‘Namaku Pram’, Catatan dan Arsip Pramoedya Ananta Toer

0
257
Happy Salma dan Putri Pram Astuti Ananta Toer
Happy Salma dan Putri Pram Astuti Ananta Toer

Sebagai upaya untuk melihat lebih dekat Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar yang pernah dimiliki Indonesia, Titimangsa Foundation bekerja sama dengan Dia.Lo.Gue, dan didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, menggelar pameran bertajuk ‘Namaku Pram: Catatan dan Arsip’. Pameran ini menampilkan sosok Pram yang bukan hanya sebagai penulis, tetapi lebih sebagai manusia dalam kesehariannya dan dokumentator Indonesia.

Seluruh pengisi acara dan pendukung pameran 'Namaku Pram Catatan dan Arsip'
Seluruh pengisi acara dan pendukung pameran ‘Namaku Pram Catatan dan Arsip’

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, 6 Februari 1925. Karya-karyanya berupa cerita pendek dan novel mulai dikenal sejak tahun 1950-an. Selama tujuh dekade masa hidupnya dipakai untuk menulis lebih dari 50 buku, yang sebagian karyanya ini telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa dunia termasuk di antaranya Bahasa Spanyol pedalaman dan Bahasa Urdu.

Pramoedya Ananta Toer merupakan satu-satunya penulis Indonesia yang berkali-kali menjadi kandidat peraih Nobel Sastra. Pram dan karya-karyanya lebih dari sekadar hadiah Nobel atau sejumlah penghargaan lainnya yang ia terima dari dunia internasional.

Karya-karya Pram tak pernah berhenti menjadi inspirasi banyak orang demi memaknai sejarah perjuangan kemanusiaan di tengah berbagai penindasan. Terutama lewat empat novel terpentingnya yang ditulisnya semasa menjalani tahanan di Pulau Buru. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca, merupakan empat novel yang dikenal dengan Tetralogi Pulau Buru.

Slamet Rahardjo Membaca Karya Pram
Slamet Rahardjo Membaca Karya Pram

Namaku Pram: Catatan dan Arsip merupakan sebuah pameran yang menampilkan barang-barang keseharian Pram dan kegiatannya yang suka sekali mencatat dan mengarsipkan segala sesuatu. Pameran ini tercetus setelah suksesnya penyelenggaraan pementasan Bunga Penutup Abad di tahun 2016 dan 2017. Naskah pementasan yang diprakarsai oleh Titimangsa Foundation ini, merupakan adaptasi dari novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa karya Pram.

Pameran ini, yang resmi dibuka di Galeri Indonesia Kaya, pada Kamis, 17 April 2018, selain menampilkan arsip dan catatan milik Pram. Pembukaan pameran ini diwarnai para selebritis dan tokoh yang membaca karya-karya sastrawan besar ini, seperti Slamet Rahardjo, Najwa Shihab, Ratna Riantiarno, Ananda Sukarlan, juga cucu dari Pram.

Happy Salma Membuka Pameran Pram
Happy Salma Membuka Pameran Pram

Happy Salma yang juga penggawang Titimangsa Foundation mengungkapkan pernah bernazar jika pementasan ‘Bunga Penutup Abad’ yang berlangsung dua tahun lalu sukses, ia akan membuat pameran yang berfokus pada karya-karya Pram. “Karya-karya beliau telah memberikan pengaruh besar dalam cara saya memandang dan menjalani hidup. Dan pameran ini salah satu bentuk rasa terima kasih saya untuk Pram, karya sastra mampu menggerakkan hati banyak orang dan membangun karakter seseorang dan pada akhirnya karakter bangsa adalah benar,” ujar Happy Salma saat ditemui dalam pembukaan pameran.

Konten Terkait:  Selasa Kliwon, Hari Tidak Baik untuk Perjalanan Jauh

Di antara memorabilia dan arsip dari Pram ada dua ensiklopedia yang disusun Pram dan baru disuguhkan pada publik. Menurut putri Pram, Astuti Ananta Toer, saat jumpa pers, dua ensiklopedia tersebut yang disusun antara tahun 1958-1965, sempat diberangus pemerintah dan disusun kembali.

Ensiklopedia tersebut berjudul ‘Citra Indonesia’ dan ‘Geografi Indonesia’. Di ensiklopedia pertama mencatat kebudayaan yang ada di Indonesia dan ‘Geografi’ fokus pada riset Pram tentang ruang-ruang geografi Tanah Air sampai ke tingkat desa. Bahkan untuk menyusun ensiklopedia tersebut Pram sampai mencapai dasar laut untuk melihat keindahan Indonesia.

Najwa Shihab Membaca Cerpen Pram
Najwa Shihab Membaca Cerpen Pram

Renitasari Adrian, Program Director, Bakti Budaya Djarum Foundation mengatakan penting untuk diketahui oleh masyarakat umum, terutama generasi muda, bahwa Indonesia pernah mempunyai seorang penulis yang tidak hanya unggul dalam karya, tetapi juga merupakan seorang pencatat yang rajin dan konsisten dalam mendokumentasikan berbagai peristiwa dari seluruh pelosok tanah air.

“Semoga pameran Namaku Pram: Catatan dan Arsip ini dapat memperlihatkan sisi lain seorang Pramoedya Ananta Toer dalam kesehariannya dan dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai sastra Indonesia serta menjadikan sastra sebagai bagian gaya hidup sehari-hari,” ujarnya.

Untuk mengapresiasi pameran Namaku Pram: Catatan dan Arsip ini, para penikmat seni sastra Tanah Air dapat mengunjungi:

Dia.Lo.Gue
Jalan Kemang Selatan No. 99A
mulai 17 April – 20 Mei 2018
pukul 09.30 – 18.00 WIB (Senin – Kamis)
dan 09.00 – 21.00 WIB (Jumat – Minggu)

serta mini pameran di:
Galeri Indonesia Kaya
Grand Indonesia West Mall Lantai 8
mulai hari 17 April – 2 Mei 2018
Pukul 10.00 – 22.00 WIB.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here