Aming Aminoedhin, penyair dari Surabaya, tampil membaca geguritan di Sastra Bulan Purnama. Ia, dari 21 penyair yang tampil, satu-satunya penyair yang membaca geguritan. Aming, selain menulis puisi juga menulis geguritan. Jadi, bisa dikatakan ia menulis puisi dalam dua bahasa: Indonesia dan Jawa.

Ketika diberi tahu bahwa puisinya masuk dalam antologi puisi ‘Kepada Hujan di Bulan Purnama’ dan akan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya, dengan tegas Aming menjawab: “Siap hadir!”

Ketika Aming menuju Yogya, ia menulis di status Facebook-nya: ‘meluncur ke Yogya untuk Sastra Bulan Purnama’. Begitulah, penyair dari Surabaya memberi infornasi kepada teman-temannya, bahwa dia sedang menuju Yogya untuk acara Sastra, dan ketika Aming sudah sampai Yogya dia memberi kabar melalui WA:

“Pak Ons, saya sudah di Maguwa di rumah kakak saya, istirahat dulu sore meluncur ke Tembi,” tulisnya.

Seperti setiap kali dia ke Tembi, begitu sampai ke lokasi dia langsung menuju angkringan untuk menikmati kopi. Jumat sore, 4 Mei 2018, beberapa penyair sudah datang lebih dulu, Aming nampak duduk di pojok sambil menikmati kopi hitam.

“Wow, rupanya presiden penyair Surabaya sudah sampai,” saya menyapanya. “Baru saja duduk langsung pesan kopi,” jawab Aming sambil tertawa.

Aming Aminoedhin memang sudah beberapa kali tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama. Biasanya dia datang bersama dengan teman-temannya dari Surabaya, dan menyajikan ludrukan sastra, sehingga penampilannya selalu mengundang gelak tawa.

Ini kali dia sendiri, dan membacakan dua puisi karyanya. Satu puisi jawa, yang lebih dikenal dengan sebutan geguritan, da satu puisi yang ada di dalam buku ‘Kepada Hujan di Bulan Purnama’.

Di awal acara Aming sudah minta, jangan ditempatkan pertama dalam membaca. Tapi mendekati akhir saja, selain supaya masih bisa sambil istirahat, dalam membaca nanti bisa sambil bercanda.

Konten Terkait:  Arjuna Wiwaha Buah dari Ketekunan dan Tahan Uji

“Aku aja didelehno neng ngarep, neng mburi ae (saya jangan membaca di awal, tetapi di bekakang saja),” kata Aming dalam logat Jawa Timuran.

Mengenakan baju warna hijau muda, atau dalam istilah jawa dengan sebutan ijo (hijau) pupus, lehernya dibalut selendang, Aming maju ke depan untuk membacakan puisinya.
“Ambekna mung penyair, perlu ganti kostum (meskipun hanya penyair, perlu ganti kostum),” katanya mengawali dalam logat bahasa Jawa Timuran.

Geguiritan yang berjudul ‘Amarga Donya Wis Menehi Tandha’ dibacakan Aming dengan penuh ekspresif. Terkadang matanya terpejam, kakinya diangkat ke atas, dan tangannya melambai. Aming terlihat menikmati membacakan geguritan karyanya.

Tidak ingin dianggap sepenuhnya berbeda dengan penyair lainnya, Aming Aminoedhin juga membacakan satu puisi yang terdapat dalam antologi puisi ‘Kepada Hujan di Bulan Purnama’. Puisi berjudul ‘Tentang Gedung Tua Tengah Kota Surabaya’ ia bacakan dengan penuh semangat. Melalui puisi yang ia tulis, Aming seperti geram terhadap para pejabat, seolah tidak peduli terhadap gedung tua di tengah Kota Surabaya, yang katanya, demikian Aming berseru melalui puisinya: ‘dibilang cagar budaya’.

Berikut ini petikan puisi yang menghadirkan suasana geram dalam diri Aming, atau mungkin seniman di Surabaya:

berjuta suara-suara protes seniman itu
berkejaran memburu pejabat itu
suaranya membentur gedung tua tengah kota
suara-suara itu kian parau, tak ada
orang hirau, telinga pejabat telah mempat
nurani hatinya sekarat (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here