tambahnya.

Setelah show di UNESCO, Oscar berharap bisa membawa konsep yang ditampilkan di sana ke Indonesia, sebagai perayaan. Ke depannya Oscar mau mendalami wastra Nusantara Indonesia Timur, khususnya Nusa Tenggara Timur. “Saya senang kain NTT sudah mulai populer, semoga bisa semakin baik perkembangannya,” kata Oscar. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here