Puisi Waty Sumiati Halim

0
79

Menantikanmu

Jerit peluit kereta senantiasa memacu semangatku,
sejumput asa menyelinap ke bilik hati lalu menggantung di sudut
jumpa kau jiwa kelana.

Kepul asap lokomotif tua senantiasa memikat pandangku,
sejumput asa memuai merebak di bilik hati lalu lambungkan anganku…
jumpa kau jiwa kembara

Hasrat hatiku mengejar bayangmu,
beribu hari sejak gerbong tua itu melaju membawamu pergi menggapai citamu.
Menyisakan sebuah ruang hampa di sudut hati yang paling dalam.

Kota tua ini saksi abadi,
betapa bau rerumputan yang dulu menyemarakkan hari-hari memadu kasih
tak mampu lagi menghibur hatiku…
Hanya desiran angin yang menerpa pepohon
menyenandungkan sebuah elegi

Rindu dan gusar membuncah
menyeruak di derit roda kereta yang datang dan pergi
menyusuri rel yang mengajariku
untuk terus belajar tetap setia tegak di sampingmu
ketika mataku tak mampu lagi menangkap tujuan akhirmu.

Harus teguh menggenggam janji,
seperti bangunan-bangunan tua yang jadi guru dan saksi bisu
ketika haru biru hatiku dilanda cintamu beribu hari silam.

Sejumput asa menyelinap di bilik hati
Hanya satu yang pasti
: Kau pasti pulang.
Dengan sekuntum mawar dari taman hatimu.
Membawa kepingan hatiku kembali
yang telah kau bawa pergi…

Bandung, 11122016

Tinggalah Sebagai Ibu

Hidup memang tak pernah sepi dari tangis dan tawa
Langkahmu takkan terhenti di simpang jalan

Engkau tetap menggenggam cawanmu
Menuangnya pada bejana hatimu

Biarkan aku merindu
: bara kasihmu
Kala hujan menyapu panas meluruh debu
Biarkan aku mencecap sedap
: cintamu

Bandung, 11092017

Tentang Sebuah Negeri

Bumi nan elok itu bernama Nusantara
Diciptakan kala Tuhan sedang tersenyum
Dilukiskan-Nya langit biru dengan cahya mentari sepanjang tahun
Dipulaskannya biru laut dengan garis indah pantainya sepanjang musim

Pada bentangan pulau dan perairan
dari Barat sampai ke Timur meluas ke Utara hingga Selatan
DibangunNya sebuah negeri bahari

Ditebarkan-Nya kekayaan hayati pada hamparan daratan dan lautannya
Dimanjakan oleh alam-Nya aneka tumbuhan dan hewan di Bumi Pertiwi

Bumi nan subur itu bernama Nusantara
Dititipkan Tuhan pada bangsa yang disayangi-Nya
Dijaga-Nya sepanjang jejak sejarah sejak Fajar purba
DihantarkanNya ke gerbang kemerdekaan

Akankah geliatnya berhenti di batas jangkauan hidup di masa kini?

Bumi nan kaya itu bernama Nusantara
Dinantikan Tuhan untuk berkiprah di kanvas kehidupan
Dibisikkan-Nya rencana indah-Nya sejak semula
Negeri bahari permai tertata
Rakyatnya damai dan sejahtera

Adakah kau baca sematan pesan-Nya pada cakrawala jiwa
:Utus terunamu maju memimpin membawa harum sebuah nama!

Negeri bahari itu milik kita!

Adakah kau dengar panggilan-Nya menanti bakti karya nyata kita
Bersatu hati memadu karya
Kerahkan daya membangun bangsa
Raih prestasi membangun negeri
Di tengah kancah dunia kelak disebut namanya dengan hormat
: INDONESIA

Bandung, 23122017

Pada Nuansa Sebuah Rasa

Menyusuri jalan berpasir berbatu
Kudekap bayangmu dalam hening
Fajar belum lagi membuka hari
Namun ingatan tentangmu menyapa sejak dini

Aku menantikan saat kita mendaki lereng bertabur hamparan edelweiss
Menguntai kata dan nada tentang sebuah rasa
Menyenandungkan kidung yang kita gubah bersama sepanjang jalan menuju bibir kawah Ijen
Menyuarkan gelora asa ke lembah-lembah yang belum pernah kita rambah

Ah, angan tentang aroma hutan cemara yang asri selalu mengusik hatiku
Mendamba saat kita terbuai dalam lingkaran waktu
Menantikan pesona api biru menjelang terbitnya surya

Engkaukah itu yang memanggil-manggil dalam bisikan bayu
Menantikan aku yang masih bergumul di seberang laut keraguan

Akankah engkau menjumpaiku di sana
Menautkan doa-doa kita
Bertukar cerita tentang hari–hari  mencari tapak jejak kita
yang terukir pada pematang sawah beribu hari lalu

Engkaulah dia yang mengetuk-ngetuk jendela kalbu
Menyemat sebuah pesan dari langit seberang

Pada nuansa biru kehijauan danau terpantul senyummu
Menyiratkan sebuah rasa yang kita cari
Yang tak ‘kan punah ditelan masa
Karena cinta tak perlu dimengerti
Ia akan menemukan jalannya sendiri…

Bandung, 16032018

Waty Sumiati Halim, lahir di Bandung, 27 April 1965, menikah dengan teman dari masa sekolah menengah pertamanya dan dikaruniai dua orang anak. Dalam keseharian Waty berkarya sebagai spesialis kedokteran gigi anak di Borromeus Children Medical Center – RS St. Borromeus dan klinik pribadi di Bandung.

Ia senang menulis sejak remaja. Tahun 2007 ia mulai menjadi kontributor renungan remaja bagi majalah berita paroki St Perawan Maria Bunda Tujuh Kedukaan di Bandung hingga sekarang. Ia ikut ambil bagian dalam Antologi Puisi “Kita adalah Indonesia”, “Najwa Tanya Papua”, “Perempuan di Ujung Senja”, “Mengunyah Geram”, “April”, “Menolak Padam Walau Lebam”, “Sajak Untuk Ayah Tercinta”, Antologi Penagraf “Burger Terakhir yang Terbuang”, Antologi Cerpenduet “Pada Detik Terakhir”, “Semangkuk Sup di Malam Kudus”,“Mawar Untuk Gereja” “Surga Untuk Pohon Ulin”. Email: [email protected] IG waty_s_halim atau akun Facebook Waty Sumiati Halim.

TINGGALKAN KOMENTAR