Puisi Purwadmadi

0
128

Penghambaan Amba

amba, tungging tapa
sejari sangga
menanti
embun tetes
seserah segores.

amba, sulaya tega
bargawa rama
tarung bisma
tanajal jumpa.

amba, nelangsa laya
alir kali, serah raga
paras rupa, perlawanan
sisa.

dewabrata
salva
bargawa
pada bilah mana
purusa cinta
meletak.

amba, smarakembara
pada angin dan
segala ingin
urus diri
kuras air mata
di comberan pelupuk
cinta purna sang perajuk.

tak cukup
perisistri aku
pada telinga cinta.
tak cukup
peristri aku
pada purusa laga.
kerna cinta
bukan di tangkur
asmaragita.

aku merajuk
pada setumpuk
cintamu tak bertajuk.

Yk.01.01.2018

Kemayaan Ismaya

Hyang Ismaya, semayanya maya
penggenap dewa, pilih ngejawantah
sebab menjadi manusia tak berbantah
tentang kebenaran. Tak berbenah
tentang kesalahan. Saat kebenaran
tetap, kesalahan berulang. Tak ada
belajar pada semua yang lewat
pada semua yang singgah
saat jadi tuan rumah atau pelawat
tanpa beda kandang dan tandang.

Hyang Ismaya, senyatanya nyata
penggenap dewa, pilih nyamar manusia
sebab manusia tidak pernah bisa
keras pada diri sendiri
mengumpat ke dalam hati. Saat
segala telah lewat, serapah
sumpah serba terlambat
dan rela menyesal. Rela menyesal.

Hyang Ismaya, dewa yang menghamba
hamba yang mendewa. Samar wujudnya
semar sebutannya. Dipercaya
muara labuh, bertambat sauh
dan jangkar kehidupan. Sumur bagi
petimba pengertian, pengangsu kawruh
kesejatian. Tak ada kebenaran tertampik
ketika kesamaran satu-satunya,
kenyataan.

Hyang Ismaya, antara ada dan tiada
bukan kehampaaan. Ada tanpa
keadaan. Ada tanpa semayam. Ada
tanpa kediaman. Andaipun bersurat,
musti tanpa alamat.

Adanya dalam ketiadaan. Tiadanya
dalam keadaan.

Yk.09.01.2018

Wayang Indonesia

andaikan wayang itu Indonesia, negeri tertatah
untuk disungging warna-warni cahaya
untuk digapit dirakit terjepit kukuh kokoh
untuk dimainkan sesukanya, sebisanya
semau-maunya. Siapa bisa larang?

andaikan wayang itu Indonesia, negeri lakon
untuk dimainkan sesukanya
sebisanya. Untuk melakonkan begitu banyak
cerita dengan ribuan pelaku
dan karakternya. Untuk didalangkan
oleh pendalang sedapatnya. Siapa
bisa larang?

Konten Terkait:  Puisi Heru Mugiarso

andaikan wayang itu Indonesia, negeri joget
untuk mengikuti kendang dalam ragam irama
untuk menyertai iringan dalam segala dinamika
untuk berjoget sekehendak model gaya
yang sesukanya semaunya. Siapa
bisa larang?

Andaikan wayang itu Indonesia, negeri bekelir
dalang dan tangan-tangannya
dalang dan suara-suaranya
dalang dan tembang-tembangnya
dalang dan cerita-ceritanya
penuh kuasa, menggerakkan menggentarkan
menggetarkan pakeliran penuh limbuk dan lawakan
sekenanya, sesampainya, seadanya
yang penting gumyak gayeng. Siapa
bisa larang?

Andaikan Indonesia itu wayang, negeri krisis
karena kesulitan mendapatkan dalangnya.
Andaikan Indonesia itu wayang, negeri miskin
dimana wayang tak bisa menghidupi dirinya.
Akan kemanakah wayang? Sana, tanya kepada
Indonesia. Akan kemanakah Indonesia?
Sana, tanyakan pada wayang.
Andaikan Indonesia bukan wayang,
kita bisa apa?

Yk.09.01.2018

Paguyuban Wartawan Sepuh

Jaladara, pertapa sepuh
meraba zaman
lewat helai
helai jenggot
putihnya.

Abiyasa, pertapa sepuh
memindai kehidupan
dari angin, awan, dan hawa
yang mengkingkupi
serta suara-suara
burung
pagi-sore.

Mayangkara, pertapa sepuh
menyawang puncak Mahenaka
dengan keheningan hati
adakah polusi hawa Rahwana
menghinggapi hati
manusia?

Maswapati, raja sepuh
menelisik zaman
lewat binar mata
cucu dan buyutnya
lengkap
menghadapnya.

Drupada, raja sepuh
menyusup hati waktu
dalam renung batin
isteri-isteri kesatriya
tentang maru
dan putra mahkota.

Oka Kusumayudha, pewarta sepuh
melihat zaman menakar keadaan
dari ceruk batin dan ucapan
kawan-kawan yuniornya.
Menghela zaman, dari lapang
penggembalaan
persaudaraan
menyetara.

Yk. 06.01.2018

Purwadmadi, lahir 26 Maret 1960 di Gunungkidul, menamatkan S1 Bahasa dan Sastra Indonesia FKSS IKIP Negeri Yogyakarta, sekarang FBS UNY. Ia menulis puisi, geguritan, cerpen, cerkak (cerita cekak, cerita pendek dalam bahasa Jawa), cerita anak dan novel. Novelnya yang sudah terbit di antaranya ‘Larakan”, ‘Laskar Sabrang’ dan sejumlah antologi puisi, geguritan dan cerkak.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here