Membaca Hujan di Bulan Purnama

0
94
Yuliani Kumudaswari, foto Totok
Yuliani Kumudaswari, foto Totok

Bulan memang tidak bundar di tengah, laiknya bulan purnama yang menyinari Sastra Bulan Purnama. Namun bulan terlihat bundar di ujung timur yang tinggi, sehingga sinarnya tidak menghiasi Sastra Bulan Purnama edisi 80, yang menghadirkan penyair dari beberapa kota tampil membaca puisi-pisinya yang terkumpul dalam antologi puisi ‘Kepada Hujan di Bulan Purnama’, Jumat, 4 Mei 2018 di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Sebut saja, para penyair sedang membaca hujan di bulan purnama, setidaknya dua judul puisi ‘Kepada Hujan’ karya Krishna Miharja dan Wadie Maharief dibacakan dalam peluncuran buku puisi tersebut. Judul puisi itu dipakai sebagai judul antologi puisi seri tembi.net, yang menampilkan 31 penyair dari kota yang berbeda: Bekasi, Semarang, Yogya, Magelang, Temanggung, Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, Cilacap, Bumiayu, Madura, Salatiga, Tegal dan lainnya.

Bontot Sukandar-foto Totok
Bontot Sukandar-foto Totok

Dari 31 penyair 10 di antaranya tidak bisa hadir, karena memiliki agenda yang tak bisa ditinggalkan. Sebanyak 21 penyair yang hadir semua membaca puisi, bahkan ada penyair yang membaca puisi sambil menari, ialah Sus S Hardjono, penyair sekaligus guru dari Sragen. Ada yang membaca puisi sambil diiringi musik yang sudah direkam seperti dilakukan oleh Novi Indrastuti, perempuan penyair dan pengajar di Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Sus S Hardjono, foto Totok
Sus S Hardjono, foto Totok

Ada yang membaca puisi sambil diiringi musik atau puisinya digubah menjadi lagu dan dinyanyikan sendiri oleh penyairnya, seperti dilakukan oleh Nella Widodo, perempuan penyair dari Temanggung; dan Bontot Sukandar, penyair dari Tegal. Keduanya melantunkan puisi sambil diiringi petikan gitar oleh Joshua Igho, penyair dari Magelang.

“Saya nanti tidak perlu dipanggil lagi untuk tampil membacakan puisi saya yang ada dalam buku Kepada Hujan di Bulan Purnama, karena suda dua kali tampil bersama dua penyair dari kota yang berbeda,” kata Joshua Igho.

Daladi Ahmad, penyair sekaligus guru melagukan puisinya yang ada di dalam buku Kepada Hujan di Bulan Purnama. Daladi, demikian panggilannya, memang sering tampil melagukan puisi, bukan hanya puisi karya sendiri, tetapi juga puisi karya penyair lainnya. Pada peluncuran buku puisi ‘Kepada Hujan di Bulan Purnama’ ia melagukan dua puisi karyanya.

Konten Terkait:  Semar Gugat Mengusir Kuasa Jahat

Para penyair lain, secara bergantian membacakan puisi-puisi karyanya. Ada yang membacakan lebih dari dua puisi, ada yang membacakan dua puisi, dan ada yang membacakan hanya satu puisi.

Para penyair muda, seperti Dimas Indiana Senja, Daruz Armedian, Lukas Jono, Daffa Randai membacakan puisi di awal secara bergantian. Ada yang membacakan dua puisi, namun ada juga yang membacakan satu puisi, seperti Lukas Jono, yang tampil lucu dan terlihat agak grogi.
“Saya baca satu puisi saja, tapi saya mau bilang kalau saya sudah menerbitkan buku puisi, ini bukunya, (sambil menunjukkan bukunya) kalau mau beli harganya Rp40.00,” kata Lukas Jono, yang disambil gelak tawa hadirin, karena telihat lucu sekaligus grogi.

Yuliani Kumudaswari, perempuan penyair dari Sidoarjo, dan Ummi Azzura Wijana, perempuan penyair dari Magelang tampil membacakan puisi karya. Keduanya tampil sendiri, karena para perempan penyair lainnya, seperti Nella. Novi, Sus ditemani oleh orang lain dalam membaca.

Lukas Jono, foto; Totok
Lukas Jono, foto; Totok

Pada akhir pertunjukan, sekaligus untuk closing, tiga orang penyair secara bergantian tampil membacakan puisi karyanya, ialah Krishna Miharja, Aming Aminoedhin, penyair dari Surabaya dan Landung Simatupang. Aming membacakan dua puisi, satu geguritan dan satu puisi karyanya yang ada di dalam antologi puisi ‘Kepada Hujan di Bulan Purnama”.

“Kalau kita sering membaca tulisan yang ada di kaos 2019 ganti presiden, saya tidak akan terpengaruh, saya memilih 2019 ganti geguritan,” ujar Aming mengawali dan hadirin tertawa mendengarnya.

Memang satu geguritan dia teriakkan dengan lantang. Khas dari gaya penyair Surabaya ini, yang dikenal sebagai presiden penyair Surabaya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here