Membaca Denah Bangunan Tembi Rumah Budaya (3)

0
148
Pasren di Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono
Pasren di Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono

Orang Jawa yang pada masa lalu hampir seluruh hidupnya tergantung dari ketersediaan beras atau hasil pertanian di rumah. Mereka percaya bahwa sewaktu-waktu Dewi Sri hadir di pasren/patanen. Dipercaya bahwa kehadirannya akan membawa kesuburan/kemakmuran/ kelimpahan padi bagi sang pemilik rumah.

Pada kanan dan kiri pintu masuk pasren di Tembi Rumah Budaya juga dilengkapi dengan sepasang patung loro blonyo. Patung yang dicat dengan pola rias pengantin Jawa (basahan) ini menggambarkan bahwa Raden Sadana dan Dewi Sri merupakan pasangan yang tidak terpisahkan. Cermin gambaran tentang loro-loroning atunggil, curiga dan warangkanya, lingga dengan yoninya, dewa dengan saktinya. Hal demikian juga menngingatkan tentang cinta suami istri sang pemilik rumah yang harmonis dan abadi.

Selain senthong tengah yang digunakan untuk pasren atau patanen, di kanan pasren terdapat senthong tengen yang khusus digunakan sebagai kamar tidur sang tuan rumah dengan istrinya. Ruang ini bersifat khusus atau privat hanya untuk ayah dan ibu. Selain itu pada sisi kiri senthong tengah terdapat senthong kiwa yang di Tembi Ruymah budaya digunakan untuk menyimpan atau memajang alat-alat rumah tangga masyarakat Jawa masa lalu seperti tenggok, lumpang, alu, tumbu, erok-erok, irus, siwur, enthong, cething, kukusan, dandang, dan lain-lain.

Gadri di Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono
Gadri di Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono

Dalem ageng di Tembi Rumah Budaya digunakan untuk memajang benda-benda kuna masyarakat Jawa masa lalu yang oleh karenanya lebih sering disebut sebagai museum. Benda-benda yang dipajang di ruang ini di antaranya adalah celengan dengan berbagai bentuk dan bahan, mainan tradisional anak-anak, peralatan batik dengan contoh berbagai motif batik, senjata tradisional Jawa terutama keris dan tombak dengan berbagai ukuran, dhapur, pamor, dan tangguhnya masing-masing. Ada pula wayang kulit dan wayang golek, topeng, aneka macam foto sajen manten dan pasang tarub dalam bentuk foto, dan dokumentasi audio visual tentang kesenian dan adat-istiadat masyarakat Jawa masa lalu.

Konten Terkait:  Kamus Bahasa Indonesia – Bahasa 4 Daerah

Pada sisi belakang dari dalem ageng terdapat sebuah ruang yang berbentuk lorong. Ruangang ini disebut gadri. Gadri pada konstruksi denah rumah tradisional Jawa merupakan emper atau beranda bagian belakang. Gadri biasanya digunakan untuk tempat bersantai bagi semua anggota keluarga (umumnya di sore hari). Di tempat inilah mereka ngobrol sambil minum dan makan makanan ringan.

Pintu utama Bale Kambang atau function room di Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono
Pintu utama Bale Kambang atau function room di Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono

Gadri di Tembi telah berubah menjadi lorong yang menghubungkan ujung belakang gandhok kiwa (ruang dokumentasi) dan gandhok tengen (ruang pamer/galeri) serta perpustakaan dan bale kambang, yakni bangunan di bagian paling belakang dari konstruksi denah rumah Jawa tradisional. Bale kambang di Tembi telah diubah fungsinya menjadi ruang multi guna (function room).

Tampak dari atas Tembi Rumah Budaya (kotak putih) dalam Google Earth
Tampak dari atas Tembi Rumah Budaya (kotak putih) dalam Google Earth

Pada kanan dan kiri bale kambang atau function room ini terdapat bidang tanah terbuka yang pada denah aslinya merupakan kebun atau taman di bagian belakang. Sedangkan di bagian pojok kiri belakang dari denah rumah Jawa umumnya terdapat sumur, kamar mandi/WC, gudang, dapur, dan kadang-kadang dilengkapi pula dengan kandang hewan piaraan seperti ayam atau burung. Kebun belakang di Tembi masih cukup tersisa. Pada kebun belakang sisi kanan (barat) didirikan perpustakaan serta ruang baca. (tamat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here