Puisi Indri Yuswandari

0
173

Kepada Senyap

Kubungkam mulutku
aku ingin selesai
dengan kata-kata

Kututup telingaku
tak ingin mendengar
suara-suara

Dari segala gaduh
tatap mata membunuh
aku ingin jauh

Kepada hening senyap
aku ingin lenyap

Tak ingin lagi bicara

30.11.2017

Menyisir Kabut

Aku menyisir kabut
di sepanjang garis pantaimu
sembari mengingat ucapan
saat kita di bangku panjang

Aku menatap cahaya
pada garis garis wajahmu
yang samudera kemilau silau
di pantul lampu besar pelabuhanmu

Udara panas berkabut
menikam bayang pejalan malam
Daendelsmu yang tak pernah tidur
memagma rindu kemarauku

Malam berandai-andai
raga karam di kubang panas
pada puncak bukit berkabut
memagut tulang tulang dan sikut

Di hampar pasir dan percik air
aku tengadahkan wajah ke langit
mengenang samudera setiamu
yang membasahi ujung gaunku

13.11.2017

Tanah Retak

Ini bukan jalan terakhir yang kulewati
jalan berlumut kabut sengkarut sengkarut
entah jalan ini hendak berakhir di mana?

Benih benih kesunyian yang kutanam pada bola matamu
adalah jejak kesakitan jalan berkelok
saat kuremas buku buku jarimu

Tanahku retak berserak pecahan genting pada telapak
secuil kulit tertancap di atas ranting ranting semak

Luka yang merintih tak pernah melempar sauh
Perih yang terbakar menjelma arang kapur

Jika kabut memunculkan cahaya,
adakah puisi yang mampu membangkitkan kemilau
pada jurang matamu?

10.11.2017

Bejana Gaib

Bejana gaib itu adalah kala
tempat segalanya bermula
ketika aku menemukan luka
di lembar lembar kosong jiwamu
menjadikan engganku seketika niskala
saat kita bertatap muka

Aku tak melihat di wajahmu
langit berdermaga atau tiang tiang
tempat melabuh duka
serupa halnya mereka
yang terbakar kenangan
gagal menemu tempat berlabuh

Barangkali engkau adalah ahli nujum
pakar purbakala atau sang pemantik bara
ketika berkisah tentang hikayat
pengelana papa tersesat di rimbanya

Aku menyimakmu sepulang dari pesta
di malam sarat tanda tanya
saat kau berwasiat
tentang buku bukumu yang rahasia
hingga menjelang subuh tiba

Tapi kita harus segera terjaga
meski dengan perut melilit
bahkan tanpa kopi di awal pagi
sebagaimana perihku saat engkau
tak membalas lambaian tanganku

Aku telah memilih menempuh jarak
yang demikian rentang
antara engkau dan aku
demi melabuh rindu yang demikian sesak
sementara luka dan cinta
hanyalah sekelebat dekap
tak ubah sehasta jarak
Barangkali di benakmu
aku hanyalah kenangan yang berlompatan
bagai ikan ikan di repih repih angan

Sementara tenggelammu
menjadikan perasaanku
kian berhamburan

07.10.2017

Mata Hati

Sebab aku harus mengeringkan segala yang basah,
menjernihkan segala yang buram,
menerangkan segala yang gelap,
melenyapkan segala yang senyap

Aku harus tetap terik
Agar segenap makhluk tumbuh dan berkembang
Agar segala virus dan penyakit hangus sebelum berbiak

Aku suluh atas segenap kemurungan
Hanya karena engkau berputar,
bukan berarti aku tenggelam

Menjauhlah
Menunduklah
Carilah tempat berteduh
Entah dengan payung
Atau di bawah pohon rimbun
Agar terhalang dari pendar sinarku
Sebab engkau takkan sanggup menatap pancaranku
Yang silau kemilau
Kecuali engkau memaksa
Bisa membuatmu buta

26.09.2017

Indri Yuswandari menyukai puisi dan menulis puisi sejak SMP. Setelah vakum selama 24 tahun lamanya, ia kembali pada dunia yang pernah ia cintai dan memberanikan diri tampil di depan publik pada event Pazaar Seni 2015 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang. Lalu dari kota ke kota ia membacakan puisi. Sekali waktu ia menjadi pembicara diskusi-diskusi sastra bersama komunitas Semarang juga menjadi juri lomba baca puisi/cerita di luar kota. Ia pernah memberi pengantar pada antologi puisi milik sahabatnya di Blitar. “Lukisan Perempuan” adalah antologi puisi tunggalnya yang pertama terbit tahun 2017. Puisi-puisinya juga dimuat dalam puluhan antologi puisi bersama. Bisa dihubungi lewat Facebook: Indri yuswandari.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here