Puisi, Media Online dan Persahabatan

1
204

oleh Nuranto, Ketua Yayasan Tembi Rumah Budaya

Puisi yang setiap hari Jumat ditayangkan di rubrik Sastra tembi.net dikumpulkan dan dibuat menjadi buku. Untuk edisi pertama yang akan di-launching di Sastra Bulan Purnama edisi 80, Jumat 4 Mei 2018 sudah disiapkan untuk terbit. Pengantar buku puisi yang diberi judul ‘Kepada Hujan di Bulan Purnama’ ditayangkan agar publik tahu, bahwa buku antologi puisi seri sastra tembi.net sudah disiapkan untuk terbit.

Saya melihat banyak puisi ditulis di media sosial. Satu hal yang tidak bisa dijumpai pada 15 tahun yang lalu, atau lebih-lebih era media cetak menjadi pilihan utama. Pada tahun 1970-an sampai tahun 1990-an, saya sering membaca puisi yang dimuat di rubrik sastra di media cetak. Bahkan sampai tahun 2000-an hal seperti itu masih sering dilakukan oleh para pecinta sastra, termasuk para penyair.

Publikasi puisi melalui media cetak sempat menjadi tren, dan semua penyair ‘menyerbu’ media cetak untuk mengirimkan puisi-puisinya. Selain itu, mereka sering saling bertemu, bertukar pikiran, diskusi soal sastra. Media cetak, seolah satu-satunya ruang untuk mempublikasikan puisi. Meski kita tahu, ada ruang lain yang bisa untuk menyampaikan puisi kepada publik, ialah ruang pembacaan puisi.

Namun, pembacaan puisi tidak harus di gedung, ada banyak pilihan yang bisa diambil. Contoh nyata, sejak awal Umbu Landu Paranggi sudah memiliki kesadaran, bahwa menyampaikan puisi kepada publik, termasuk bertukar pikiran, tidak harus di gedung, atau di ruang tertutup, tetapi bisa di trotoar. Maka, trotoar Malioboro di depan Hotel Garuda misalnya, Umbu bisa mengubahnya menjadi ruang pertemuan antarpenyair.

Atau juga, melakukan pembacaan puisi dengan mendatangi masyarakat di desa-desa, dan di ruang-ruang yang tersedia di desa. Umbu Landu Paranggi, bersama teman-temannya dari Persada Studi Klub bisa membacakan puisi di antara semilir pepohonan. Pendek kata, ada banyak pilihan ruang untuk menyampaikan puisi kepada publik, dan rubrik sastra di media cetak hanyalah salah satu dari sejumlah ruang yang bisa dipilih.

Karena media online semakin marak, dan jumlahnya cukup banyak, tentu melebihi dari jumlah media cetak. Data dari Dewan Pers (2017) terdapat sekitar 43.000 portal media online dan yang terdaftar di Dewan Pers baru sekitar 500. Saya rasa, media online dapat digunakan sebagai ruang lain untuk mempublikasikan karya sastra, dalam hal ini puisi, agar tersebar lebih luas, dan tidak dipagari oleh area geografis, seperti yang dialami media cetak. Koran lokal hanya tersebar di wilayah terbatas, Yogya misalnya, dan koran nasional tersebar di sejumlah kota. Meskipun dikotomi lokal nasional tidaklah tepat, tetapi hal seperti itu sudah lama menjadi kesadaran dalam diri pelaku media, bahkan termasuk pembaca surat kabar.

Melalui tembi.net, Tembi Rumah Budaya mencoba membuka rubrik Sastra, yang setiap minggu menampilkan satu penyair untuk ditayangkan puisi-puisinya. Tentu, ada seleksi dalam penayangan itu. Upaya ini untuk memberi pilihan ruang bagi para pecinta sastra.

Selama ini sudah sekitar 6 tahun Tembi Rumah Budaya, membuka ruang, yang dinamakan Sastra Bulan Purnama. Ruang ini setiap bulan memberikan tempat untuk pertunjukan sastra, dan setiap penyair dari berbagai daerah diberi kebebasan untuk menafsirkan puisi karyanya. Maka, di Sastra Bulan Purnama kita bisa melihat pembacaan puisi, musikalisasi puisi, lagu puisi, dramatisasi puisi, bahkan mengubah puisi menjadi satu pertunjukan monolog. Mereka, para penyair datang dari berbagai daerah, ada dari Magelang, Cilacap, Purwokerto, Depok, Surabaya, Solo, Sidoarjo, Mojokerto, Tulungagung, Kediri, Temanggung, Wonosobo, Bekasi, Jakarta, Lampung, Banjarmasin, Sulteng dan tentu dari Yogyakarta.

Namun demikian untuk penyair, buku puisi tetap tidak dapat ditinggalkan. Oleh karenanya, saya tahu itu, puisi-puisi yang sudah ditayangkan di rubrik Sastra tembi.net kami kumpulkan dalam satu bentuk antologi puisi dan diterbitkan dalam bentuk buku. Untuk seri pertama, antologi puisi ini diberi judul ‘Kepada Hujan di Bulan Purnama’. Pilihan judul ini diambil, terutama pada kalimat ‘Kepada Hujan’ dari puisi Krishna Miharja yang sudah ditayangkan, yang kemudian ditaruh dalam konteks Bulan Purnama, tajuk dari kegiatan Sastra Tembi Rumah Budaya, yang sudah berlangsung selama ini.

Sastra Bulan Purnama meski dalam musim hujan terus diselenggarakan. Hanya saja tempatnya memang tidak di ruang terbuka, sehingga walau hujan turun, dan sudah seringkali terjadi, pertunjukan sastra di Sastra Bulan Purnama tetap berlangsung. Kepada Hujan, Sastra Bulan Purnama selalu akrab. Karena saking akrabnya, terkadang di musin hujan, bulan purnama tampak, dan hujan tidak turun. Hujan yang penuh pengertian terhadap sastra.

Demikian pula pergaulan antara pecinta sastra dan penyair, saling terjalin dan akrab. Persahabatan penuh makna, dan persahabatan kemanusiaan. Maka, melalui puisi dan media online persahabatan itu perlu terus dijaga, dan kualitas persahabatan terus dikembangkan.

Pada edisi pertama seri sastra tembi.net ini, mudah-mudahan para penyair dan pecinta sastra terus menulis puisi, dan tembi.net membuka ruang untuk itu. (*)

1 KOMENTAR

  1. Senang sekali saya menyambut terbitnya antologi puisi ini. Terima kasih kepada Pak Ons Untoro yang memberi kesempatan pada puisi saya masuk dalam buku ini. Saya dari jauh merindukan purnama seperti merindukan rumah budaya tembi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here