Alam terbuka menyediakan berbagai kemungkinan eksplorasi bagi kreativitas seniman. Selain itu ada banyak kemungkinan tantangan yang juga harus dihadapi seniman yang akan berkreasi atasnya. Bekerja di alam seperti itu hakikatnya sama dengan pekerjaan yang dilakukan oleh tukang bangunan, petani, nelayan, dan sejenisnya. Pekerjaan semacam itu akan berhadapan langsung dengan terik matahari, hujan, kabut, tiupan angin keras, dan lain-lain. Itulah yang dihadapi Wisnu Aji Tama (26) yang memamerkan hasil karya environmental art-nya di Bentara Budaya Yogyakarta, 24-30 Mei 2018. Bukan hanya itu yang dihadapi Wisnu, namun ia juga harus menembus hutan, menyisir pantai, menaiki bukit/gunung, menuruni lembah/jurang, dan sebagainya.

Hasta Apsari, Lamtana Camara, Akasia's Wood, roots, 39 ft x 16 ft, 2018, karya Wisnu Aji Tama-Foto-A.Sartono
Hasta Apsari, Lamtana Camara, Akasia’s Wood, roots, 39 ft x 16 ft, 2018, karya Wisnu Aji Tama-Foto-A.Sartono

Ruang galeri dan ruang alam terbuka tentu berbeda dari keluasan, fasilitas, akses, ancaman, dan seterusnya. Tentu dalam pameran ini Wisnu tidak mengusung semua karya di alam terbukanya untuk dijejalkan di ruang galeri Bentara Budaya. Namun Wisnu menyuguhkan sebuah figurasi lorong, gua, liang atau sejenisnya berbahankan kayu dan ranting tanaman tembelekan. Sedangkan karya yang lain ia tampilkan melalui foto, film, video, sketsa, dan arsip. Semua yang ia sajikan itu merupakan hasil atau buah perjalanan kreatifnya dalam mengembara di tempat tersembunyi dan ruang publik. Semuanya itu adalah hasil dokumentasi atas karyanya di tengah alam. Hal ini sesuai dengan tema yang diusungnya, yakni Leng. Leng dalam khasanah budaya Jawa berarti liang. Liang dalam perwujudannya dapat berupa lorong, gua, lubang, dan seterusnya.

Rafias Ring, limstone, rafias, mirror, 6 ft x 6 ft, 2017, karya Wisnu Aji Tama-Foto-A.Sartono
Rafias Ring, limstone, rafias, mirror, 6 ft x 6 ft, 2017, karya Wisnu Aji Tama-Foto-A.Sartono

Leng dalam masyarakat Jawa sering digunakan sebagai tempat untuk merenung, meditasi, bertapa, dan sejenisnya. Di dalam leng atau katakanlah gua, manusia yang menyepi dan menepi percaya bahwa di sana ia menemukan kedekatan dengan alam, hakikat manusia, dan penciptanya. Di sana mereka dapat “berkomunikasi”. Ketiga unsur tersebut sering disebut sebagai prinsip Tribawana. Prinsip inilah yang ditemui dan dirasakan Wisnu ketika ia berkarya di hidden space dan public space itu.

Karya tersebut penting dihadirkan sebagai media meditasi, sublimasi, dan inkubasi layaknya sebuah gua sebagai tempat pertapaan di tengah masyarakat millennium ketiga ini dituntut serba cepat, instan oleh karena berbagai tuntutan hidup. Sepertinya masyarakat tidak memiliki waktu sejenak untuk menenangkan dirinya dari himpitan kebutuhan hidup serta semakin jauh antara dirinya dengan alam (lingkungannya). Oleh karena itu pula kemungkinan-kemungkinan di alam tidak dapat dihayati sebagai sebuah nilai artistik dan estetik.

Salah satu karya Wisnu Aji Tama yang dipamerkan di Bentara Budaya-Foto-A.Sartono
Salah satu karya Wisnu Aji Tama yang dipamerkan di Bentara Budaya-Foto-A.Sartono

Environmental art sesungguhnya bukan barang baru di dunia Barat, yang sudah marak pada tahun 1960-an. Hanya saja di Indonesia tampaknya belum banyak yang menggarapnya. Wisnu adalah salah satunya. Dari apa yang dilakukannya ternyata bermanfaat besar, setidaknya bagi masyarakat di sekitarnya. Karya Wisnu di berbagai tempat seperti di Hutan Pengger, Gunung Bromo, Watu Bantal Berbah, Wedomartani. Manggarai Barat, Gunung Merapi, Watu Payung, dan lain-lain telah menjadi objek selfie dan objek kunjungan wisata yang mengalirkan rupiah ke tempat-tempat yang digarapnya. Sekalipun semua masih dikerjakan dan dibiayai sendiri olehnya dan timnya, namun Wisnu merasa bahagia karena respon masyarakat cukup baik dan mampu memanfaatkan dengan baik pula. Apresiasi masyarakat pada environmental art ini juga terbangun dengan baik, juga perlahan kesadaran masyarakat akan nilai penting lingkungan juga terbangun dengan baik.

Soul of The Desert, rafias, stones, twigs, sand, 82 ft x 16 ft, 2016, karya Wisnu Aji Tama-Foto-A.Sartono
Soul of The Desert, rafias, stones, twigs, sand, 82 ft x 16 ft, 2016, karya Wisnu Aji Tama-Foto-A.Sartono

Wisnu tidak mengkhawatirkan bahwa karya-karyanya akan hilang oleh alam, seperti hujan, banjir, longsor, putih beliung dan sebagainya. Toh semua karyanya telah ia rancang, bangun, dan didokumentasikan dengan rapi dan baik. Environmental art memang demikian hakikatnya. Pada tema Leng: Ruang Meditasi, Inkubasi, dan Sublimasi, Wisnu telah membagikan karyanya dan mengajak publik ke arah itu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here