Membaca Denah Bangunan Tembi Rumah Budaya (2)

0
52

Pada kanan dan kiri dalem ageng terdapat bangunan yang dinamakan gandhok kiwa dan gandhok tengen. Gandhok atau ruang/kamar di sisi kanan dan kiri dalem ageng biasanya digunakan untuk menempatkan anak-anak dari pemilik rumah. Gandhok kiwa untuk menempatkan anak perempuan dan gandhok tengen untuk menempatkan anak laki-laki.

Di belakang dalem ageng terdapat satu ruang/teras/emper/lorong yang dinamakan gadri. Gadri merupakan teras atau ruang di belakang dalem ageng yang umumnya difungsikan untuk tempat berkumpul keluarga sambil berbincang dan makan makanan ringan (teh dan camilan). Gadri ini kemudian disambungkan dengan bangunan lain yang terletak di belakangnya dan dinamakan bale kambang.

Bale Kambang adalah bangunan yang didirikan di atas air. Bale kambang di Tembi Rumah Budaya telah berubah wujudnya. Kolam untuk bale kambang sudah ditimbun karena kebutuhan ruang. Bangunan yang dulu dinamakan bale kambang telah difungsikan untuk ruang pertemuan (meeting) dan dibuat bertingkat (dua lantai).

Gandhok Kiwa Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono
Gandhok Kiwa Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono

Dapur atau pawon dari kompleks Tembi Rumah Budaya terletak di sisi kiri (timur) dari bale kambang. Hanya saja pawon tersebut pada saat ini telah diubah fungsinya menjadi ruang untuk latihan/kursus tari serta kamar mandi/WC. Sedangkan kebon mburi atau kebun belakang yang umumnya juga menjadi bagian dari kompleks bangunan rumah tradisional Jawa telah difungsikan menjadi perpustakaan, gudang, dan sedikit ruang untuk taman.

Kembali ke dalem ageng atau rumah induk, di dalamnya akan kita dapati pembagian ruang yang lazim di rumah tradisional Jawa, yakni senthong tengen (kamar kanan), senthong tengah yang sering disebut pasren atau patanen, dan senthong kiwa (kamar kiri).

Lawang Seketheng Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono
Lawang Seketheng Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono

Senthong tengen digunakan untuk tempat tidur dari sang empunya rumah (ayah dan ibu). Anak-anak yang sudah menginjak akil baliq tidak diperkenankan keluar masuk ke senthong tengen ini. Dengan demikian, senthong tengen memang menjadi semacam kamar atau ruang privat untuk ayah dan ibu.

Senthong tengah di Tembi Rumah Budaya tetap difungsikan seperti semula. Senthong tengah yang sering disebut pasren atau patanen ini dilengkapi dengan benda-benda atau barang yang lazim ada di dalam senthong tengah. Barang-barang tersebut di antaranya adalah tempat tidur lengkap dengan kasur dan gulingnya. Kasur bantal, dan guling ini diberi sarung dengan motif khusus yang disebut motif cindai/cinde. Seperti diketahui bahwa kain cinde berasal dari India yang pada masa lalu merupakan jenis kain yang mahal dan relatif langka sehingga hanya orang-orang berkedudukan tinggi sajalah yang mampu membelinya. Pemberian sarung bantal, guling, dan sprei dengan kain cinde pada pasren menunjukkan bahwa Dewi Sri begitu dihormati. Tempat tidur juga dilengkapi kelambu/tirai/langse.

Detail Pringgitan Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono
Detail Pringgitan Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono

Selain itu ada pula lampu minyak yang disebut jlupak, lampu sewu, kecohan (tempat ludah), dan ukiran berwujud burung garuda juga dipasang di atas dipan/tempat tidur. Ukiran berbentuk burung garuda ini menurut kepercayaan merupakan kendaraan Dewi Sri. Jadi Dewi Sri bisa setiap saat datang dan berbaring di tempat tidur di pasren dan juga bisa setiap saat pergi dengan mengendarai burung garuda. Kecohan memberi gambaran bahwa seolah-olah Dewi Sri mengunyah sirih. Kecohan disediakan untuk memberi wadah bagi ludah Dewi Sri sehabis mengunyah sirih.
(bersambung)

TINGGALKAN KOMENTAR