Puisi Heru Mugiarso

0
83

Jalan Sepi

Seutas jalan sepi yang kutempuh
tak menyediakan matahari
karena langit terkulai dan lumpuh
menyisakan selasar nadi

ada tilas aksara nama kita
terpahat rapi di ranjang batu
melipat lembar episode airmata
di ujung romansa syahdu

seutas jalan sepi yang kupilih
selalu menyisakan butiran serpih
Dan engkau belahan luka
berangkat susut dalam renjana

Berkhidmat Dengan Rindu

di telapak kakimu ada surga
yang tersusun dari lukisan para perupa
mozaik doa, gugusan cinta dan serpih airmata

dalam istana pasir ,di atas singgasana kencana
di bibirku ada barisan kata
mungkin mantera yang tak pernah termaktub
pada kitab suci apa saja
kecuali di ruang sanktuari
bercinta sunyi

maka berkhidmat rindu adalah nikmat
alamatnya bisa kautelusuri
dengan telisik cinta dari sepotong jantung yang terluka
kau dekap erat kemana-mana
dan selendang putih kiriman dari surga
tersampir di bahunya.

Nyanyian Kekasih

Ia senandungkan nada
yang tak juga beranjak

Dari tangga tangga partitur sunyi
pada suatu pagi

Imaji nyaris menoleh
pada hati yang meleleh

Tidakkah kekasih adalah
Sungai sungai platonis
Dan tajam mengiris?

Tidakkah puisi adalah
Yang tak mereka gubris
Namun lurus serupa garis?

Ia gumamkan lagu
tanpa tanda seru dan jejakjejak rindu
Bermakam di sepasang matamu

Syahadat Cinta

Aku bersujud dalam cangkang waktu
berkiblat pada kabut pagi
dan bertasbih bersama
butiran embun yang berlinangan
di pucuk daun

Aku gumamkan mantra doa
untuk sebuah harapan
yang purba
lalu dari cangkangcangkang waktu
menetas anakanak zaman
yang rindu
Tuhan

Mereka telah tersepuh warna langit
dan silau cakrawala
sehingga hidupnya
melangkah tanpa peta

Di Beranda Pagi

di beranda pagi, aku tahu, tak ada yang lengkap
walau kopi terhidang sempurna
dan cahaya matahari enggan menyala
mungkin hanya geliat kehidupan
perlahan berangkat dari sisi yang tak terduga
dan di beranda ini, engkau menuntaskan mimpi
mereguk rasa tak habis bercinta

***

HERU MUGIARSO, lahir di Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah, 56 tahun yang lalu. Ia berkiprah di dunia penulisan sastra sejak masih remaja sekitar tahun 1975. Tulisannya berupa puisi, esai, kritik dan cerita pendek pernah di muat di berbagai majalah dan surat kabar nasional dan daerah antara lain Horison, Republika, Media Indonesia, Jawa Pos , Suara Merdeka, Solo Pos, Littera, Hysteria, Radar Banjarmasin dan sebagainya. Prestasi yang pernah diraih adalah penghargaan Komunitas Sastra Indonesia Award 2003 dari yayasan Komunitas Sastra Indonesia sebagai penyair terbaik. Salah satu puisinya masuk dalam 100 Puisi Indonesia Terbaik dan masuk dalam nominasi penerima anugerah sastra Pena Kencana tahun 2008. Buku antologi puisi tunggalnya TILAS WAKTU (2011) yang diluncurkan pada temu sastra internasional NUMERA (Padang, 2012) masuk dalam katalog perpustakaanYale University, Cornell University serta University of Washington, Amerika Serikat. Antologi bersama esai dan puisinya menjadi koleksi Universitas Hamburg Jerman. Namanya masuk dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (Yayasan HariPuisi, 2017). Antologi puisi tunggal keduanya telah terbit dengan judul LELAKI PEMANGGUL PUISI (2017). Di luar itu, ia adalah inisiator gerakan Puisi Menolak Korupsi yang didukung oleh ratusan penyair Indonesia. Sekarang ia aktif mengelola jurnal sastra dan sehari-hari bekerja sebagai pengajar pada Universitas Negeri Semarang. Email [email protected] rumah: Jl Bukit Kelapa Sawit IV/30 Bukit Kencana Jaya Tembalang, Semarang. No HP 081325745254.

TINGGALKAN KOMENTAR