Wejangan Kehidupan (2): Sendang Beracun

0
49
Wrekudara, yang menjadi korban air sendang beracun pertamakali. wayang koleksi museum Tembi Rumah Budaya
Wrekudara, yang menjadi korban air sendang beracun pertamakali. wayang koleksi museum Tembi Rumah Budaya

Demi mencarikan air untuk Dewi Kresna yang kehabisan tenaga dan merasa sangat dahaga, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa tewas sebelum sempat membawa pulang air telaga untuk Dewi Kresna. Mengetahui keempat adiknya meninggal, Puntadewa merasa berdosa, karena dirinyalah yang mengutus adik-adiknya untuk menemukan sumber air di sekitar tempat ini. Rasa sesal itulah yang kemudian mendorong Puntadewa untuk menyusul mati saudara-saudaranya, dengan menceburkan diri di air telaga.

Namun niat Puntadewa itu tidak kesampaian, karena dihadang oleh raksasa sebesar anak gunung. Bahkan sang raksasa menawarkan jasanya untuk menghidupkan Wrekudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa asalkan dapat menjawab cangkriman (teka-teki) yang diajukan dengan tepat dan benar. Mendengar janji yang diucapkan dari mulut sang raksasa, Puntadewa pun bersemangat untuk menjawab cangkriman-cangkriman yang diajukan.

“Hai Puntadewa! tahukah kamu, apa yang beratnya melebihi bumi? dan apa yang tingginya melebihi langit? Dan apa yang lebih banyak dibandingkan dengan rumput?”

Jawab Puntadewa: “Yang lebih berat dibanding bumi adalah ibu, dan yang lebih tinggi daripada langit adalah bapa. Sedangkan yang lebih banyak dibandingkan dengan rumput adalah gagasan manusia.”

Raksasa pun melanjutkan pertanyaannya: “Siapakah yang dianggap bapa itu? Jika dibandingkan dengan ibu apakah sama di mata anak?”

“Bapa yang sesungguhnya adalah sosok laki-laki yang mencukupi kebutuhan akan makan, termasuk juga bapa angkat. Bapa sejati juga menjadi guru sejati, yang menunjukkan jalan kebaikan serta keselamatan. Sedangkan ibu itu bagi anak, di satu sisi sama halnya dengan bapa yang mencukupi kebutuhan akan makan”.

“Bagus Puntadewa, cangkriman selanjutnya: Siapa sahabat setia dari orang yang dibuang? Siapa sahabat setia dari orang sakit? Dan siapa yang menjadi sahabat setia dari seseorang yang mendekati ajal?”

“Sahabat setia dari orang buangan yaitu temannya sendiri sesama orang buangan. Dan sahabat setia dari orang yang sedang sakit adalah tabib. Sedangkan sahabat setia dari orang yang mendekati ajal itu adalah watak belas kasih.”

“Apa yang dianggap jiwanya manusia? Apa pula yang dianggap pertolongan besar dan perlindungan besar? Apa yang dianggap sahabat karib pemberian dewa?”

Puntadewa menjelaskan bahwa yang dianggap jiwanya manusia itu adalah anak laki-laki. Yang dianggap pertolongan besar adalah mendung yang kemudian menurunkan hujan. Sedangkan perlindungan besar itu adalah pemberian. Dan yang disebut sahabat karib dari dewa itu adalah bojo (pasangan hidup, suami atau istri). Raksasa besar itu pun mengangguk-angguk dengan jawaban Puntadewa.

“Apakah engkau tahu he Puntadewa, kemuliaan yang paling luhur itu apa? Jika dihubungkan dengan surga, yang paling luhur itu apa? Kalau bagi keutamaan yang paling luhur itu apa? Dan kalau bagi nama baik yang paling luhur itu apa?”

“Kemuliaan yang paling luhur adalah kemerdekaan. Bagi surga yang paling luhur adalah watak tulus tak bercela. Bagi keutamaan yang paling luhur adalah perbuatan baik. Sedangkan bagi nama baik yang paling luhur adalah berderma.”

Seakan akan tak ada habisnya, Raksasa itu terus mengajukan cangkrimannya. “Penghargaan yang paling luhur itu apa? Kekayaan yang paling luhur itu apa? Perihal keberuntungan yang paling luhur itu apa? Sedangkan perihal masakan yang paling luhur itu apa?”

“Penghargaan yang paling luhur adalah penghargaan yang diberikan atas dasar pengorbanan keutamaan. Kekayaan yang paling luhur itu adalah ilmu pengetahuan dan kecerdasan. Keberuntungan yang paling luhur adalah sikap panarima (pasrah). Sedangkan yang berhubungan dengan makanan, yang paling luhur adalah sehat lahir batin.”

Arjuna, korban kedua menyusul Wrekudara, wayang koleksi museum Tembi Rumah Budaya
Arjuna, korban kedua menyusul Wrekudara, wayang koleksi museum Tembi Rumah Budaya

“He Puntadewa, apa yang dihindari tetapi dapat membuat hati ini senang. Dan apa yang ditinggal dapat membuat kaya? Dan apa yang dibuang malahan mendatangkan keberuntungan?”

“Orang akan merasa senang jika dapat menghindari watak jumawa, merasa dirinya lebih jika dibanding dengan yang lain. Orang akan menjadi kaya jika dapat meninggalkan keinginannya. Sedangkan yang dibuang dapat membuat begja (keuntungan) adalah watak kikir.”

“Apa gunanya memberikan persembahan kepada brahmana? Apa sebabnya orang sampai kepeleset tidak bisa naik surga? Apa yang disebut sarana membuat jalan?”

“Memberi persembahan kepada brahmana dapat mendapat anugerah yang berhubungan dengan keagamaan. Yang mengakibatkan terpeleset dan tidak dapat naik ke surga karena hidupnya sepi dari pengorbanan baik dan terikat dengan hal-hal duniawi. Sedangkan sarana membuat jalan adalah kelakuan utama.”

“Apa yang dianggap seperti racun? Saat mana yang baik untuk membuat sarana? Sesaji yang baaimana yang dibilang mati?”

“Yang dikatakan seperti racun itu adalah orang yang senang meminta-minta. Waktu yang baik untuk membuat sarana adalah saat mendapat tamu brahmamna. Sesaji yang dianggap mati adalah sesaji yang tidak dibarengi dengan memberikan pisungsung (persembahan) kepada brahmana.”

“Apa yang menjadi ciri dari laku tapa? Seperti apa seharusnya orang yang disebut pangreh? atau orang yang mempunyai kuasa untuk memerintahkan yang kecil. dan apa yang menjadi sebab terjadinya pengampunan.”

“Ciri seseorang yang hidupnya dipenuhi oleh laku tapa adalah seseorang yang setia dalam hidup keagamaan, pangreh sejati adalah orang yang dapat menguasai pikirannya sendiri. Yang menyebabkan datangnya pengampunan adalah perang besar yang berlarut-larut.” (Bersambung)

Sumber Wejangan dan Wewarah Piwulang Kaprajan

TINGGALKAN KOMENTAR