Puisi Ummi Azzura Wijana

0
126

Layar Terkembang

Saat mata bicara, kubelajar
Ada karang. Bergeming dari hempasan badai
Ombak, tiada akhir mencumbu pasir di pantai

Di sana aku belajar
Kepakan camar yang tiada henti, tegar
Terhempas, menukik, lalu terbang kembali

Layar terkembang. Perahu tak diolengkan gelombang
Arah angin tak menyesatkan
Ada kejora dan rembulan mengiring jalan

Ia berbisik padaku: “Jangan sekali usik kedamaian.
Hatiku tertambat. Terikat kerinduan.”
Pasti pulang

Magelang, 08122017

Episode Pencarian

Di sela-sela rak buku
Pada lembar-lembar lusuh
Tak kutemu namamu yang
Pernah kucatat di buku harian

Di lorong-lorong
Betapa samar bayang-bayangmu
Isyarat yang kau kelebatkan
Serasa mimpi di ambang dini hari

Di sudut ruang tak berlentera
Hanya gelap, kucari-cari
Siapa gerangan yang mencuri hatiku
Namun alpa menutup pintu dan jendela

Serupa filsuf perindu hakikat, aku cari jejakmu
Hingga gunung menemukan selimut kabutnya
Hingga hulu sungai bersua dengan hilirnya
Hingga gelombang laut bersandar pada pantainya

Tertangkap seberkas jawaban
Tentangmu, wahai penyair
Juga sajak-sajakmu tentang cinta
Yang terukir pada karang jiwaku paling dasar

Manukan, 02112017

Mari Bicara

Sesekali mari kita ngopi, membiarkan
Koran dan lembar-lembar kertas senyap
Di rak buku pojok ruang tamu

Sesekali matikan dulu WA, Fesbuk, radio, dan tivi
Membiarkan mata memandang ke kejauhan
: Ada langit tak terbatas cakrawala

Kita bicara dan tertawa lepas
Terpingkal-pingkal hingga menyeka air mata
Hingg dada selapang padang

Mari bicara, bukan sebagai orang-orang yang
diombangambingkan gelombang zaman
Senasib sekawanan nahkoda kehilangan kompas

Berdebat di atas gelar tikar cinta
Serasa kita teramat dekat tanpa sekat
Mengristal tak terberaikan ruang dan waktu

Magelang, 11012018

Perempuan I

Sore ini aku datang ke rumahmu
Membawa anggur dan secangkir madu
Tinggal pilih apa kauingin
Selagi kautanam tanpa gulma

Konten Terkait:  Puisi Yanti S Sastro

Sebagai perempuan akulah Srikandi
Sekali warastra dijemparingkan
Bumi Panchala dalam satu aba-aba
Atas kuasa negeriku sendiri

Setiap perempuan adalah ratu
Tahu kapan mahkota disematkan, hingga
Menanggalkan jubah keakuan
Untuk disimpan di almari kaca

Magelang, 11012018

________
Catatan:
Warastra: panah

Perempuan II

Hujan sore sudah reda
Derasnya mengekal di batu-batu
Di pasir-pasir, dan tanah basah
Mengukir sejarah

Tengoklah sebentar
Bukalah kelambu-kelambu berdebu
Menjadi saksi pelangi
Mendendang lagu Adam dan Hawa

Habiskan madu di cawan
Cecap sepuas kaumampu, hingga
Adam bertandang dan memintamu
Sebagai ratu di istana kalbu

Magelang, 11012017

UMMI AZZURA WIJANA, mengenyam pendidikan terakhir di Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 2011. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, dan esai. Karya-karya puisi dan esainya dipublikasikan di Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Realitas, Magelang Ekspres,
Sabana, dll. Beberapa antologi kolektifnya: Puisi Penyair Lima Kota (2015), Pelangi Perempuan Negeri (2015), Di Antara Perempuan (2015), Puisi Menolak Korupsi 4 (2015), Puisi Menolak Korupsi 5 (2015), Jalan Remang Kesaksian (2015), Puisi Kampungan (2016), Memo Anti Terorisme (2016), Wajah Ibu (2016), Wajah Perempuan (2016), Bukan Perempuan (2017), Senja Bersastra di Malioboro I (2017), dll.

Ia meraih juara I dalam Lomba Cipta Puisi Merah Putih, Kompasiana (RTC, 2015). Meraih juara I dalam Lomba Cipta PuisiElegi, Fiksiana, ComunityKompasiana (2015). Meraih juara II dalam LombaMenulis Save Pahingan (2017). Aktif pada berbagai komunitas sastra, antara lain: Sastra Bukit Berbintang Gunungkidul, Forum Kilometer Nol Magelang, dll.

Ummi aktif mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMKN) Negeri, Magelang. Lahir di Semanu, Gunungkidul, 14 Agustus 1980. Tinggal di Dukuh I No. 16, Magelang, Magelang Tengah, Magelang, Jawa Tengah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here