Puisi: Rismudji Rahardjo

0
132

Niclodeon

Hanya sekedar niclodeon
Yang melukis sebuah tangga
Lalu menuruninya
Ia kemudian tiba di sebuah
Gua persembunyian

Ia bisa lari dari dunia nyata
Merenung dan berfikir
Ia melukis pelangi
Ia melayang ke hijau
Kuning, jingga, biru

Dengan pelangi
Ia lebih bisa mewarnai dunia
Niclo bisa melukis pohon
Melukis gunung, air terjun

Bahkan melukis laron
Lalu mengendarainya
Terbang ke relungrelung
Gelap lalu ke cahaya terang

Niclo menemukan papan tulis
Melukis ayunan dengan warna emas
Ia menaiki dan angin mendorongnya
Niclo terlontar dan tiba
Di lautan dengan ombak yang besar

Jump the wave, ia melompat
Menaiki ombak dengan
Papan selancarnya
Serasa niclo bayangmu
Sedang aku melukis senyum pun
Selalu salah warna.

Jan, 2018

Kita Saling Bicara

Tak perlu kau gugup
Bedakan raung kucing di dalam
Dengan lembut angim di luar
Di kisi-kisi jendela

Diam-diam aku meninggalkan
Batas pagi dengan sunyi
Dengan kerah jaket
Yang semakin tinggi di leherku

Tak perlu kau gugup lagi
Ada yang datang dari seberang
Hanya butuh keheningan
Untuk kita saling bicara

Pada segala yang hadir
Jangan lukai aku
Dengan gelap dan samarmu.

Januari, 2018

Malam Pertemuan

Di antara tidur dan jagaku
Sekilat saja datangmu
Sepercik saja terangmu
Berdenyar sampai di dekapku

Datangmu di larut malam
Ketika mataku setengah pejam
Hanya berdetik kesimaku
Kusesali ketergesaanmu

Tak perlu tersisa tanya
Kukenali kau dari jejakmu
Yang mengkristal di kepalaku
Yang menjadi kekal
Di dadaku.

Januari, 2018

Rismudji Rahardjo, lahir di Yogyakarta, 23 Desember 1949 mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Publisistik (STP) Jakarta, angkatan 1977. Sambil kuliah, jadi penulis freelance, terutama karya sastra: puisi, cerpen, kritik sastra. Ikut aktif bergabung di Bengkel Sastra Ibukota. Tahun1982 jadi wartawan film di Group Ria Film, Majalah Mahkota, bantu teman bikin kumpulan cerpen hingga 1985. Tahun 1986 sempat di Majalah LARAS, kemudian pindah ke majalah kesehatan SARTIKA. Baru kemudian awal 90-an, bergabung dengan Keluarga Kompas Gramedia (KKG). Awalnya jadi redaktur bahasa di majalah ANGKASA, tapi hanya setahun. Kemudian (masih di KKG) berpindah meja di majalah Trend dan Perilaku TIARA, hingga ditutup pada tahun 1998. Masih Gramedia, kemudian turut membantu Gramedia Majalah Online. Tahun 2002, dalam usia jelang pensiun, mundur dari Gramedia kembali menekuni dunia sastra dan penulisan kreatif lainnya hingga kini.

Konten Terkait:  Puisi Daruz Armedian

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here