Puisi Raditya Andung Susanto

0
112

Aku Menikmati Kopi di Negeri Sendiri

Pada suatu pagi yang masih berselimut kabut
Secangkir kopi bersanding dengan roti di tepi meja tua
Lantas kunyalakan layar berukuran 21 inchi yang sudah berdebu
Lusuh,
Tak terurus
Karena ulah para petinggi
.
Ditulis jelas berita tentang korupsi di bawah layar 21 inchi
Nampak jelas kesebelasan jurnalis di depan kantor KPK
Nada-nada sumbangnya melempar tanya pada para ketua
Pertanyaan korupsi yang kian mendewa
.
Aktor-aktor baru bermunculan
Dari calon lurah hingga anggota dewan
Memakan hak-hak kaum kecil tanpa melas.
Tanpa belas.
.
Sutradara, produser dan manajernya pun ada
Mengatur setiap jadwal aktor pendatang baru
Dari rumah sakit Jakarta hingga Singapura
Semua dijabarkan dengan omong kosong yang sudah dijadikan naskah cerita
.
Kopi yang sebenarnya aku buat dengan cukup manis
Menjadi pahit.
Melihat sandiwara yang tak kunjung reda
Dari pikiran-pikiran picik para pejabat negara

Bumiayu, Oktober 2017

Telanjang Sudah Dirimu : Slamet

Aku melihatmu, dari suruk-suruk senja kota Bumiayu
Tubuhmu kerontang
Mahkota itu gundul dan gersang
Batu-batu gigil ada pada dadamu

Wajahmu kemarau
Setelah pembalakan kian parau
Peluh asin mengalir dari mata sayumu
Batu-batu gigil ada pada dadamu

Kau nampak berbeda, dulu
Kau memakai rompi berbahan sutera
Sekarang, memakai sehelai benang pun
Kau masih beruntung

Bulat sudah telanjangmu
Akibat dilucuti para petinggi negeri
Proyek-proyek yang katanya demi masa depan
Tapi justru malah menghancurkan peradaban

Aku tahu;
Dari lubuk paling palung, kau menangis tersedu-sedu
Aku pun tahu;
Amarahmu sudah memuncak, laiknya puncakmu yang gundul itu

Luapkan saja amarahmu
Luapkan saja lavamu
Sampai habis
: Sampai tak ada sisa

Bumiayu, 23 Oktober 2017

Puisi Untuk Tuhan

Konten Terkait:  Puisi Sumanang Tirtasujana

Di samping singgasanaMu
Dari daun-daun pintu maslahat
Izinkan aku;
Menulis sebuah puisi
Dibalik dosa-dosa yang bersembunyi
Pada kain-kain bergambar Ka’bah

Bumiayu, Oktober 201

Jatuh Cinta

Hening mencekik malam
Seekor burung hantu bertengger di batang pohon jambu
Mengisyaratkan larut
Menjelma kalut

Dalam sepi,
Sunyi.
Puisi-puisi lesap;
Dari kertas-kertas putih nun lusuh
Menceritakan jatuh
Pada sebuah jurang bernama
: Cinta

Bumiayu, Oktober 2017

Atas Nama Kopi

Pada secangkir kopi ;
Yang wanginya menyeruak menyesakan dada

Daun-daun kalender tinggal menghitung gugur
Menghitung kepulanganmu;
Pada tempat bernama rumah

Tempat di mana kita menyusun kisah
Yang berawal dari tatap
Dan tempat untuk tinggal dan menetap

Bumiayu, 20 Oktober 2017

Raditya Andung Susanto dengan nama pena RAeDITYA, adalah pelajar kelas XII di SMK Bhara Trikora II Paguyangan Brebes. Ia anggota Bumiayu Creative City Forum (BCCF) divisi sastra dan Sanggar Baca Rumah Impian. Juara 2 Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional dengan tema Secangkir Kopi yang diselenggarakan oleh Penerbit Inkumedia serta penulis terfavorit Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional yang diadakan oleh Penerbit Sunnstar Publisher. Peserta Sayembara Sastra Bunga Tunjung Biru 2017 yang diadakan di Denpasar Bali. Karya-karnyanya sudah terbit di beberapa buku antologi puisi seperti Secangkir Kopi, Sumpah Aku Bimbang, Melody-Melody Puisi, Luka yang Bersemayam di Hati, Kenangan Dalam Menunggu dan salah satu puisinya yang berjudul Pesona masuk ke dalam 152 nominator lomba puisi Keindahan Alam yang diadakan oleh Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Facebook : Raditya, Whatsapp : 085201305215.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here