Lukisan cat air dalam khasanah kesenirupaan sering dipandang sebelah mata. Orang lebih banyak tersugesti kekagumannya pada seni lukis dengan material lain, cat minyak atau akrilik misalnya. Padahal seni lukis cat air tidak kalah menarik dengan seni lukis lain. Bahkan seni lukis cat air memiliki beberapa keunggulan dan tingkat kesulitan yang tidak ditemukan di dunia seni lukis dengan material cat minyak ataupun akrilik. Salah satu kesulitan teknis dalam penggarapan material cat air adalah bahwa cat air tidak bisa ditumpuk tanpa meninggalkan kesan percampuran antara warna awal dengan warna berikutnya sekalipun cat air awal telah mengalami pengeringan. Selain itu, cat air juga cenderung memliki karakter “mblobor” pada kertas berpori besar dan tidak cepat kering pada kertas dengan pori rapat. Namun, di tangan para profesional ke-mblobor-an cat air ini justru menjadi salah satu daya kreasi dan menghasilkan pesona bagi mereka.

Candi Plaosan, 56 x 38 cm, 2018, karya Ikhman Mudzakir-Foto-A.Sartono
Candi Plaosan, 56 x 38 cm, 2018, karya Ikhman Mudzakir-Foto-A.Sartono

Hal itulah yang dilakukan KOLCAI (Komunitas Lukis Cat Air Indonesia) Chapter Jogja dengan melakukan pameran lukisan cat air di Tembi Rumah Budaya, 9-29 Mei 2018. Ada pun tema yang mereka pilih untuk membingkai pameran mereka adalah Kangen Jogja. Tema ini mereka pilih karena bagi mereka Jogja adalah salah kota atau wilayah yang memang istimewa bagi mereka. Istimewa karena di kota ini lekat dengan berbagai predikat, seperti Kota Pelajar, Kota Seni dan Tradisi, kota yang banyak menumbuhkan kenangan, kota yang nyaman dengan penduduknya yang ramah, dan seterusnya.

Demonstrasi melukis model dengan cat air oleh KOLCAI di Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono
Demonstrasi melukis model dengan cat air oleh KOLCAI di Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono

Pameran KOLCAI dimaksudkan untuk mengenang dan membangkitkan kembali kenangan manis yang pernah dikecap dari Kota Yogyakarta. Maklum beberapa anggota KOLCAI memang bukan orang asli Yogyakarta namun pernah tinggal atau singgah di kota ini. Kenangan indah akan Yogyakarta mengendap pada diri orang-orang seperti itu. Selalu ada kerinduan kepada Yogyakarta. Hal inilah yang ingin ditampilkan KOLCAI.

Konten Terkait:  Slank Kafe: Base Camp Baru Slankers

Pameran yang dimeriahkan dengan karawitan dari kelompok Intania Laras and Friends, suara, gerak, dan bunyi dari kelompok Sugenyi, serta demonstrasi melukis model di Pendapa Tembi ini menampilkan 53 karya yang semuanya menggunakan media cat air. Pameran dibuka secara resmi oleh Bupati Purworejo, Drs Agus Bastian ME MM. Dalam sambutannya Bupati Purworejo menyampaikan apresiasi yang tinggi atas pameran ini sekaligus mengundang KOLCAI untuk bisa berpameran di Purworejo. Serta merta undangan dari Bupati Purworejo yang disampaikan secara lisan ini disambut dengan antusias oleh seluruh anggota KOLCAI.

Bupati Purworejo (baju batik tengah) berfoto bersama anggota KOLCAI dan Kabid Budaya Tembi Rumah Budaya (tengah baju biru)-Foto-A.Sasrtono
Bupati Purworejo (baju batik tengah) berfoto bersama anggota KOLCAI dan Kabid Budaya Tembi Rumah Budaya (tengah baju biru)-Foto-A.Sasrtono

Kecuali pelukis cat air anggota KOLCAI, pada pameran kali ini KOLCAI mendapatkan kehormatan dengan ikut sertanya pelukis terkemuka dari Malaysia. KOLCAI Nusantara sendiri terdiri dari berbagai kota seperti Lombok, Bali, Yogyakarta, Semarang, Cilacap, Jakarta, dan Jawa Barat. Mereka yang berpameran kali ini adalah pelukis-pelukis terkemuka di daerahnya masing-masing yang punya kenangan akan Yogyakarta.

Anak-anak Sekolah di Desa Sompok Imogiri, 56 x 38 cm, 2018, karya Te Kamajaya-Foto-A.Sartono
Anak-anak Sekolah di Desa Sompok Imogiri, 56 x 38 cm, 2018, karya Te Kamajaya-Foto-A.Sartono

Anindya Barata selaku Kepala Bidang Budaya Tembi Rumah Budaya dalam sambutannya dalam pameran ini menyampaikan bahwa anggapan “menyepelekan” lukisan cat air sebagai lukisan tingkat dasar sesungguhnya perlu diluruskan. Anggapan demikian barangkali disebabkan karena melukis dengan menggunakan cat air diperkenalkan pada siswa TK yang berlanjut ke SD dan mungkin sampai SMP. Padahal kekuatan cat air mungkin justru terletak pada kesederhanaannya namun tetap terbuka pada eksplorasi yang detail dan rumit. Potensi cat air yang kelihatan sederhana ini justru menantang dan menjadi hasil garap yang kerap tidak terduga.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here