Puisi Sumanang Tirtasujana

1
203

Perahu Kertas

Dipinggir danau biru, di antara bentangan lembah berwajah hijau pupus.
Bunga bunga mekar menebar aromanya
kabut seperti mengikat jiwaku,
dari udara dingin dengan hatimu
Kukenangkan kembali harum rambutmu
di antara burung beterbangan
kau ikat hatiku pada kesucian cintamu sambil kau senandungkan lirik sajak syahdu
Senja itu kau tuntun aku meniti pelangi
aku rasakan jarimu gemetar
di garis mimpimu yang binar
hari kian senja, burung pulang ke sarang
Engkau membuat perahu kertas
kau jadikan aku nakhodanya
menuju pulau untuk singgah bersama
di dinding perahu itu kau tulis namaku dalam doa.

Purworejo, 10 Jan 2016

Nusa Kambangan Yang Terapung

Hujan gerimis
kaca kaca cendela basah
burung menggigil di puncak ranting
Perahu perahu tongkang bersandar
diikat tali
bergoyang tanpa kelasi
Ombak melempar buih,
angin begitu basah
Nusa kambangan terapung, dalam resah
Ada seperti yang tersumbat
ada beban dari sandarannya
terus berdiam bisu jadi penampung sesal
:Seperti ada hasrat untuk tenggelam

Teluk Penyu , 20 Des 2015

Alegori Karam

Seekor kucing mendengkur
di kolong meja
sepiring ikan tinggal tulangnya
Di pesisir kuhirup anyir
keringat mereka
kudengar jerit hati terpidana yang melata
Lapat lapat suara sepatu
langkah para sipir
suara gembok terkunci, lalu sepi.
Seorang tahanan tua
mendengkur kedinginan
nafasnya bercerita riwayat usia hidupnya
Tentang debur ombak samudra
beraroma kekerasan,
serta suara pedih
Suara jerit tangis yang tersangkut pohon tua, di rekam oleh gembok beteng
serta mortir yang berkarat
Tak ada yang menyesatkan logika
nusakambangan perlahan tenggelam
oleh dosa
Ia ingin mengubur diri
di kedalam karang
di kedalaman gelombang
Ingin berpulang pada sepi
pertama yang purba
jadi lembaran baru bagi anak cucu
Tak ingin mewariskan dendam
yang sesat
bagi hari dan jaman yang ditinggalkan.

Pasir Putih .NK. 20 / 12/2015

Pengumumam Makam

Telah diketemukan masa lalu yang hilang
Sebuah penyesalan diujung kematiannya
Di pesisir sepi dan sunyi
Terombang ambing di ombak kehidupan karang
Dari tubuh bertato sesat, yang ia banggakan Telah mencatat sejarah dirinya yang hitam
Telah diketemukan hati dan jiwa yang hilang
Dari jasat mereka, yang tinggal selongsongnya
Sebatang pohon dusta, tumbuh di tubuhnya
Berbutir peluru mengeram di kepalanya
Menebus hari harinya yang melata
Tato kalajengking dilengan itu bercerita
Tentang silsilah daftar cela kesaksian tuannya yang terkubur
Kelu tak bersuara, sungguh jadi jasat sia sia
Penemunya mengubur, di tujuh hari kedalaman galiannya.
Dibawah pohon purba, sepi dan sunyi
Dituliskan, disini telah dikuburkan hatinuraeni yang hilang bersama jasat tuannya.
Tertanda : Tanpa nama.
Nusakambangan 20 /12/2015…

Konten Terkait:  Catatan dan Hasil Festival Ketoprak DIY Tahun 2016

Paviliun No 249
Tanganmu kujabat erat
denyutnya perlahan padam
semua yang ada kupandang jadi rata
Gerimis dan angin
mengekalkan malam
dalam kantuknya
Seluruh tubuhku seperti menyusut
ada yang baru beranjak
tinggalkan senyum di hati
Ambulance bergegas
pohon pohon di halaman paviliun
tertunduk lesu
Embun pagi menetes
lalu berpendar
menjadi laut begitu luas
Tapi , di hatiku tak ada laut
yang mengalahkan luas
kesabaranmu Ibu
Tak ada laut yang mengalahkan
kedalaman kasih
tulus cintamu
Tubuhku serasa benar menyusut
melayang,demikian kapasnya
diguncang gemuruh di dada.

Pituruh Purworejo 4 April 2016

SUMANANG TIRTASUJANA, seorang penyair dan Essays. Salah satu Pendiri Cagar Seni Menoreh dan Kelompok Sastra Pendopo Jogja. Sempat aktif di Forum Pengadilan Puisi Penyair Jogja tahun 87-an. Menjabat Ketua Dewan Kesenian Purworejo. Puisinya terhimpun dalam Antoligi PERJAMUAN bersama ES WIBOWO. Antoligi VIBRASI brrsama Dhorothea Rosa Herliany dan Dedet Setiadi. Diundang Pidato 50 Seniman indonesia di Mendut ( 1995). Antologi nasional 50 th Indonesia merdeka SERAYU (1995), Antologi Jentera Terkasa ( 1995 TBS Solo ), Antologi HP3N Malang ( 1989). Antologi Jalan Remang Kesaksian – Tembi . Antologi MENOREH, Antologi Penyair Jateng. Antologi Jalan Cahaya Jakarta, Antologi PARANGTRITIS, Puisi Menolak Kurupsi. Tulisannya dimuat di berbagai media lokal dan nasional. Pernah membacakan karyanya di Sastra Bulan Purnama Tembi – Yogya, Jakarta, Purwokerto, Cirebon, TBS Solo, TBS Semarang. Kini terus menulis serta membacakan karyanya di berbagai Forum Sastra. Tinggal di Selatan Pasar Pituruh no.6, Pituruh Purworejo 54263.

1 KOMENTAR

  1. Puisi-puisi mas Sumanang Tirtasujana begitu memikat. Menginspirasi dan membangun imaji penikmatnya untuk mencoba merasakan kedalaman diksinya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here