Mengintip Keindahan Bawah Laut Melalui Kamera

0
110
Salah satu homestay di Kampung Aisandani, Distrik Teluk Dairi, Kabupaten Teluk Wondana, Papua Barat, 12 Agustus 2017, karya Muhammad Hilmi Faiq. Foto: A. Sartono
Salah satu homestay di Kampung Aisandani, Distrik Teluk Dairi, Kabupaten Teluk Wondana, Papua Barat, 12 Agustus 2017, karya Muhammad Hilmi Faiq. Foto: A. Sartono

Indonesia dikenal sebagai negara bahari yang memiliki kekayaan dan keindahan dasar laut yang luar biasa. Terumbu karang adalah salah satunya. Belum banyak perorangan atau lembaga tertentu yang melakukan penjelajahan akan terumbu karang di perairan Indonesia dan kemudian menyajikannya kepada publik. Harian Kompas salah satu harian yang boleh dikatakan melakukan terobosan pada hal itu.

Akhir Juli-akhir Oktober 2017 secara khusus Harian Kompas melakukan pliputan khusus Jelajah Terumbu Karang di delapan lokasi, yakni Jailolo, Teluk Cenderawasih, Komodo, Selat Lembeh, Wakatobi, Raja Ampat, Selayar, dan Bali. Liputan tersebut telah diturunkan dalam laporan jurnalistik berseri setiap hari Rabu mulai 8 November-27 Desember 2017. Jelajah terumbu karang itu melibatkan enam fotografer bawah laut, yakni Ferganata Indra Riatmoko, Harry Susilo, Heru Sri Kuncoro, Ichwan Susanto, dan Muhammad Hilmi Faiq.

Karya-karya foto dari enam fotografer yangberjumlah 60-an kemudian dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta pada 26 Maret -1 April 2018. Ada pun tema yang digunakan untuk membingkai pameran ini adalah Pameran Foto Jelajah Terumbu Karang ‘Laut Kita, Ibu Kita.” Pameran dibuka oleh Heroe Poerwadi (wawali Yogyakarta). Pameran foto juga dilengkapi dengan diskusi bertema Menyelami Keindahan Bawah Laut Nusantara dengan narasumber Budi Agung Darmawan (instruktur selam Sentra Selam) dan Ferganata Indra Riatmoko (fotografer Kompas).

Ikan mandarin difoto di tetik penyelaman Biaqnca, Selat Lembeh, Sulawesi Utara, 12 September 2017, karya Ingki Rinaldi. Foto: A. Sartono
Ikan mandarin difoto di tetik penyelaman Biaqnca, Selat Lembeh, Sulawesi Utara, 12 September 2017, karya Ingki Rinaldi. Foto: A. Sartono

Pameran foto itu membuka mata publik tentang keindahan dan kekayaan bawah laut Indonesia yang nyaris tidak pernah dilihat oleh awam. Pada sisi lain pameran foto ini juga menyuguhkan kondisi dan suasana sosial kemasyarakatan di seputar titik jelajah terumbu karang. Dengan demikian publik seakan diajak untuk di samping menikmati keindahan alam bawah laut, juga memperhatikan, berempati, dan membantu saudara setanah air yang kondisi sosial ekonominya relatif masih tertinggal dari tempat lain.

Konten Terkait:  Inspirasi Daun Atas Tas Kulit Rancangan Krisna Wahyudi M
Ekor Paus, difoto di Kawasan Tridacna Reef, Kecamatan Teluk Wondana, Provinsi Papua Barat, Taman Nasional Cenderawasih, 11 Agustus 2017, karya Ferganata Indra Riatmoko - Foto: A. Sartono
Ekor Paus, difoto di Kawasan Tridacna Reef, Kecamatan Teluk Wondana, Provinsi Papua Barat, Taman Nasional Cenderawasih, 11 Agustus 2017, karya Ferganata Indra Riatmoko – Foto: A. Sartono

Kekayaan dan keindahan laut kita ini di samping memberikan rasa takjub, kagum, pada sisi sisi lain juga menyodorkan pekerjaan rumah karena Indonesia yang boleh menyebut diri sebagai segitiga terumbu karang dunia ini menyimpan banyak misteri yang belum terjawab. Selain itu, kepedulian terhadap keberadaannya relatif masih sedikit. Ancaman akan kerusakannya senantiasa mengintai.

Apa yang dilakukan Harian Kompas sebagai salah satu bentuk jawaban akan kebutuhan dan harapan pembaca agar Kompas berperan lebih dengan menyuguhkan keindahan bawah laut. Tujuannya agar dapat memberikan penyadaran bagi masyarakat. Diskusi yang dilakukan berkait dengan hal ini menajamkan harapan dan tujuan itu. Dari diskusi yang dilakukan Selasa malam 27 Maret 2018 itu publik yang hadir yang mayoritas adalah anak muda menjadi terinspirasi, termotivasi, untuk mengenal fotografi bawah air.

Suasana Desa Komodo, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, 1 September 2017, karya Heru Sri Kumoro. Foto: A. Sartono
Suasana Desa Komodo, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, 1 September 2017, karya Heru Sri Kumoro. Foto: A. Sartono

Pada diskusi itu pula mereka menjadi mengerti bahwa bekal untuk menjadi fotografer bawah air tidaklah ringan. Sekalipun demikian, hal itu memang menantang, mengingat ada banyak hal menarik di bawah air (laut). Bagi orang-orang yang bermental petualang, penjelajah, dan penemu apa yang disajikan dengan pameran foto dan diskusi mengenai keindahan bawah laut itu adalah misteri yang menjanjikan pengalaman yang luar biasa. Untuk menuju ke sana tentu diperlukan “bekal” berupa riset, pengetahuan, pelatihan pengalaman, kewaspadaan, dan tentu keberanian. (*)

Siput Laut difoto di Kelapa Dua, Selat Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara, 13 September 2017, karya Ichwan Susanto. Foto: A. Sartono
Siput Laut difoto di Kelapa Dua, Selat Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara, 13 September 2017, karya Ichwan Susanto. Foto: A. Sartono

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here