Kue Gandos Tamansari Ludes dalam Dua Jam Saja

0
145
Kue Gandos dari empat loyang siap disajikan untuk pelanggan-Foto-A.Sartono
Kue Gandos dari empat loyang siap disajikan untuk pelanggan-Foto-A.Sartono

Kue gandos merupakan jajanan tradisional yang mudah ditemukan di Indonesia terutama di Jawa. Di berbagai daerah jenis kue memiliki nama penyebutannya sendiri-sendiri. Nama gandos lazim digunakan di Jawa (Tengah dan DIY), orang Jawa Timur (Surabaya) menyebutnya kue Rangin, orang Bojonegoro menyebutnya kue tratag jaran, orang Jawa Barat menyebutnya kue bandros, orang Bali menyebutnya kue daluman, dan orang Betawi menyebutnya kue pancong.

Kue ini banyak dijajakan di perempatan atau persimpangan jalan, dekat pasar, di pusat-pusat keramaian (pasar malam), tempat pertunjukan seni, dan sebagainya. Pendek kata, jajanan ini mudah ditemukan di mana-mana. Rasanya yang khas gurih serta harganya yang murah menjadikannya sebagai jajanan yang banyak dicari orang, baik orang dewasa maupun anak-anak.

Gandos terbuat dari tepung beras, dari kelapa setengah tua yang diparut dan kemudian dicampurkan di dalam adonan. Santan yang berasal dari kelapa ditambah garam menghasilkan rasa gurih yang kuat bagi adonan kue ini. Adonan itu sendiri pada beberapa orang dan daerah sering divariasi dan kreasi dengan penambahan tepung tapioka. Pada sisi lain kekentalan adonan antara penjual gandos yang satu dengan yang lain juga bisa berbeda. Masing-masing tergantung kepekaan cita rasa mereka dan juga kreasi mereka.

Pak Wawan dengan pikulan Kue Gandosnya-Foto-A.Sartono
Pak Wawan dengan pikulan Kue Gandosnya-Foto-A.Sartono

Sekalipun demikian, rasa kue gandos ini pada intinya sama yakni gurih dengan krenyes-krenyes karena parutan kelapa setengah tua di dalamnya, lunak di bagian dalam dan sedikit krispi di bagian paling luar karena proses pengovenan atau pemanggangan yang dilakukan dengan bara api arang yang cukup panas. Alat pemanggang untuk kue ini juga khas, yakni alat pemanggang untuk kue pukis. Jadi secara bentuk nyaris sama dengan kue pukis. Ketebalan kue ini sekitar dua sentimeter, panjang 6,5 cm, dan ketebalan sekitar 3,5 cm. Kecuali bentuk dan rasanya yang khas, kue gandos juga memiliki aroma yang khas akibat pemanggangan yang dilakukan, yakni ada rasa sedikit sangit yang mengesankan kegurihan kue ini.

Konten Terkait:  Berani Mati Takut Lapar di Pulau Tonduk

Pada masa kini kue ini muncul dengan berbagai varian rasa, warna, aroma, dan topping. Meskipun demikian, sebenarnya rasa original dari kue ini tetap diburu orang. Buktinya adalah kue gandos Tamansari olahan Pak Wawan (57). Pak Wawan biasa menjajakan kue gandos-nya sejak pukul 08.30 dan selalu habis sebelum pukul 10.00 WIB. Padahal Pak Wawan dalam sehari menjual kue gandos yang berbahankan enam kilogram tepung beras dan 10 butir kelapa. Jika semuanya itu dicampur menjadi satu adonan yang padu maka adonan itu akan memenuhi satu ember kapasitas 25 liter.

Setangkep Kue Gandos dari Pak Wawan siap dibawa pulang pelanggan-Foto-A.Sartono
Setangkep Kue Gandos dari Pak Wawan siap dibawa pulang pelanggan-Foto-A.Sartono

Hal yang membuat kue gandos Pak Wawan ini laris adalah karena sejak tahun 1976 ia telah terbiasa mengolah kue gandos dengan resep aslinya. Tidak ada modifikasi yang menjadikan kue-nya seperti kehilangan keotentikannya. Rasa otentik itulah yang justru banyak diburu. “Banyak orang ke sini karena kangen rasa asli dari kue gandos,” kata Pak Wawan kepada tembi.net.

Pak Wawan yang asli dari Tasikmalaya dan mangkal di Perempatan Tamansari, Jl Nagan Kulon, Yogyakarta ini telah memiliki jam terbang tinggi. Ia mulai menjajakan kue gandos di Yogyakarta sejak 1990. Bagi Anda yang kangen dengan jajanan masa kecil, kue gandos Tamansari Pak Wawan adalah salah satu jawabannya. Untuk satu tangkep (dua loyang kecil) Pak Wawan menjualnya dengan harga Rp5.000. (*)

PETA LOKASI:

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here