Indonesia mempunyai berbagai macam alat musik tradisional, mulai dari alat musik tiup, pukul, petik sampai perkusi. Salah satu alat musik tradisional Indonesia adalah Dol yang berasal dari Bengkulu. Alat musik pukul yang satu ini dipamerkan sebagai pembuka dalam pertunjukan bertajuk “Selayang Ritual Tabut” bersama Rafflesia Percussion, pada Minggu, 13 Mei 2018 di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.

Selain menjadi pembuka acara, alat musik dol digunakan juga sebagai pengiring pertunjukan “Selayang Ritual Tabut”. Ritual Tabut atau Tabot merupakan upacara tradisional masyarakat Bengkulu yang dirayakan secara meriah untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang gugur dalam perang di Padang Karbala Irak.

“Kita mengangkat ritual Tabut untuk mengenang cucu nabi besar Muhammad SAW yang gugur di medan perang, dan kali ini kita bekerja sama dengan Galeri Indonesia Kaya,” ujar Dani Renaldi selaku pimpinan produksi.

Adegan Arak Gendang Dalam Ritual Selayang Tabot - Stefani
Adegan Arak Gendang Dalam Ritual Selayang Tabot – Stefani

Rafflesia Percussion menampilkan Ritual Tabut yang diadakan setiap 1 Muharram dengan kemasan sederhana namun menarik untuk ditonton. Setelah pembukaan dengan alat musik dol dalam pertunjukan Selayang Ritual Tabut, dilanjut dengan ritual mengambil tanah yang mengandung unsur magis yang diambil dari tempat keramat. Tanah yang diambil akan dibentuk menyerupai boneka manusia dan dibungkus kain kafan.

Salah Satu Adegan Ritual Mengambil Tanah - Stefani
Salah Satu Adegan Ritual Mengambil Tanah – Stefani

Setelah itu terdapat ritual duduk Penja, lalu dilanjutkan dengan tetabuhan dol yang dilakukan oleh lima orang. Ritual ini dinamakan Menjara. Pada penghujung acara, Rafflesian Percussion menampilkan ritual Arak Gendang, Arak Sorban, Arak Penja dan Tabut Tebuang.

Para Pendukung Acara Ritual Selayang Tabot - Stefani
Para Pendukung Acara Ritual Selayang Tabot – Stefani

Penonton pertunjukan terlihat sangat antusias. “Saya tentu sangat bangga, karena sudah banyak masyarakat yang perduli walaupun tempat berbagi informasi kita terbatas hanya melalui Taman Mini Indonesia Indah, tetapi dengan adanya Galeri Indonesia Kaya ini sangat membantu sekali. Karena ajang kita di sini bukan untuk dijadikan mata pencaharian,” kata Dani. (*)

Konten Terkait:  Ujug-ujug Musik Di Sastra Bulan Purnama

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here