Wejangan Kehidupan (3): Sendang Beracun

0
86
Nakula, korban ketiga sendang beracun, wayang koleksi museum Tembi Ruumah Budaya
Nakula, korban ketiga sendang beracun, wayang koleksi museum Tembi Ruumah Budaya

Di dalam hati Raksasa penunggu sendang berancun itu mengagumi Puntadewa yang selalu dapat menjawab cangkrimannya dengan tepat dan benar. Oleh karenanya ia semakin bersemangat untuk mengajukan cangkriman-cangkriman selanjutnya.

“Hei Puntadewa, apa yang engkau ketahui tentang sejatining kawruh? Juga yang disebut dengan kawruh ketenteraman, kawruh belas kasih serta kawruh bersahaja, coba jelaskan!”

Puntadewa pun menjawab dengan cepat dan lancar, bahwa sejatining kawruh atau pengetahuan sejati itu adalah pengetahuan yang berasal dari Hyang Widhi, Tuhan Yang Esa, yang dapat dijabarkan sebagai berikut. Kawruh ketenteraman adalah pengetahuan yang mampu membawa ketenteraman dan kedamaian hati. Kawruh belas kasih adalah pengetahuan yang mengandung sebuah harapan bagi kesejahteraan sesama. Kawruh prasaja adalah pengetahuan bersahaja, yang menimbulkan sikap bela rasa kepada sesama.

Puas dengan jawaban Puntadewa, sang Raksasa pun melanjutkan cangkrimanya. “Musuh yang tidak mudah dikalahkan itu apa? Penyakit yang tidak bisa sembuh itu apa? Yang disebut adil dan tidak adil itu bagaimana?”

Dan Puntadewa pun menjawab: “Musuh yang tidak mudah dikalahkan itu adalah hawa nafsu. Penyakit yang tidak dapat sembuh itu adalah angkara murka. Yang dimaksud dengan tindakan adil itu adalah tindakan yang mempunyai tujuan untuk keselamatan semua ciptaan, sedangkan tindakan tidak adil itu adalah perbuatan yang tidak punya belas kasih.”

“Baiklah Puntadewa, cangkriman selanjutnya, coba jelaskan penjabaran dari kata ‘betah’ bertahan sampai lama itu bagaimana dan terhadap apa? Juga kata bersih-bersih itu bagaimana dan terhadap apa? Dan yang disebut dengan welas asih itu bagaimana?”

“Bertahan dalam waktu yang lama dan terus menerus itu biasa dilakukan dalam usaha menguasai panca indra sampai berhasil. Sejatinya bersih-bersih itu upaya mensucikan hati. Dan belas kasih itu tindakan untuk memelihara dan melindungi segala ciptaan.”

“Yang disebut orang pandai itu bagaimana? Benih dari keinginan itu tumbuh di mana? Tindakan yang sok suci itu yang bagaimana?”

“Dikatakan orang pandai itu adalah orang yang selalu menepati kewajibannya. Benih dari keinginan itu tumbuh dari keangkara-murkaan. Tindakan sok suci itu tindakan yang berkedok agama”

“Keutamaan, keberuntungan dan keinginan itu sepertinya bertolak belakang, apakah ketiganya tersebut tidak dapat berjalan bersama?”

“Jika ada seorang perempuan yang perbuatannya sejalan dengan dasar-dasar keutamaan, ketiga hal yang kamu tanyakan itu dapat berjalan bersama.”

Rupanya Sang Raksasa belum mau berhenti mengajukan cangkriman, bahkan semakin sulit cangkriman yang diajukan. “Orang yang bagaimana yang masuk neraka abadi?”

Sadewa, adik bungsu Puntadewa yang menjadi korban keempat sendang beracun. wayang koleksi museum Tembi Rumah Budaya
Sadewa, adik bungsu Puntadewa yang menjadi korban keempat sendang beracun. wayang koleksi museum Tembi Rumah Budaya

“Orang yang masuk neraka abadi itu ialah: 1. Orang yang pada awalnya sudah sanggup untuk memberi persembahan kepada Brahmana namun pada akhirnya mengingkari kesanggupannya. 2. Orang yang mendustakan kitab suci, mendustakan para Brahmana dan mendustakan para Dewa, dan juga tidak melakukan sesaji kepada ‘pitri’ 3. Orang yang tidak mempunyai rasa belas kasih dan tidak mau berbagi dengan orang lain, padahal mempunyai lebih.”

Konten Terkait:  Membaca Denah Bangunan Tembi Rumah Budaya (1)

“Yang disebut brahmana itu seperti apa? Bagaimana keadaannya, wataknya, usahanya dan kemampuannya.”

“Sejatinya orang yang disebut brahmana itu bukan karena berdasarkan usahanya, atau kepandaiannya, melainkan ditilik dari wewatakannya. Seorang brahmana selalu menjaga dan mengontrol tabiat wataknya sehingga hanya brahmana itu sendiri yang tahu seberapa jauh dan dalam ia menanamkan watak kebrahmanan. Ketahuilah hei Raksasa, saking gaib dan luhurnya derajat hidup seorang brahmana, sehingga tidak mudah untuk diketahui secara gamblang. Namun selama ia masih bertahan dalam menjaga, menghidupi serta menghayati Wedha serta mampu menjaga keluhuran dan kesucian watak dan kelakuannya, ia akan terbebas dari kerusakan. Barang siapa yang rusak wataknya ia akan mendapatkan kebinasaan. Tidak pilih-pilih apakah ia golongan brahmana, pandhita atau golongan siswa, yang sama-sama mendalami serat suci, tetapi watak serta tindakannya tidak baik, itu dapat dikatakan tidak dapat melihat sastra. Juga bagi siapa saja yang telah mendalami empat kitab suci Wedha tetapi tindak-tanduknya jelek, itu malahan dikatakan orang sudra, yang dihinakan. Orang yang selalu membuat sesaji ‘hagniotra’ dan dapat mengendalikan keinginan, itu disebut brahmana sesaji.”

“He Sang A Jathasatru, manusia tak bermusuh! Apa yang didapatkan orang yang berada di jalan kebenaran, dan apa yang diunduh oleh orang yang senang terhadap keutamaan? Apa yang engkau ketahui tentang ucapan ‘temen mulya’ serba kecukupan itu yang bagaimana? Dan coba jelaskan yang dikatakan benar-benar aneh itu bagaimana?”
“Orang benar akan mendapatkan apa yang didambakan, orang utama akan mengunduh kemuliaan di keabadian, orang yang serba kecukupan adalah orang yang dapat memasak dan meracik sendiri sesaji di rumahnya pada hari kelima atau hari keenam, walaupun sesaji yang disiapkan sendiri itu tidak seberapa, baik rasanya maupun jumlahnya, asalkan bukan barang utangan. Sedangkan yang dikatakan aneh itu adalah polah tingkah manusia. Pasalnya sudah tahu kalau orang hidup itu ibarat kumpulan orang-orang yang sedang berjalan berurutan menuju keraton Batara Yama, dewa pencabut nyawa, ee lha kok malah ‘ngeri-ngeri’ sengaja berada di urutan paling belakang dan tidak menyadari bahwa dirinya pun juga bakal mati.”

“Manusia sejati atau sejatining manusia itu yang seperti apa? Yang dikatakan kaya akan ‘bandha’ harta itu yang bagaimana?”

“Perjuangan dan pengorbanan terbaik yang dapat memperoleh kehormatan di dunia dan kemuliaan di surga. Selama nama terhormat tersebut masih bertahan dan dikenal banyak orang, itulah manusia sejati. Orang disebut kaya jika orang tersebut sudah tidak membedakan lagi antara sedih dan gembira, puas dan kecewa, waktu yang sudah berlalu dan waktu yang akan datang. (Bersambang)

Sumber Wejangan dan Wewarah Piwulang Kaprajan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here