Menikmati Teater Ongkek dalam Lakon Gendruwo Wuyung

0
260

Dapat dikatakan bahwa tahun 1980-an merupakan tahun kebangkitan ketoprak dengan berbagai ragam dan banyaknya grup ketoprak. Namun hal itu tidak dibarengi dengan pelibatan generasi muda. Oleh karena itu pada tanggal 8 September 1982 seniman-seniman tradisi termasuk Nano Asmorondono mencoba untuk membentuk warna lain dari dunia ketoprak yang disebut Teater Ongkek.

Teater Ongkek berpijak pada tradisi ketoprak barangan (ngamen) yang pada tahun 1926-1927 cukup marak dan yang kemudian disebut sebagai ketoprak ongkek. Nama teater sengaja dimasukkan di situ dengan tujuan agar lebih leluasa dalam mengkreasikan ketoprak dan agar lebih memberikan imajinasi kekinian, mengangkat ceita-cerita yang populis, dan dengan demikian semakin menarik generasi muda.

Ada yang khas dari teater ongkek ini, yakni semua pemain memperkenalkan nama dirinya kepada penonton dan juga menyebutkan peran apa yang dimainkannya. Selain itu, pemain berinteraksi langsung dengan penonton. Di tengah permainan akan ada petugas yang mengedarkan tambir/tampah untuk memohon saweran dari penonton.

Gendruwo yang ketahuan perbuatan jahatnya tetap mengancam untuk mengganggu manusia. Foto: A. Sartono
Gendruwo yang ketahuan perbuatan jahatnya tetap mengancam untuk mengganggu manusia. Foto: A. Sartono

Hal itulah yang dilakukan juga oleh Teater Ongkek Yogyakarta yang bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinas kebudayaan DIY) dalam pementasan dengan lakon Gendruwo Wuyung (Gendruwo Jatuh Cinta) di Gedung Societet Militaire, Sabtu malam, 28 Maret 2018. Naskah lakon ditulis oleh Nano Asmorondono, sutradara Ari Purnomo, pimpinan produksi Novi Kalur, penata iringan Den Eko, Rrias dan kostum Adriyanto, dan penata tari Isma Imung.

Bermani bingung menentukan Bermana asli sebagai suaminya. Foto: A.Sartono
Bermani bingung menentukan Bermana asli sebagai suaminya. Foto: A.Sartono

Lakon Gendruwo Wuyung sebenarnya berbasis pada cerita Bermana Kembar atau Bermana Bermani yang sering dimainkan dalam pentas ketoprak. Cerita itu berbasis pada cerita serial Anglingdarma. Namun ada yang berbeda dengan lakon Gendruwo Wuyung versi Teater Ongkek ini karena hampir seluruh adegan diwarnai dengan kekonyolan, banyolan, atau lawakan yang selalu meledakkan tawa penonton. Hadirnya para pelawak seperti Sugeng Iwak Bandeng, Aldo Iwak Kebo, Rio Srundeng, dan Novi Kalur menjadikan gelak tawa oleh mereka menjadi daya pikat tersendiri.

Kehadiran Novi Kalur, Aldo Iwak Kebo, dan Rio Srundeng ikut mengocok perut penonton. Foto: A. Sartono
Kehadiran Novi Kalur, Aldo Iwak Kebo, dan Rio Srundeng ikut mengocok perut penonton. Foto: A. Sartono

Adegan diawali dengan penjelasan ihwal cerita kemudian disusul tampilnya keluarga Raja Tongtongsot-Wewe Gombel yang mempunyai anak seorang Gendruwo. Gendruwo ingin beristrikan manusia tetapi dicegah oleh orang tuanya, namun Gendruwo nekad dengan alasan untuk memperbaiki keturunan. Selain itu, Buto Hoax dan Buto Jimpitan sebagai anak buah Raja Tongtongsot beroperasi untuk menyebarkan isu agar dunia manusia penuh hasutan, fitnah, hujatan, dan kacau.

Pada sisi lain Dewi Anggorowati putri dari Prabu Darmawasesa-Dewi Perwitasari dilamar oleh banyak raja namun menolak. Di tengah acara demikian Gendruwo bersalin wujud menjadi Bermana palsu dan menggoda istri Bermana asli yang bernama Bermani ketika Bermana asli pergi mencari lebah madu. Ketika Bermana asli datang dan mengetahui Bermani bercengkerama dengan Bermana palsu terkejut dan terjadilah pertikaian antara mereka. Lurah desa tidak mampu mengatasi persoalan ini dan akhirnya dibawa ke hadapan Prabu Darmawasesa. Para pelamar dan semua orang di istana Bojonegoro tidak ada yang dapat mengatasi persoalan ini.

Prabu Darmasraya, permaisuri, dan Dewi Anggorowati. Foto: A. Sartono
Prabu Darmasraya, permaisuri, dan Dewi Anggorowati. Foto: A. Sartono

Akhirnya muncullah seorang pendeta yang bernama Resi Putut Jatiwasesa. Ia menyatakan diri sanggup mengatasi persoalan itu dengan meminta masing-masing Bermana masuk ke dalam kendi. Bermana asli tidak mampu melakukannya, sedangkan Bermana palsu bisa melakukannya. Bermana palsu yang sudah masuk ke dalam kendi kemudian ditutup oleh Resi Putut Jatiwasesa. Bermana palsu terjebak di dalam kendi. Bermana asli kembali bersatu dengan Bermani. Sedangkan Putut Jatiwasesa menyatakan dirinya bahwa sesungguhnya ia adalah Prabu Anglingdarma. Oleh karena semua jasanya Prabu Anglingdarma dijodohkan dengan Dewi Anggorowati. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here