Membaca Denah Bangunan Tembi Rumah Budaya (1)

0
67
Tampilan depan Tembi Rumah Budaya dalam Google Earth
Tampilan depan Tembi Rumah Budaya dalam Google Earth

Kompleks Tembi Rumah Budaya, Bantul, dibuat berdasarkan denah rumah-rumah tradisional Jawa, yang ditandai dengan dua buah gapura dan pagar keliling. Rana/kelir yang umumnya dibangun di belakang gapura untuk Tembi Rumah Budaya memang ditiadakan dengan tujuan untuk memperlancar arus keluar masuknya orang/kendaraan. Pada sisi kanan depan dari kompleks bangunan terdapat sumur depan dan musala yang oleh karena kebutuhan ruang dan sempitnya lahan kemudian kedudukannya digeser ke belakang dan berada di sisi barat pendapa. Tapak yang untuk sumur dan musala depan itu kemudian digunakan untuk ATM sebuah bank.

Kuncungan Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono
Kuncungan Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono

Setelah orang memasuki Gerbang depan, maka akan sampai ke kuncungan yang menjadi ruang transit bagi kendaraan (dulu transit kereta kuda/andong). Dari sini orang kemudian melangkah masuk ke pendapa. Pada sisi belakang dari pendapa terdapat gebyog (dinding kayu panjang dan lebar serta berukir) yang dinamakan pringgitan. Nama pringgitan berasal dari kata ringgit yakni bentuk krama dari kata wayang. Sesuai dengan nama atau istilahnya, pringgitan memang digunakan untuk mementaskan wayang kulit.

Pada sisi timur dari pendapa terdapat ruangan yang difungsikan untuk gedogan (kandang kuda sekaligus tempat parkir andong/kereta kuda). Di Tembi apa yang dinamakan gedogan itu telah difungsikan untuk tempat parkir kendaraan bermesin.

Gapura sisi barat atau kanan dan kotak ATM yang menggantikan fungsi Sumur Depan-Foto-A.Sartono
Gapura sisi barat atau kanan dan kotak ATM yang menggantikan fungsi Sumur Depan-Foto-A.Sartono

Pada bagian belakang pringgitan terdapat ruangan yang menjadi semacam ruang pemisah antara pendapa dan pringgitan. Ruang tersebut disebut longkangan atau jaga satru. Ruangan pendapa memang ditempatkan di depan dan terpisah dari rumah induk atau dalem ageng (rumah inti). Pemisahan pendapa dengan dalem ageng selain ditandai dengan pringgitan dan longkangan, juga ditandai dengan adanya lawang seketheng.

Untuk kompleks bangunan Tembi Rumah Budaya lawang seketheng ini berjumlah dua buah, yakni di sisi kanan dan kiri pendapa bagian belakang. Lawang seketheng umumnya dibuat relatif sempit. Hal ini dimaksudkan untuk menegaskan pembagian ruang yang relatif terbuka (pendapa) dengan ruang atau area yang lebih privat (dalem ageng), gandhok, dan lain-lain.

Pendapa Tembi dengan latar belakang berupa Pringgitan-A.Sartono
Pendapa Tembi dengan latar belakang berupa Pringgitan-A.Sartono

Setelah melewati lawang seketheng orang pun akan memasuki ruang atau area yang lebih privat. Pada sisi tengah terdapat bangunan yang merupakan rumah induk atau dalem ageng. Dalem ageng ini di Tembi difungsikan sebagai museum. Di dalam dalem ageng ini terdapat pembagian ruang yang disebut senthong yang dalam bahasa umumnya dikenal dengan istilah kamar. Kamar ini dibagi menjadi tiga bagian, yakni senthong kiwa (kamar sebelah kiri), senthong tengah (kamar tengah), dan senthong tengen (kamar kanan).

Di Tembi Rumah Budaya senthong kiwa digunakan untuk memajang atau memamerkan alat-alat rumah tangga. Sedangkan senthong tengen digunakan untuk presentasi percontohan kamar tidur di masa lalu lengkap dengan dipan kayu berukir produksi awal abad ke-19. Sedangkan senthong tengah seperti umumnya di rumah-rumah tradisional Jawa, difungsikan sebagai pasren. Pasren berasal dari istilah atau kata Dewi Sri, Jadi, pasren digunakan untuk menghormati Dewi Sri selain digunakan untuk merenung atau bertafakur bagi sang pemilik rumah. (Bersambung)

TINGGALKAN KOMENTAR