Studio Grafis Minggiran terbentuk sejak tahun 2001. Sesuai namanya, komunitas ini memfokuskan diri untuk berkarya dan berwacana dengan menggunakan medium seni cetak grafis. Tahun 2018 ini merupakan tahun ke-17 dalam perjalanan Studio Grafis Minggiran berkiprah dalam kesenirupaan di Yogyakarta maupun Indonesia. Sebagai penanda yang akan menjadi penting bagi eksistensi Studio Grafis Minggiran, pameran bersama seluruh anggota studio merupakan ajang yang dinanti. Oleh karena dalam pameran tersebut akan menjadi ajang untuk menampilkan kecenderungan termutakhir karya setiap anggotanya.

2 per 10 etchinc aquatint #3 cc karya Alfin Agnuba-Foto-A.Sartono
2 per 10 etchinc aquatint #3 cc karya Alfin Agnuba-Foto-A.Sartono

Untuk tahun 2018 ini Studio Grafis Minggiran melakukan pameran dengan tema Feed to Last. Pameran diselenggarakan di Bentara Budaya Yogyakarta, 3-11 Mei 2018. Pameran dibuka secara resmi oleh Dr Edy Sunaryo MSn. Feed to Last merujuk pada arti kata feed dalam bahasa Inggris yang berarti makanan, pemberian makanan. Makna ini mengacu pada suatu aktivitas rutin yang perlu dilakukan agar sesuatu yang kita beri makan dapat tetap hidup, ada, dan menjalankan fungsinya dengan baik.

Luka Bakar, intaglio, 40 x 30 cm, 2018, karya Danang Hadi (tape)-Foto-A.Sartono
Luka Bakar, intaglio, 40 x 30 cm, 2018, karya Danang Hadi (tape)-Foto-A.Sartono

Dalam konteks kekinian feed juga digunakan sebagai fitur media sosial, seperti Facebook dan Instagram. Feed Instagram yang dikenal saat ini, artinya memberi makanan atau tepatnya asupan pada tiap-tiap foto yang di-posting. Layaknya memberi makan, feed Instagram pun punya trik, cara, dan tips. Tidak bisa sembarangan. Ada pun tujuannya adalah untuk berseni supaya tidak mainstream atau bahkan untuk meraih eksistensi.

Feed to Last di dalam konteks pameran 17 tahun Studio Grafis Minggiran adalah usaha tak henti-hentinya dari kelompok ini agar terus memberi “makan” pada pribadi maupun masyarakat dengan karya-karya grafis terkini. Feed to last juga mempunyai kemiripan ucapan dengan kata pitulas, sebuah kata yang dalam bahasa Jawa berarti tujuh belas. Tujuh belas tahun merupakan waktu yang panjang bagi Studio Grafis Minggiran utnuk mendewasakan diri berkiprah dalam jagad seni grafis Indonesia.

Konten Terkait:  Leng: Environmental Art dari Wisnu Aji Tama
Pray for Indonesia 2070, MDF laser cut, 50 x 150 cm, 2018, Deni Rahman-Foto-A.Sartono
Pray for Indonesia 2070, MDF laser cut, 50 x 150 cm, 2018, Deni Rahman-Foto-A.Sartono

Studio Grafis Minggiran bukan saja sebagai ruang produksi-ruang kolektif yang digerakkan oleh kebutuhan alat produksi bersama, tetapi juga ruang untuk mendialogkan kemungkinan-kemungkinan artistik baru melalui medium grafis. Studio ini juga merupakan laboratorium yang membuka peluang bagi para senimannya untuk melakukan penjelajahan media maupun teknik grafis secara lebih luas. Berbagai capaian tentu telah diraih, khususnya capaian artistik seniman-seniman yang berkarya di dalamnya. Capaian-capaian itu bisa dilihat dalam pameran yang diikuti oleh 11 orang pegrafis ini.

Seri potrtet #3, silk screen, 30 x 40 cm, 2018, karya Lulus Setio Budi (boli)-Foto-A.Sartono
Seri potrtet #3, silk screen, 30 x 40 cm, 2018, karya Lulus Setio Budi (boli)-Foto-A.Sartono

Sekalipun menjadi studio kerja bersama, kekhasan praktik dan eksplorasi masing-masing seniman di Studio Grafis Minggiran tetap terasa berbeda. Bentuk eksperimentasinya beragam. Mulai dari yang mengembangkan teknik-teknik grafis alternatif (umumnya teknik cetak dalam intlagio) hingga bentuknya merupakan respon atas kemunculan berbagai peralatan (teknologi) baru.

Jadi alih-alih tematik, ruang eksplorasi seniman-seniman Grafis Minggiran sekalipun tidak dikatakan seluruhnya, lebih condong pada teknik atau praktik. Demikian menurut Arham Rahman yang memberikan tulisan pengantar dalam pameran ini. Oleh karena itu pula seperti karya-karya seni grafis pada umumnya, seni grafis dalam pameran ini tidak bisa dinilai dari aspek formalis yang kaku semata. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here