Puisi Ely Widayati

1
202

Bukit Teriris

Ketika resah mendesah
Sukma bungkam terdiam
tetes air bening mengalir di sungai lekuk pipi
Mata menatap bukit yang teriris
Angin melantunkan lagu – lagu penuh tangis
Dan debu – debu menari – nari di atas luka – luka yang tercabik

Bukit yang teriris
Menangis menahan perih
Air mata terus menetes menggerus tanah yang meringis
Daun dan rantingpun hanyut terbawa arus tangis pedih

Bukit yang teriris
Buat batinku menjerit
Dadaku menyempit menahan isak tangis
Aku kalah dengan ambisimu yang tanpa kasih

Nganjuk, 14 Januari 2018

Merajut Sepi

Malam hening
Merajut sepi yang panjang
Dengan benang – benang kasih
Jujur apa adanya

Merajut sepi di malam tanpa bintang
Mengurai misteri yang tersembunyi
Hati luruh tanpa daya
Mencekik nadi hingga aku hampir mati
Membungkam mulutku dari kesombongan
Meredam api dendam yang tidak bertepi
Merintih menangisi keresahan hati
Aku terkapar bagai dipecut kilat petir

Sepi semakin menyayat
Pelan – pelan membuka tirai kalbu
Merunduk dan bersimpuh berserah kepada Pencipta sepi

Kotabayu16112016_2012

Tentang Cinta

Tentang cinta yang telah digariskan
Antara kau dan aku
Dalam satu biduk kokoh
Sederhana , biasa, tanpa kata – kata mesra
Tetapi aku merasakan begitu lembut , tulus , dan jujur

Tentang cinta kita
Yang disatukan oleh yang empunya cinta

Tentang cinta kita
Yang kutulis pada lembar – lembar rindu dengan tinta kasih sejati
Kujilid menjadi buku berilustrasi semesta abadi

Tentang cinta kita
Yang dipisahkan maut oleh yang empunya cinta

Tentang cinta kita
Terlalu indah dan abadi yang kunikmati sampai merapuh tulang
Pada ajal yang menjemput

Nganjuk,30012018

Rangkaian Melati

Rangkaian melati
Dua puluh tujuh puluh tahun yang lalu
Masih tersimpan utuh rapi
Di antara serpihan – serpihan hati yang terkoyak
Saksi ikatan janji yang terpatri
Ada rasa yang tetap tinggal disini

Konten Terkait:  Puisi Indri Yuswandari

Dua cinta bersatu dalam perbedaan
Menyatu dalam satu biduk arungi samodra kehidupan di mayapada
Berpegang erat menembus gelombang yang menghempas
Saling berpeluk saat angin menerpa
Saling mengisi kekurangan hati , menerima apa adanya
Kau teduhkan aku dalam dekapan yang tulus
Kata – kata lembut penuh makna meluruhkan kerasnya hati
Kau anugerah terindah dalam hidup

Rangkaian melati
Penuh cerita cinta abadi
Aku hanya bisa ucap terima kasih Gusti
Duniaku telah Kau penuhi harum semerbak melati kebahagiaan

Nganjuk,27022018

ELY WIDAYATI Lahir di Sragen, Jawa Tengah, tanggal 5 Maret. Sejak SD ia suka membaca puisi dan mengikuti lomba baca puisi pada hari Natal di gereja. Puisi pertama karyanya dimuat di majalah milik Pos sewaktu ia duduk di bangku SMP. Mulai tahun 1994 Ely menggeluti pendidikan dasar sampai sekarang, di SDN Balongrejo 3 Bagor. Sebagian karya puisi Ely masuk dalam buku antologi bersama yaitu Kumpulan Gurit Wanodya (2017), antologi bersama Musim Ketiga, 1000 Haiku Indonesia (2017), antologi bersama puisi Sajak – Sajak Laut (2017), antologi bersama puisi Senja Bersastra di Malioboro (2017), antologi puisi Perempuan di Ujung Senja (2017), antologi The First Drop of Rain (2017).

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here