Kritikan Halus Ala Ki Hadjar Dewantara yang Berunjung Bui

0
329
Sosok tokoh KHD-foto-suwandi
Sosok tokoh KHD-foto-suwandi

Museum adalah tempat untuk belajar masa lalu dan mengambil hikmahnya untuk masa kini. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik untuk menjadikan kita lebih bijak, salah satunya ketika kita berkunjung ke Museum Dewantara Kirti Griya (DKG) Tamansiswa Yogyakarta. Di tempat ini kita mengenal banyak koleksi pribadi dari tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD). Biar pun orangnya pandai, banyak pengetahuan dan mengenyam pendidikan Barat, tidak berarti KHD bisa berbuat seenaknya sendiri.

Baju KHD saat di penjara Pekalongan-foto-suwandi
Baju KHD saat di penjara Pekalongan-foto-suwandi

Ketika itu kehidupan KHD berada di masa penjajahan Hindia Belanda. Ada kalanya, Belanda menerapkan kebijakan-kebijakan yang kontroversial, terutama yang berkaitan dengan para warga pribumi. Satu di antaranya, ketika pemerintah Belanda pada tahun 1913 hendak merayakan 100 tahun kemerdekaan Negeri Belanda lepas dari penjajahan Perancis. Perayaan itu juga akan digelar di tanah jajahan Indonesia, dan Belanda menarik biaya dari para pribumi untuk merayakannya. Aneh bukan?

Patung dada KHD di kompleks Tamansiswa Yogyakarta-foto-suwandi
Patung dada KHD di kompleks Tamansiswa Yogyakarta-foto-suwandi

KHD tidak setuju dengan kebijakan itu. Lalu beliau mengritik pemerintahan Hindia Belanda dengan cara halus sesuai dengan adat budaya ketimuran. Kritik itu ia tulis dalam bahasa Belanda yang diterbitkan surat kabar Belanda bernama “De Express”. Artikel itu diberi judul “Als ik een Nederlander was”, yang artinya kurang lebih jika aku seorang Belanda. Inti dari artikel itu adalah apabila KHD menjadi seorang Belanda, ia tidak akan merayakan kemerdekaan di negeri jajahannya dengan menarik biaya dari warga pribumi.

Sosok tokoh KHD dan istri-foto-suwandi
Sosok tokoh KHD dan istri-foto-suwandi

Kritikannya itu benar-benar ditulis dengan bahasa dan nada yang sopan. Namun, di mata Belanda, kritikan KHD itu dianggap sangat pedas dan menghina pemerintahan Belanda. Atas tulisannya itu, kemudian KHD dituduh telah menghina Belanda dan menimbulkan rasa permusuhan. Tidak lama kemudian KHD dijebloskan ke penjara di Pekalongan. Namun KHD tidak gentar. Ia dipenjara selama beberapa tahun. Bahkan baju saat dipakai di penjara itu kini masih tersimpan baik di Museum DKG.

Konten Terkait:  Novel New Urban Sensation Potret Penggalan Zaman, Sejarah dan Modernitas

Dari peristiwa itu, tentunya kita bisa belajar bahwa menyuarakan keadilan, atau kebenaran terkadang berisiko di penjara atau malah dibunuh. Namun, tetap saja ada orang yang berani menempuh risiko itu. Merekalah para pahlawan, dan museum menjadi salah satu tempat untuk mengenal para pahlawan itu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here