Banyak kesenian di Nusantara tidak lepas dari proses asimilasi budaya yang berlangsung alami selama berabad-abad melalui ‘pergaulan’. Budaya keturunan/peranakan Tionghoa di Indonesia pun lahir sebagai hasil silang pengaruh antara budaya yang dibawa dari tanah leluhurnya di Negeri Tiongkok dan budaya asli pribumi, bahkan tak lepas dari pengaruh budaya Eropa yang dibawa oleh Belanda sebagai penguasa kala itu. Salah satunya kesenian Tionghoa yang sempat ‘mati suri’ di Indonesia lebih dari 30 tahun pada masa Orde Baru, yaitu Wayang Potehi.

Aksesoris Wayang Potehi
Aksesoris Wayang Potehi

Menurut sejarah yang dicatat oleh berbagai sumber, diperkirakan Wayang Potehi sudah ada pada masa Dinasti Jin  (265-420 Masehi) dan berkembang pada Dinasti Song (960-1279). Wayang Potehi masuk ke  Nusantara melalui orang-orang Tionghoa beretnis Hokkian- Tiongkok daratan bagian selatan,  yang datang pada sekitar abad ke-16 sampai ke-19. Catatan awal Potehi di Indonesia pun ditulis oleh seorang geneolog asal Inggris, Edmund Scott; yang pernah berkunjung ke Banten 2 kali, antara tahun 1602 dan 1625.

Koleksi Wayang Potehi Tok Hok Lay (Toni Harsono)
Koleksi Wayang Potehi Tok Hok Lay (Toni Harsono)

Dari keterangan yang ditulis oleh Yunanto Sutyastomo dalam katalog pameran di Bentara Budaya Jakarta, 3 Mei 2018, konon Wayang Potehi ditemukan oleh 5 narapidana hukuman mati. Mereka adalah orang-orang yang pertama kali memainkan Wayang Potehi. Mereka sedang meratapi nasib jelang eksekusi. Mereka berpikir “Buat apa bersedih? Toh kita akan mati. Lebih baik kita menghibur diri sebelum ajal tiba”. Salah satu dari mereka mendapat ide membuat boneka yang terbuat dari kain (poo), kantung (tay), dan kayu (hie) –dalam bahasa Hokkian. Setelah wayang terbentuk, mereka mengumpulkan instrumen dari perlatan dapur seperti piring, panci, dan wajan yang berfungsi sebagai tetabuhan.

Kemudian mereka pun memainkan boneka-boneka itu sehingga menjadi pertunjukan menarik. Tanpa mereka duga, kabar tentang permainan boneka itu sampai ke telinga Kaisar, lantas meminta kepada kelima narapidana tersebut untuk memainkannya di depan kaisar. Kaisar pun terpesona dan memutuskan untuk membebaskan kelima napi tersebut. Semenjak itulah Wayang Potehi berkembang di daratan Tiongkok, di antaranya seperti yang kita kenal di tanah air.

Kumpulan Naskah Cerita Wayang Potehi
Kumpulan Naskah Cerita Wayang Potehi

Pementasan Wayang Potehi biasanya dilakukan pada saat perayaan Imlek atau Cap Go Meh yang terpusat di kelenteng-kelenteng yang terbuka untuk masyarakat umum. Salah satu kelenteng yang konsisten dalam upaya mengembangkan Wayang Potehi adalah Kelenteng Hong San Kiong di Desa Gudo, arah barat daya kota Jombang, Jawa Timur. Sejak abad ke-20, kelenteng ini dikenal sebagai “pusat” Wayang Potehi. Terdapat pula dalang yang tersohor kala itu bernama Tok Su Kwei.

Tok Su Kwei datang dari Tiongkok daratan ke Gudo bersama sejumlah perantauan yang didatangkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk bekerja sebagai tekhnisi di beberapa pabrik gula di Jombang. Tok Hok Lay alias Toni Harsono, cucu dari Tok Su Kwei menjelaskan bahwa kakeknya memainkan Wayang Potehi pada perayaan Imlek, dan mendapat antusias yang tinggi dari masyarakat di Gudo; meski bahasa yang digunakan adalah bahasa Mandarin dan warga asli setempat tak paham sama sekali. Keterbatasan bahasa, menyebabkan Wayang Potehi tak dapat dimainkan oleh warga non-Tionghoa. Sebelum meninggal pada tahun 1937, Tok Su Kwei mewariskan ilmu dalangnya kepada anaknya Tok Hong Kie; yang merupakan dalang yang mengalami masa transisi pra kemerdekaan, kemerdekan sampai pada masa Orde Baru.

Alat musik yang digunakan pementasan Wayang Potehi
Alat musik yang digunakan pementasan Wayang Potehi

Dalam diskusi “Waktu Hidupkan Kembali Potehi” di Bentara Budaya Jakarta 04 Mei 2018, Toni Harsono menceritakan situasi politik di pertengahan dekade 1960-an yang berdampak luas pada kehidupan Wayang Potehi di Indonesia. Beberapa daerah seperti Solo, Semarang, Jakarta dan Surabaya tak berani lagi kelenteng mementaskan Wayang Potehi. Namun tidak berlaku di Gudo. Tok Hong Kie yang meninggal tahun 1982 adalah salah satu pelaku utama Wayang Potehi di masa Orde Baru.

Sayangnya, tidak ada satu pun anak dari Tok Hong Kie yang mewarisi ilmu dalang. Beruntungnya, sekitar tahun 1998, Toni Harsono yang sudah lama meninggalkan Desa Gudo dan tinggal di Malang, merasa tergugah hatinya untuk terlibat kembali mengelola Kelenteng Hong San Kiong. Ia melihat boneka-boneka Wayang Potehi yang berantakan di gudang kelenteng. Ia pun teringat pada kakek dan ayahnya sering menggunakannya untuk pentas. Ia pun tergerak menghidupkan kembali Wayang Potehi, dengan mengajak beberapa temannya dan dalang untuk mementaskan kembali di sekitaran Jombang. Masyarakatpun menyambut dengan baik.

Namun pelarangan yang terjadi selama Orde Baru, mengakibatkan pengrajin Wayang Potehi tidak berenegerasi, karena termakan usia sampai meninggal. Tidak mudah bagi Toni menemukan pengrajin boneka, dan yang pada akhirnya ia menemukan Supangat, ahli ukir perusahaan mebel di Jepara untuk membantunya mengerjakan pembuatan boneka Potehi. Kepiawaian Supangat pun, menjadi andalan Toni Harsono sehingga Wayang Potehi di Gudo tidak kekurangan boneka. Sekarang pertunjukan Wayang Potehi di Gudo pun, lebih banyak menggunakan boneka karya Supangat. Dalam perkembangannya pun, Wayang Poteh tidak berhenti menjadi pertunjukan saja tetapi berkembang melahirkan pengelola, regenarasi dalang muda, dan pengrajin boneka potehi.

Diskusi tetang Wayang Potehi Potehi 4 Mei 2018 oleh Gregory Churchill, Dr dra Horwan Kuardhani, MHum, Toni Harsono, Wartawan Kompas
Diskusi tetang Wayang Potehi Potehi 4 Mei 2018 oleh Gregory Churchill, Dr dra Horwan Kuardhani, MHum, Toni Harsono, Wartawan Kompas

Melalui berbagai situasi sejarah yang terjadi, tiga generasi Tok –marga keluarga orang Tionghoa, ini secara turun temurun dalam rentang waktu lebih dari 100 tahun menjadi bagian dalam menghidupkan Wayang Potehi di Nusantara. Sehingga generasi era saat ini bisa mengenal Wayang Potehi sebagai bagian dari seni pertunjukan yang telah tumbuh selama ratusan tahun di negeri ini, bahkan mengalami asimilasi budaya sehingga Wayang Potehi tidak lagi identik dimiliki orang Tionghoa saja. Bahkan Dalang Potehi , yang dahulu hanya dimainkan oleh orang Tionghoa saja, saat ini banyak dilakukan oleh dalang-dalang berlatar suku Jawa. Apalagi bahasa tuturnya pun tidak menggunakan bahasa Mandarin, “Sejak Orde Baru, atau setelah 1966, Wayang Potehi tak lagi menggunakan bahasa Mandarin, melainkan bahasa Indonesia. Bahkan sekarang pakai bahasa Indonesia campur bahasa Jawa,” kata Toni Harsono. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here