Dua penyair dan pemetik gitar dari kota yang sama, Magelang, bertemu di Sastra Bulan Purnama edisi 80, Jumat 4 Mei 2018. Keduanya tampil di Amphytheater Tembi Rumah Budaya. Kedua penyair itu: Daladi Ahmad dan Joshua Igho. Sebelum di Magelang, Igho tinggal di Tegal. Keduanya, tampil pada sesi yang berbeda mengalunkan lagu puisi. Namun Igho lebih memilih mengiringi penyair lain membaca dan melagukan puisi.

Daladi mengalunkan dua puisi karyanya. Diiringi petikan gitar yang dia mainkan sendiri, sambil memetik gitar ia menyanyikan lagu puisi. Dua puisi masing-masing berjudul ‘Pada Puisi Firmanmu’ dan ‘Kepada Hujan di Bulan Mei’.

“Saya akan menyanyikan dua puisi saya, satu di antaranya berjudul ‘Kepada Hujan di Bulan Mei’, karena ini masih di bulan Mei,” kata Daladi berkelakar.

Suara Daladi khas, mengingatkan pada suara Ebiet G Ade, bukan Daladi sedang menirukan suara Ebiet. Karena suara Ebiet susah ditirukan, terasa lebih pas kalau dikatakan suara Daladi mengingatkan Ebiet G Ade.

Daladi sudah beberapa kali tampil dengan lagu puisi, baik puisi karya sendiri, ataupun puisi karya orang lain, yang meminta dilagukan oleh Daladi. Bahkan ada penyair yang memberikan puisi dalam waktu relatif pendek, dan meminta untuk membuat lagu. Merespon hal-hal seperti ini biasanya Daladi menerima sambil tersenyum, dan berkata: “Ya, akan saya coba”.

Joshua Igho, yang juga sudah pernah tampil di Sastra Bulan Purnama, ini kali dia membawakan puisi karya Nella Widodo dan Bontot Sukandar. Nella peerempuan penyair dari Temanggung dan Bontot Sukandar penyair dari Tegal. Igho mengiringi keduanya membaca puisi dan melagukan puisi.

Daladi Ahmad, foto Totok
Daladi Ahmad, foto Totok

Padahal, Igho sudah menyiapkan lagu puisinya sendiri, tapi karena sudah tampil dua kali dia merasa tidak enak untuk kembali tampil, meskipun lagu puisinya sudah siap. Dia memberi kesempatan penyair lainnya untuk tampil.

Konten Terkait:  Panyutra, Sejarah Kampung di Panggung Ketoprak Teater

Ketika sore sekitar pukul 18.30 Nella Widodo sudah sampai di Tembi, dam Joshua Igho sudah tiba di Tembi beberapa jam sebelumnya, keduanya latihan di angkringan Tembi. Igho memetik gitar dan Nella mengalunkan lagu.

“Saya tak ganti kostum dulu,” kata Nella sambil beranjak dari tempat duduk setelah beberapa kali latihan mengalunkan lagu puisi.

Sebelum Sastra Bulan Purnama edisi 80 yang mengambil tempat di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, para penyair yang datang lebih awal pada nongkrong sambil minum kopi dan menikmati gorengan serta nasi kucing yang tersedia. Kopi hitam, tampaknya disukai oleh para penyair, setidaknya Bontot Sukandar tidak lupa akan kopi hitam di Tembi.

Jauh-jauh hari, setelah publikasi Sastra Bulan Purnama edisi 80 beredar di media sosial, atau bahkan ketika sampul buku antologi puisi sudah ditayang, Joshua, Bontot dan Nella sudah saling berjanji untuk menggarap puisi keduanya menjadi lagu. Igho, seperti sangat menikmati mengiringi kedua penyair: Bontot dan Nella mengalunkan lagu.

“Igho, silakan tampil untuk closing,” kata saya ketika semua sudah tampil membaca puisi.

Namun Igho menolaknya. Dia merasa tidak enak tampil lebih dari dua kali, meski tampil yang terakhir untuk mengalunkan lagu puisi karyanya. “Nggak mas, tadi sudah dua kali tampil,” kata Joshua Igho merendah. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here