Fombi – FMT 2018: Berkelana Dalam Kesederhanaan Bunyi Nusantara

0
212
Festival Musik Tembi-Desain-Deny
Festival Musik Tembi-Desain-Deny

Forum Musik Tembi akan mengadakan Festival Musik Tembi (FMT) yang ke-8. Mengambil tema “Berkelana”, FMT diharapkan dapat menyegarkan kembali esensi acara tersebut. Festival Musik Tembi diadakan pertama kali pada tahun 2011 dengan mengangkat Musik Tradisi Baru sebagai wujud identitas musik Indonesia. Identitas ini juga mengusung esensi kesederhanaan dalam bermusik, bahwa musik bisa berasal dari, untuk dan oleh siapa saja.

Sheila Sanjaya selaku Festival Director FMT 2018 menyatakan, “Penyelenggaraan FMT diadakan untuk memfasilitasi dan sebagai laboratorium apresiasi terhadap musisi-musisi Tanah Air tanpa ada sekat genre”. Ia menambahkan bahwa dengan menghadirkan inovasi Musik Tradisi Baru sebagai agenda wajib, juga diharapkan dapat mengangkat bunyi-bunyian dan menggali identitas musik Nusantara.

Seperti Panji Inu Kertapati yang mengembara dan berkelana mencari asa pada kisah Dewi Candra Kirana, FMT juga terus mengembara untuk mencari bunyi-bunyi Nusantara, untuk dipertunjukan kembali kepada masyarakat luas. Pengembaraan kali ini membuat FMT mengangkat “Bundengan” sebagai ikon sekaligus alat musik yang diulas. Alat musik yang berbentuk seperti tudung yang berasal dari daerah Wonosobo ini, diangkat karena keunikannya yang selaras dengan konsep dari Festival Musik Tembi 2018. Bahwa semua orang dapat bermusik dan musik bisa berasal dari mana saja, bahkan dari hal paling sederhana sekalipun. Penampilan alat musik Bundengan ini juga akan diperindah dengan kemunculan alat-alat musik tradisi lain dari berbagai sudut Nusantara.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, FMT akan diselenggarakan selama dua hari pada hari Sabtu-Minggu, 5-6 Mei 2018 di Tembi Rumah Budaya, Sewon Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Agenda hari pertama adalah bincang-bincang musik yang akan mengulas mengenai alat musik Bundengan yang didemonstrasikan oleh Pak Munir dari Wonosobo, serta pemerhati musik tradisi Bundengan.

Pada pertunjukan malamnya, penonton akan menikmati penampilan dari Chakil Squad, Swara Nusa, Parahyena dan juga Brayat Endah Laras sebagai penutup FMT hari pertama. Hari kedua FMT dibuka kembali dengan lokakarya bermain Bundengan bersama Mas Hengky Krisnawan, dilanjutkan dengan bincang-bincang mengulas mengenai tips dan trik menjadi Komposer.

Selain dihadiri oleh Rizaldi Siagian selaku etnomusikolog dan Frans Sartono (wartawan senior Harian Kompas), Ayu Laksmi, musisi kelahiran Bali, 25 November 1967 ini akan turut membagikan pengalamannya menjadi seorang komposer. Sore harinya penampilan Umar Haen akan membuka panggung FMT. Dilanjutkan dengan penampilan tujuh Kelompok Musik Tradisi Baru yang sudah lolos seleksi yakni Barong Osing, Bintang Indrianto, Ayu Laksmi featuring Svara Semesta, dan Orkes Wangak.

Selain menikmati pertunjukan dan mendapatkan wawasan musikal di bincang-bincang musik, pengunjung juga dapat berinteraksi secara langsung, dengan karya “Instalasi Bunyi” oleh RAW Creative. Karya yang akan menemani pengunjung selama dua hari melalui instalasi ruang yang berbasis sensor gerak, bunyi, dan tekan yang akan menstimulasi bunyi lain pada beberapa titik. Bunyi yang muncul merupakan suara digital yang bersumber dari beberapa instrumen tradisi dan lingkungan. Sehingga masyarakat yang datang bisa berkolaborasi bunyi dengan beberapa titik sensor yang ada pada ruangan tersebut. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here