Dalam rangka memperingati rangkaian Hari Air, Hari Bumi Sedunia dan Hari Lingkungan Hidup, Ades, sebagai merek air minum dalam kemasan serta bagian dari PT Coca-Cola Indonesia, kembali memperkuat komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Melalui kolaborasi dengan The Nature Conservancy (TNC) Indonesia, Ades memberikan apresiasi kepada individu-individu yang dinilai memiliki komitmen dalam menjaga pelestarian perjalanan air, yang disebut sebagai para Pejuang Air Ades.

Pejuang Air Ades merupakan sosok individu yang melakukan aktivitas yang berdampak besar dalam membantu komunitas untuk mengelola, menjaga, dan menjamin kelestarian air dengan menyediakan solusi yang berkelanjutan. Pemberian apresiasi kepada Pejuang Air Ades dilakukan seiring dengan kembalinya Ades dengan tekad untuk menjadi merek yang peduli akan kelestarian air yang berasal dari kehidupan dan untuk keberlangsungan hidup masyarakat, melalui semangat Cintai Air, Cintai Hidup.

Dia adalah Sugeng Handoko dari Yogyakarta dan RM Marselus Hasan dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Sugeng Handoko bisa menjadi salah satu sosok menginspirasi kita semua. Pemuda asal Dusun Nglanggeran Kulon, Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, ini mampu menggerakkan dan mengubah kebiasaan masyarakat yang awalnya mengeksploitasi lingkungan menjadi peduli dan berdampak mendatangkat banyak wisatawan.

Berawal dari perhatiannya pada pepohonan di sekitar desa yang terus ditebangi untuk dijual, di tahun 1999 Sugeng Handoko bersama para senior Karang Taruna pemuda Desa Nglanggeran mulai melakukan gerakan kepeduliannya menanam pohon di kawasan gunung api purba. Gerakan konservasi yang sederhana ini kemudian berlanjut hingga bertahun-tahun berikutnya.

Salah satu konservasi yang Sugeng kembangkan di Desa Ekowisata Nglanggeran adalah melalui pengelolaan embung. Embung, atau waduk mini di atas bukit merupakan cekungan penampung yang digunakan untuk menampung air hujan di musim penghujan untuk akhirnya dialirkan pada saat musim kemarau, yang berukuran 0,34 hektar ini telah dimanfaatkan untuk mengairi 20 hektar perkebunan durian dan kelengkeng.

Dibangun pada tahun 2012 melalui dana hibah Gubernur DI Yogyakarta, embung yang diresmikan pada tahun 2013 ini merupakan embung pertama di Yogyakarta, oleh karenanya menjadi salah satu daya tarik utama Desa Wisata Nglanggeran bagi para wisatawan.

Rizal Algamar Country Director The Nature Conservancy Indonesia dan Mohamad Rezki Yunus Marketing Manager Hydration PT Coca Cola bersama Para Pejuang Air - Image Dynamics
Rizal Algamar Country Director The Nature Conservancy Indonesia dan Mohamad Rezki Yunus Marketing Manager Hydration PT Coca Cola bersama Para Pejuang Air – Image Dynamics

“Saya merasa terhormat dan berterima kasih kepada Ades karena telah memberikan apresiasi bagi upaya swasembada kami dalam melestarikan perjalanan air serta pengembangan ekowisata yang telah kami lakukan. Semoga upaya ini dapat menginspirasi masyarakat di Indonesia, terutama para anak muda, untuk turut berkontribusi dalam menjaga pelestarian air, mengingat pentingnya peran air bagi kehidupan kita yang tentunya tidak hanya untuk dikonsumsi ataupun sebagai irigasi namun bisa juga menjadi sumber penghidupan untuk pengembangan ekowisata,” kata penerima penghargaan ASTA (Asean Sustainable Tourism Award) saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Jumat , 4 Mei 2018.

Sejalan dengan Sugeng, dilatarbelakangi oleh penggunaan generator sebagai salah satu cara Desa Bea Muring menggunakan aliran listrik, yang menciptakan polusi udara dan suara, RM Marselus Hasan kemudian mencari jalan keluar dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), pembangkit listrik yang memanfaatkan potensi aliran air. Ide yang muncul di tahun 2011 ini lalu mulai dikembangkan dengan bantuan beberapa pihak sejak tahun 2012.

Berkat pembangunan PLTMH yang dananya diperoleh melalui dana swadaya masyarakat ini, kini Desa Bea Muring tidak lagi tercemar oleh polusi dari puluhan generator, dan dapat dengan leluasa menggunakan listrik untuk kepentingan penerangan, hiburan, serta usaha rumah tangga seperti menenun dan membuat kue. PLTMH juga telah mengurangi beban biaya warga yang sebelumnya harus membeli bensin untuk generator dengan perkiraan biaya yang dihemat mencapai Rp540.000.000 setiap desa. Kini, PLTMH telah dibangun di lima desa di Nusa Tenggara Timur dan dimanfaatkan oleh sekitar 1.290 kepala keluarga.

“Apresiasi Ades terhadap kesulitan yang dialami oleh masyarakat di Desa Manggarai Timur di Kecamatan Poco Ranaka, Flores memberikan harapan bagi kami untuk dapat menggandakan apa yang telah kami lakukan di kurang lebih 5 desa ini. Di daerah timur, keberadaan air berkelanjutan selalu menjadi kendala. Penghargaan ini juga merupakan pengakuan bagi seluruh masyarakat di Manggarai yang berswadaya dan swasembada dalam pemanfaatan perjalanan air yang memiliki dampak ekonomi yang cukup berarti,” ujar pria kelahiran 24 Oktober 1981 ini.

Mohamad Rezki Yunus, Marketing Manager Hydration, PT Coca-Cola Indonesia mengatakan, “Dengan semangat Cintai Air, Cintai Hidup ini, Ades konsisten dengan nilai utama kami yaitu memberikan air minum murni sekaligus memegang teguh komitmen pada bisnis yang berkelanjutan seiring dengan inisiatif-inisiatif Ades sebelumnya yang berorientasi pada lingkungan, seperti pengurangan penggunaan plastik dalam kemasan Ades serta edukasi eco-lifestyle kepada konsumen melalui kampanye Pilih, Minum, Remukkan.”

“Dalam momen ini, kami ingin terus menebarkan inspirasi positif dengan mengangkat cerita hidup dari dua sosok ‘pejuang’ yang sudah melakukan banyak hal terkait upaya pelestarian air. Kedua sosok ini telah memberikan kontribusi besar dalam menjaga kelestarian air sebagai sumber kehidupan sekaligus memberikan dampak positif yang nyata bagi pelestarian lingkungan”.

TINGGALKAN KOMENTAR